Aku lagi suka dengan lagu ini terutama aransemennya. Lagunya Nidji judulnya “Shadows”. Dari intronya udah keren banget. Tapi aku belum nidjiholic walapun suka dengan lagu-lagunya nidji. Aku sheilagank. Hehe…

hey you got to be honest
you got to be the only one
you got to be the one

hey you got to stay awake
you got to start to save the world
you got to be alert

*) shadows.. shadows..
in the world we living on
shadows.. shadows..
in the world we living on

shadows .. shadows..
we’re alone in the world we own
shadows .. shadows..
we’re alone in the world we own

hey the killer of the world
the money blinded junky man
the loveless son of man
hey nothing isn’t right
the future is in so much pain
the lovers are in vein

back to *)

is this place where we fly in
is this place where we don’t win
is this the shadows that lived in our profit
is this the shadows that we all wanted

and our life are burned by the fire
of our sins and tonight
i believe that we won’t win

here in the cities
shadows on the run
nothing is real
nothing can’t be done

i am the shadows
i’m the only one
make me believe
that nothing can be done

Is this real, God??! Tuhan memang maha hebat! Mungkin kata “hebat” saja tidak cukup untuk melukiskan-Nya, isn’t it? Dia benar-benar memberi lebih dari yang manusia inginkan. Aku baru benar-benar sadar akhir-akhir ini. Aku sedang dihadapkan pada idealismeku sendiri dan kenyataan yang terjadi. Ini bukan dibuat-buat, dan bukan maksudku dilebih-lebihkan. Yang jelas sangat sulit untuk diungkapkan dengan kata-kata. Dan yang paling penting, hal ini tidak pernah terpikir olehku sama sekali. I think this is the first time for me. I feel something different, feel a big challenge, and others. I can’t say anymore.

Anak muda yang sedang dihadapkan pada suatu tantangan. Mana yang lebih tepat? Cobaan, tantangan, atau anugerah? Yang jelas butuh petunjuk dari Tuhan untuk menghadapi hal ini. When everything feels difficult, get it back to God! Thank you Allah!

Beberapa waktu lalu aku mengikuti seminar di Fakultas Teknik Elektro UGM. Seminar yang sebagian besar mahasiswa ada yang dari fakultas teknik elektro, nuklir, informatika, dsb. Aku fakultas apa? Hahaha… Lulus STM aja baru hari kemarin. Tapi aku cukup nyambung dengan materi yang disampaikan. Pemateri dari Mobile-8 (operator pendukung BREW), Qualcomm (salah satu vendor developer chipset BREW), dan Jatis Mobile (developer aplikasi mobile).

Materi yang dibahas (dan tema utama) adalah masalah BREW application. Apa itu BREW? BREW (Binary Runtime Environment for Wireless) adalah platform yang memungkinkan pengembangan dan penggunaan aplikasi media mobile yang sangat luas, mulai dari informasi/ berita berbasis teks, full-track music, ringtones, sampai video dan game.

Bicara soal platform runtime-environment, jadi ingat dengan salah salah satu  platform aplikasi berlogo sketsa cangkir kopi (ada asapnya juga…), JAVA. Apa bedanya BREW dengan JAVA? Sama-sama platform aplikasi, tapi BREW lebih berbasis pada jaringan CDMA (Code Division Multiple Access). Singkatnya, BREW merupakan platform development aplikasi untuk perangkat-perangkat atau handsets mobile.

Sekilas pemrograman pada BREW,
Language: C
IDE: Visual Studio 6, Visual Studio 2003, Visual Studio 2005
Application type:
- simulator: Win 32 project compile to DLL
- device: compile to MOD using ARM computer

Beberapa tools untuk developer sendiri misalnya,
- Compilation tools: GNU cross-compiler, Win ARM compiler
- BREW tools suite: AppLoader, The Grinder, Shaker, appsigner, logger, Open GL ES BREW SDk extension.

Ada semacam dilema tersendiri antara CDMA dengan BREW yaitu kebanyakan handsets CDMA bersifat low-end alias menengah kebawah (dan kebanyakan user juga memilih CDMA karena mengutamakan tarifnya yang murah…). Padahal aplikasi-aplikasi BREW sendiri bisa jadi kurang optimal pada handsets yang bersifat low-end (ya karena ke“low-end”an spesifikasi perangkat itu tadi, semisal layar monokrom, kompatibilitas chipset, dsb) . Dan untuk mengatasi hal ini, salah satu (atau beberapa) pabrikan handset CDMA menghadirkan handset CDMA yang bersifat high-end.

Operator yang mendukung BREW di Indonesia saat ini (baru…) Mobile-8. Dan Mobile-8 itu telah merilis beberapa tipe handsets CDMA yang support BREW. Di handsets itu sendiri ada chipsetnya Qualcomm, yang dikatakan support BREW. (Woi, aku nggak promosi lho!)

Ada salah satu peserta yang menanyakan kompatibilitas BREW pada GNU/Linux, lalu dijelaskan bahwa untuk saat ini BREW belum support pada Linux, masih berorientasi pada platform Microsoft (Visual Studio untuk membuat aplikasi BREW). Namun dikatakan ke depannya BREW akan merambah ke Linux.

Hmm… Semoga yang aku tangkap itu tidak salah. Untuk lebih mengetahui apa itu BREW bisa coba kunjungi http://www.brewdeveloper.com atau tanya-tanya mas google. Hehehe…

Dapat pinjaman novel bagus, Sang Pemimpi. Ya, buku kedua dari tetralogi Laskar Pelangi karya penulis Andrea Hirata. Memang aku belum baca itu novel. Kalau yang Laskar Pelangi sudah khatam, pernah aku bahas juga di blog ini.

“Di baca y sang pemimpinya??”, begitu isi SMS dari si empunya novel.

Iya… iya… aku baca. Makasih lho D dipinjemin… ;-p
Hehe…

Tanggal 14 Juni 2008, sekitar jam setengah sebelas siang. Pas lagi balas SMS dari temen yang katanya sudah lulus, ada pak pos datang di depan rumah. “Pos..!”, begitu kata pak pos waktu datang. Lalu aku terima suratnya, “Makasih pak.”, kataku. Surat pengumuman kelulusan sekolah, memang sekolahku mengumumkannya lewat pos bukan di sekolah. Mungkin supaya tidak ada keributan atau aksi corat-coret, iya lah. Beberapa STM di Jogja juga seperti itu.

Lalu aku gunting sisi kanan amplop. Tapi waktu aku lihat lagi amplopnya: “Kepada Yth.: Orang tua dari Rahmat Tsani Hakimi (3 TKJ)”, ya udah aku berikan ke ayahku, biar ayahku yang lihat duluan. “Alhamdulillah, lulus”, katanya. Lalu aku lihat suratnya, memang aku lulus!

Lega, akhirnya lulus juga. Dengan segala macam pendapatku tentang unas, akhirnya ya lulus juga. Aku sebenarnya cuma pasrah saja dengan hasil unas. Yang jadi masalah buat aku cuma satu (dan klasik), matematika. Yang aku rasa paling bisa mengerjakan cuma Bahasa Inggris, lalu Bahasa Indonesia. Aku tidak menyesal tidak pintar matematika, memang ilmu di dunia cuma matematika?! Orang tu kan punya spesialisasi sendiri-sendiri, nggak bisa ini tapi yang itu bisa. Udah fitrahnya seperti itu memang. Makanya ada istilah saling membantu, saling melengkapi.

Btw, pokoknya lega sudah lulus unas. Lega, karena tidak pakai seragam sekolah lagi (capek punya image anak sekolah!), karena mulai pengalaman baru lagi, karena bisa berbuat lebih banyak. Dan yang paling penting, kelulusan ini salah satu awal dari perjalanan panjang ke depan (wuess…), jadi rasanya tidak perlu euforia berlebihan macam konvoi, corat-coret, ribut-ribut, malah katanya ada yang mabuk-mabukan.

Hehe… Agak munafik ya? Padahal sebenarnya aku pengen coretin baju dengan tanda tangan teman-teman, tapi kata ibuku, “Nggak usah! Ngapain kayak gitu?!”. Ditambah adikku, “Iya tsan, ngapain. Malu-maluin… Aku juga kalo kelulusan nggak pengen kayak gitu kok.”. Toh juga teman-teman tidak pada berangkat ke sekolah, aku juga agak malas ke sekolah. Nggak ada acara coret-coret atau konvoi.

LULUS!!!

what’s next? ;-)

Warna musik berbeda (lagi) dari band asal Jogja, Sheila on 7, dalam album baru mereka yang bertitel “Menentukan Arah”. Aku simpulkan hal itu setelah mendengar hits terbarunya yang berjudul “Betapa”. Lagu tersebut menceritakan kisah pahit seseorang yang ditinggal pergi kekasihnya, lalu sang kekasih itu jalan dengan orang lain. Haha…

Ini dia yang menurutku bagus, meskipun menceritakan kisah sedih tapi lagu ini dikemas dalam irama yang santai, sederhana, berbeda dengan lagu-lagu So7 lainnya, dan easy listening khas So7 terasa banget. Dengan lirik yang cukup pendek, kisah dari lagu tersebut, dan irama yang berbeda, menurutku malah membuat lagu ini kesannya lucu. Kisah di lagu itu lho, ditinggal setahun sama kekasihnya yang jalan dengan orang lain, tetapi masih bisa tersenyum palsu di depan teman-temannya, menutupi perasaannya yang hancur. Bisa ya gitu?

Meskipun aku belum punya CD atau kasetnya, aku rasa warna musik berbeda ditampilkan pada album baru So7 ini. Seperti halnya mereka memberikan sentuhan musik berbeda pada album ke-4 (Pejantan Tangguh) dan album ke-5 (507). Para personil mengatakan bahwa album ini dikerjakan mereka berempat sendiri (Eross, Duta, Adam, Brian) ditambah satu orang yang sudah membantu So7 sejak dulu.

Kalau pertama kali dengar lagu ini, di bagian intro, pasti belum menyangka kalau ini musiknya So7. Tapi ketika vokalnya Duta masuk, baru tau, “Lho, ini lagunya So7?”. Intro dengan irama drumnya Brian yang santai, sound bassnya Adam yang terasa, dan permainan gitar Eross, memang terdengar seperti bukan So7 yang biasanya. Tapi tetap easy listening.

Biar jelas, ini liriknya yang aku tangkap:

seminggu setelah kau pergi
teman silih berganti menghiburku
kuberkata semua teratasi
dan terus sembunyi di balik senyum palsu

kudengar dirimu tak sendiri lagi

*reff:
betapa hancurnya
hati dan jiwaku

setahun setelah kau pergi
ku masih sembunyi di balik senyum palsu

*bridge:
tolong bantu aku melewati semua

Hmm… Sehancur itukah rasanya ditinggal? Nggak tau, belum pernah ngerasain sih. Haha… Jangan sampe deh.

Udah sekian hari (atau bulan?) blogku mati suri. Tidak ada tulisan baru, tapi komentar-komentar ada beberapa yang tetap masuk. Sebenarnya ada tulisan yang disiapkan tapi berhubung mood-ku lagi jelek, nggak main blog dulu. Padahal banyak yang mau aku bahas mulai dari kemenangan MU di Liga Champions Eropa, lagu baru Sheila on 7, IT (seperti teknologi barunya processor Intel, pameran komputer yang agak menjemukan), jadi anak muda, sampai yang nggak mutu-nggak mutu.

Tapi tidak apa-apa, yang penting blog nggak dilupakan (i can’t stop thinking of you… kali…, hehehe)

Beberapa hari lalu aku fotocopy beberapa berkas (di tempat fotocopyan lah..). Selesai fotocopy, waktu aku mau bayar, mbak-nya yang di kasir bilang, “Pakai nota nggak, mas?”. Lalu aku jawab, “Ya, mbak.”. Tidak ada yang istimewa memang dari percakapan pendek itu. Tapi yang buat aku agak gimana gitu, mbak-nya tadi panggil aku dengan sebutan “Mas”. Di Jawa, panggilan atau sebutan “Mas” biasanya diberikan kepada orang laki-laki yang sudah dewasa. Berarti bisa disimpulkan “mas” itu sifatnya dewasa, tangguh, dan bertanggung jawab juga (gitu kali ya..?).

Eh, ternyata aku sudah dipanggil “mas”. Mungkin karena secara fisik aku sudah bisa dipanggil “mas”. Usia sudah menginjak 18, tinggi seimbang (hampir 170an). Secara penampilan, rupanya sudah bisa disebut “mas”. Tapi yang harus lebih diperhatikan, semakin dewasa seharusnya sudah semakin bisa bertanggung jawab atas perbuatannya sendiri. Dan sebutan “mas” itu tadi, berarti representasinya sudah me”mas”-kan dirinya sendiri. Ngerti kan maksudku?

Masih teringat dengan jelas waktu aku masih dipanggil “Dik”. “Dik” berasal dari kata “Adik”. Itu waktu aku dulu masih tinggal di Surabaya, waktu SD dulu. Waktu berangkat ke sekolah naik angkot (orang Surabaya sering menyebut “bemo”, padahal bentuknya angkot), biasanya ada orang yang tanya, “Sekolahnya di mana dik?”, atau “Rumahnya di mana dik?”, atau “Kelas berapa dik? Kok berani naik bemo sendiri?”. Dan tidak jarang ada yang tanya, “Kembar ya dik?”. Itu biasanya ditanyakan sama orang yang lihat aku dan adikku berangkat/ pulang sekolah bareng naik bemo. Waktu kecil banyak yang bilang aku mirip sama adikku. Padahal menurutku, memang ada kemiripan wajah, tapi kan bukan kembar.

Sekarang dipanggil “mas…”, suatu saat mungkin ada yang panggil “sayang…” :-D , lalu ada yang panggil “ayah…”/”papa…”, lalu “pak…”, setelah itu “kakek…”, dan hingga akhirnya bisa disebut “Almarhum…” :-D

Mungkin sekitar dua minggu lagi adalah peringatan dua tahun gempa Jogja. Gempa yang menelan banyak korban jiwa terutama di daerah Kabupaten Bantul. Pokoknya sekitar Jogja, semua merasakan gempa yang menurut catatan BMG berkekutatan 5,7 SR itu. Saudara yang tinggal di Magelang katanya juga sempat sedikit merasakan getaran gempa itu.

Gempa terjadi pada 27 Mei 2006. Waktu itu aku masih tidur, belum bangun. Tahu-tahu kok rasanya tempat tidur seperti bergetar. Aku sempat membuka mata sebentar dan berpikir “Oh, ini to rasanya gempa…”, lalu aku tidur lagi. Tapi getaran kok terasa tambah lama tambah keras. Dan aku dengar ibuku bilang, “Subhanallah… subhanallah…”. Wah, langsung aku bangun dan benar-benar sadar kalau itu gempa besar. Sambil bangun, aku sempat kepikiran, “Wah, rumah ini sebagian tembok tua, kalau roboh gimana…?”.

Langsung juga aku tarik adikku yang juga masih tidur. Menarik tubuh adikku saja juga agak sulit karena getaran gempa membuat tubuh tidak seimbang. Akhirnya kita semua keluar rumah. Di luar, tetangga-tetangga juga pada ribut. Ada yang baru pulang dari pasar, ada yang baru bangun juga, dll.

Beberapa saat muncul isu tsunami dari arah pantai selatan, Parangtritis. Aku mikir, “Kok aneh ada tsunami. Jauhnya kayak gitu kok cepet banget sampe kota?”. Kata tetangga bilang air di Kali Code naik, rumahku tidak jauh dari kali itu. Lalu aku lihat kalinya, biasa saja. Tidak ada yang aneh.

Banyak cerita seputar gempa itu. Sepanjang hari listrik putus. Malam hari suasananya mencekam. Masih terasa juga gempa-gempa susulan sampai beberapa hari setelahnya. Mau masuk rumah juga takut kalau ada gempa lagi. Jadinya tidur, makan juga di teras depan rumah. Banyak juga yang seperti itu.

Dulu sempat juga bikin semacam dokumentasi tentang gempa jogja. Jelek banget. Cuma rangakaian foto-foto Jogja pascagempa, pakai Ms Power Point Slideshow. Soalnya waktu itu aku belum kenal aplikasi sederhana movie maker bawaan Windows. Hehe…

Dan setelah gempa di Aceh dan Jogja, sepertinya juga diikuti gempa-gempa berikutnya di daerah-daerah lain dalam waktu yang tidak tentu. Mungkin ada yang masih ingat juga gempa sebesar 7 SR, malam hari sekitar Bulan Agustus tahun lalu yang pusat gempanya di daerah sekitar Jawa Barat - Jakarta. Hampir sebagian besar pulau Jawa merasakan gempa itu. Aku juga masih ingat cerita tentang gempa waktu itu. Sempat juga ikut aku ceritakan juga di Detik.com waktu itu.

hmm… earthquake…

(Tulisan telat). Akhirnya MU juara! MU menjuarai EPL 2007/2008 untuk kali ke-17 dengan selisih 2 poin dari Chelsea yang waktu yang bersamaan meraih hasil seri melawan Bolton Wanderers (1-1). MU memang pantas juara, perhatikan saja track recordnya sepanjang musim 2007/2008, habis kalah atau seri, langsung bangkit lagi. Juga banyaknya gol yang diciptakan. MU meraih kemenangan 2-0 atas tuan rumah Wigan Athletic (venue: JJB Stadium). Ryan Gigs menjadi bintang utama kemenangan MU.

Hei, ingat gak apa kata orang-orang Chelsea (pemain, pelatih, suporter, dsb) sebelum pertandingan? Mereka bilang MU akan menang mudah melawan Wigan karena pelatih Wigan, Steve Bruce, adalah mantan pemain MU. Mereka juga bilang, karena Wigan sudah aman posisinya untuk EPL musim depan, dan lain sebagainya pokoknya melancarkan segala persepsi ke media yang mengarah bahwa Wigan akan “mengalah” untuk MU yang sedang mengejar juara EPL 2007/2008.

Buktinya, Wigan memberi perlawanan cukup sengit, tidak menunjukkan kalau mengalah demi MU. Striker Wigan, Emile Heskey, bolak-balik mengancam gawang MU, tapi akhirnya mentah. Karena? Kipernya dong… Van der Sar. Kemenangan MU dibuka dengan penaltinya si CR7 (Cristiano Ronaldo) pada menit ke 32 karena striker MU, Wayne Rooney, dilanggar di kotak penalti.

Gol selanjutnya dicetak oleh pemain senior MU, Ryan Gigs pada menit ke-81. Gigs masuk sebagai pemain pengganti pada babak kedua (menggantikan kalau tidak Park Ji Sung atau Scholes gitu, aku lupa). Gigs mencetak gol, dia ada di posisi yang tepat, tidak terkawal dengan baik oleh pemain belakang Wigan. Gigs juga sempat menyelamatkan bola yang akan masuk ke gawang MU. Dia berdiri di bawah mistar gawang, menghadang bola sundulan Emile Heskey hasil dari sepak pojok untuk Wigan.

Hayo… akhirnya Chelsea seri gitu melawan Bolton…. Kalaupun hasil MU juga seri, MU juga yang juara EPL 2007/2008. Kalau MU menang karena penaltinya Ronaldo, toh golnya Gigs sangat telak Sangat menunjukkan kalau MU menang murni karena kekuatan MU sendiri, bukan karena tim lawan yang mengalah (atau apa lah…)!
Bagi yang menonton pertandingan MU vs Wigan kemarin (Minggu, 11/3/08), pasti melihat euforia/ selebrasi setelah gol Ryan igs. Selebrasi Gigs, pemain-pemain United, pelatih, official tim, dan supporter MU. Aku juga agak teriak kemarin, kasih aplaus untuk gol Gigs itu. Wah fantastis banget! Benar-benar kelasnya tim juara dengan materi pemain-pemain hebat.

Kemarin, aku menonton pertandingan MU vs Wigan di giant videotron Jalan Abu Bakar Ali, dekat Hotel Garuda Yogyakarta. Penontonnya banyak banget malam itu. Jalan Abu Bakar Ali yang terbagi jadi dua ruas (utara dan selatan), ruas jalan sebelah utara “tertutup” oleh penonton yang duduk di jalanan. Yang ruas selatan “hanya” tertutup separuh jalanan. Hal ini sering terjadi pada pertandingan-pertandingan big match. Seperti misalnya kemarin MU vs Arsenal (2-2), nutup jalan juga. Aku sendiri kemarin lihat dari ruas jalan yang selatan, duduk di atas motor. Aku lihat sama bapakku, yang sama-sama suka MU juga (wah… lengkap…).

Kabar tambahan, Ronaldo yang tahun ini menjadi top scorer EPL dengan 31 gol, tahun depan berencana membuat 50 gol dalam satu musim. Pelatih MU, Sir Alex Ferguson, belum akan berhenti melatih MU, setidaknya untuk beberapa musim kedepan. Dan juga kabarnya untuk tahun depan, MU akan membeli striker Newcastle, Michael Owen. Kenapa nggak Roque Santa Cruz aja (striker Blackburn Rovers)? Yang lebih muda dan juga naluri gol tinggi, jadi lebih efektif daripada Owen yang mulai tua dan gampang cedera.

Hmm… MU forever!

Next Page »