Ketika ‘Ngawur’ Menjadi Solusi

’Ngawur Karena Benar’ bukan saja sebuah buku, tapi juga cara pandang. Begitu menurut si penulis, Sudjiwo Tedjo, dalam bedah bukunya kemarin malam di Togamas Affandi (Gejayan), Yogyakarta. Acara yang gayeng, tapi juga mendalam.

Di awal bedah buku yang begitu terasa sebagai diskusi ini, Mbah Tedjo membuka dengan pandangan tentang ketidakpercayaannya akan sejarah Indonesia yang dari dulu banyak disebut. “Saya nggak percaya Indonesia dijajah 300 tahun. Saya nggak punya data sejarah, tapi saya lihat orang-orang ini lapar senang, nggak lapar juga senang. Orang-orang kayak gitu… nggak mudah ditaklukkan sebenarnya,” ujarnya yang disambut gerr hadirin. “Saya feeling aja gitu, saya memang nggak punya data sejarah. Dan ternyata akhir-akhir ini muncul juga penemuan peneliti sejarah bahwa sebenarnya kita ini sengsara dijajah hanya sekitar 40an tahun. Yang lama penjajahannya itu di kraton-kraton, kerajaan-kerajaan…,” lanjutnya.

Mbah Tedjo melanjutkan, kalau saja dari dulu kita di Lanjut membaca

Serunya Soft Launching “Laskar Pelangi Song Book”

Kalau ada Laskar Pelangi Song Book, apakah akan ada juga Song Book untuk Sang Pemimpi – Edensor – Maryamah Karpov?

Selain track-track lagu, apa bedanya kisah Laskar Pelangi yang novel dengan Laskar Pelangi Song Book?

Dua pertanyaan itu yang sebenarnya aku siapkan ketika Pak Salman Faridi (CEO Bentang Pustaka) yang memandu acara meminta hadirin menyiapkan pertanyaan untuk Andrea Hirata, tapi ternyata sesi tanya jawab tidak ada sampai akhir acara. ;)

Cukup gayeng juga acara soft launching Laskar Pelangi Song Book (LPSB) di toko buku Togamas Gejayan, Yogyakarta, beberapa saat tadi. Sang penulis, Andrea Hirata hadir ditemani penyanyi new comer, Meda. Menurut Andrea pula, paradigma tentang bincang sastra harus diubah, bincang sastra itu harus fun, harus menyenangkan.

Yang aku tangkap, LPSB ini sebuah buku berlatar kisah Laskar Pelangi dengan CD berisi 6 track lagu ciptaan Andrea Hirata sendiri. Maka menarik ketika Andrea bersama Meda menyanyikan beberapa lagu dari LPSB. Andrea main gitar, Meda yang nyanyi. Lagu-lagunya jauh lebih enak didengar daripada lagu-lagu Andrea yang ada di buku Sebelas Patriot (yang menurutku lebih terasa dipaksakan).

“Saya tidak ingin jadi musisi, ini hanya hobby.”, begitu ujar Andrea menekankan di awal. Sempat juga ia menyebut bahwa ada yang menanyakan padanya ‘download lagunya di mana, kak?’. :D Maka beberapa kali Andrea mengajak pembaca untuk jangan beli karya bajakan.

6 track lagu dalam LPSB adalah lagu-lagu yang jadi soundtrack serial Laskar Pelangi yang sempat tayang di salah satu stasiun TV swasta. Dinyanyikan oleh Meda dan Cut Niken.

Di tengah acara ada juga Lanjut membaca

Tiada Polantas, Pemuda Jalanan pun Jadi

Bila mata anda masih jeli melihat foto-foto di bawah ini, pasti anda tidak melihat adanya petugas berseragam yang mengatur lalu lintas. Yah, saya maklum karena ini jam sore yang mana daripada (mungkin) sudah diluar jam kerja mereka.

Rasanya itu judul di atas yang tepat untuk menggambarkan apa yang aku temui tadi sore.

Cuaca agak mendung tadi sore, pulang agak terburu-buru biar tidak kehujanan. Waktu Pulang dari kampus lewat perempatan Sagan dekat UGM ada hal yang tidak biasa kulihat.

Berhenti di traffic light, aku perhatikan kok lampunya merahnya mati? Tapi kendaraan bisa berhenti semua. Ternyata di Lanjut membaca

Tanda Nyata

Menangkap jejak sunset di kampus tadi sore. Sunset, bukankah padanya terdapat tanda bagi orang yang berpikir? ;)

Nikmatnya Ayam Sebelah Kampus

Baru kali ini rasanya makan di warung bermenu utama ayam goreng tapi pedas sambalnya muuuaaaannteeeeeeeeeppp…!!! :D

Pesan nasi + ayam goreng gepuk (dipukul dan diberi sambal di atasnya). Ternyata pas pesanan siap dimakan, sambalnya lombok hijau! Kesukaanku :D

Nasi panas + ayam anget, nggak taunya pedas sambelnya…. TOP!!! :D

Nasi Panas & Ayam Goreng Sambel Ijo feat. Es Teh

Beruntung ada tepat di sebelah parkiran kampus, dekat kost teman ;)

Ingat ya, Lanjut membaca

Plat AB Rasa Bali

Beberapa hari lalu di parkiran kampus, ada yang begitu unik yang baru pertama kali kutemui di Jogja. Rarapan di sepeda motor. Ya, semacam sesajian yang diselipkan di balik plat nomor kendaraan, seringnya sih aku lihat di motor.

Kenapa tadi kusebut unik? Karena sesajian yang diselipkan di plat nomor motor itu sering kutemui waktu tinggal tugas kerja di Bali beberapa tahun lalu :) Peletakan sesajian macam itu dilakukan oleh umat Hindu.

Unik, karena baru kali itu aku lihat sesajian diselipkan di belakang plat AB, bukan di plat DK kendaraan Bali umumnya :D

Sudah agak kering sesajian di plat AB itu waktu kutemui, tapi masih keliatan agak baru, mungkin baru beberapa hari. Untung nggak kucium gimana baunya. Kalau sampai aku cium baunya, pasti jadinya ingat banyak hal waktu tinggal di Bali. Ingat waktu jalan-jalan keliling Bali, waktu cari jajan buka puasa pas menjelang maghrib, waktu jalan-jalan ke Taman Ujung Karangasem. Tapi mungkin juga malah bisa mengakselerasi proses penulisan naskah novelku :D

Waktu aku ambil foto-foto ini, salah seorang mahasiswa yang kebetulan di dekatku mau menyalakan motornya sempat tanya ke aku Lanjut membaca

Merapi + Kuliah Pagi = Sesuatu

Ada yang bikin hari ini cukup berkesan. Karena dua hal alasan utamanya: kuliah pagi dan Gunung Merapi. Akhirnya aku hadir lagi di kuliah mahapagi.

Ya, masuk kuliah jam 07.00 WIB buatku termasuk ‘terlalu pagi’ :D Jumlah kehadiranku di kelas teori mata kuliah Pemrograman Web dapat dihitung dengan jari satu tangan saja, itupun masih ada sisanya :D (buka aib…).

Kalau tadi malam sampai pagi aku nggak ada di depan komputer, nggak tau jadinya apa bakal ikut kuliah pagi ini. Begadang bikin modelling 3D rupanya bikin aku betah berlama-lama di depan komputer.

Agak gimana gitu rasanya waktu sampai di kampus masih ada kabut tipis di parkiran kendaraan. Baru nyadar kalo ini suasana kuliah pagi (halah…) :D

Peserta kuliah yang “seadanya” dan dosen yang mempersiapkan materi.

Begitu masuk kelas, lebih amazing lagi suasananya. Teman sekelas baru datang 8 orang! (aib bersama ininamanya… :D ). Kendati akhirnya satu persatu datang peserta kuliah yang kira-kira jumlahnya jadi 30an orang, tapi di presensi kehadiran tercatat 40an orang. (lagi-lagi aib…)

Menarik ketika udara di Utara cukup cerah. Ruang kelas yang berada di sisi tepi gedung unit V, memberi warna tersendiri ketika dari jendela tampak jelas si anggun nan misterius: Gunung Merapi. Satu ketertarikan sendiri buatku tiap melihat Merapi, jadilah ambil duduk di dekat jendela ;)

Aku, Merapi dan Kuliah Pagi…

Di belakang Merapi Merbabu dengan tenangnya berdiri. Dan di beberapa bagian mata angin lain dapat kulihat juga Lanjut membaca

M2M

Beberapa hari ini lagi pengen aja dengar lagu-lagunya M2M. Kabar terakhir sih dulu aku dengar udah bubar ini duo. Emang enak paduan vokal + aransemennya ya. Nyimak beberapa lagu M2M ini yang ada aransemen akustiknya jadi ingat sama aransemen akustiknya Taylor Swift :)

Gambar

“Menangkap” Gunung-gunung Berterbangan dari Puncak Suroloyo

Yang sempat aku pikirkan dari kemarin, hari ini mendapat tanggapan juga di koran. Ini tentang “menangkap” gunung yang berterbangan, satu pandangan yang aku tangkap setelah main ke Puncak Suroloyo minggu lalu. Di bawah nanti ada sedikit capture dari koran yang kubaca hari ini (Rabu, 2 Mei 2012).

aku, Merapi & Merbabu - @Puncak Suroloyo

Beberapa hari setelah main ke Puncak Suroloyo dan melihat gunung-gunung di tanah Jawa sejauh mata memandang, aku jadi ingat salah satu guruku waktu kelas 3 SD di Surabaya dulu, Pak Sulaiman. Ketika itu beliau membicarakan gunung-gunung yang berterbangan seperti rama-rama atau kapas, kapas yang dihambur-hamburkan.

Waktu kaki sudah benar-benar mapan menginjak Puncak Suroloyo, yang jadi perhatianku pertama kali adalah puncak Gunung Merapi yang tampak begitu rusak pasca erupsi 2010 lalu. Dinding luar kawahnya pecah-pecah sepert baru saja mendapat tembakan keras dari dalam. Coba bayangkan lembaran logam yang berlubang karena ditembus benda keras, kondisi lingkar lubang itulah yang kira-kira terjadi pada puncak Merapi.

Puncak Merapi yang kutangkap dari Puncak Suroloyo

Selain memperhatikan Merapi, di sebelah Merapi ada Gunung Merbabu, lalu tampak beberapa puncak gunung lainnya yang bisa dijangkau mata di Puncak Suroloyo.

Setelah mengurai ingatan tentang gunung berterbangan Pak Sulaiman itu seketika ingatanku ke Suroloyo yang bisa melihat gunung-gunung dari situ. Coba kamu bayangkan, seperti apa kira-kira gunung yang berterbangan itu? Apakah bentuk kerucut besar gunung itu seketika melayang dari tanah? Masa iya sih begitu? Kayaknya sih kurang logis untuk jangkauan pikir manusia.

Waktu Pak Sulaiman menerangkan gunung berterbangan itu, yang kupikirkan yaitu gunung dalam bentuk segitiga kerucut itu melompat-lompat terbang. Pikiran polos anak SD… :D

Coba disimak, ini cuplikan yang waktu itu diterangkan Pak Sulaiman: Lanjut membaca