Hey, Dee!

Posted: Januari 25, 2012 in nyangkem, passion
Tag:, , ,

Untuk Blog Contest Mizan.com

Surat Untuk Dewi ‘Dee’ Lestari, penulis yang (menurutku ternyata) ajaib…

Selama ini yang aku tahu tentang Dewi Lestari itu: dia penyanyi, dalam dunia nulis punya nama pena Dee. Dan ketika jamanku SMP, penyanyi Marcell (yang waktu itu masih pacaran sama Dewi ‘Dee’ Lestari) punya lagu hits yang judulnya ‘Firasat’; yang dari radio aku tahu kalau ternyata lagu itu ciptaan Dewi Lestari untuk dinyanyikan Marcell, yang diciptakan Dewi Lestari tanpa alat musik.

Wow… Pikirku waktu itu: lagu sebagus ini bisa diciptakan tanpa alat musik?! Bisa se-merasuk itu ya kekuatan perasaan seseorang ke dalam suatu karya, yang bahkan bisa diciptakan ‘seadanya’. Ya maaf-maaf nih Mbak Dee, bukan maksudku ungkit-ungkit cerita lamanya Mbak Dee. Karena Itulah interpretasiku tentang Dee selama ini :) , selain perpindahan keyakinannya ke agama Budha.

Dan semua interpretasiku aku kesampingkan begitu aku lihat langsung sosok Dewi ‘Dee’ Lestari di depan mataku. Aku duduk di sebelah panggung Dee bicara di acara Ngobrol Bareng Dewi Lestari di Jogja, Januari 2012 ini. Tau nggak, mbak? Apa yang aku pikirin waktu liat Mbak Dee bicara di panggung? Ooow…. She is a truly writer! Cantiknya, caranya bicara, caranya menjawab pertanyaan, apa yang dia bicarakan, suka banget liatnya!

Mbak Dee, waktu Mbak Dee bicara di acara ngobrol di Jogja tempo hari itu, aku inget banget Mbak Dee bilang kalau imajinasi pembaca itu yang terjujur. Maksudnya, imajinasi pembaca tulisan Mbak Dee baik novel ataupun cerpen itulah yang paling unik, tiap orang bisa beda-beda membayangkannya, dan bisa jadi nggak terbatas.

Tapiii…. Baca entri selengkapnya »

“Assalamu’alaikum, Pak Saleh”, sapaku cepat.
“Waalaikumsalam warahmatullah wabarakatuh…”, jawabnya teduh.
“Saya Tsani, pak. Dulu di kelas 6 di SD Sukonandi.”, kataku sambil menyalaminya.
“ Ooo… Sekolah di mana sekarang?”, wajahnya tampak menyambut. Senang aku lihatnya.
“ Di Amikom, pak. Condongcatur. Sekarang juga kerja di dekat sini” ,ucapku sambil tersenyum dan sedikit menunjuk arah.
“ Alhamdulillah… Mugo-mugo lancar” ,ucapnya.
“ Angkatannya sama siapa saja dulu?” lanjutnya sambil bersiap membonceng motor. Aku lalu menyebut beberapa nama teman sekelasku di SD Sukonandi.
“ Wali kelasnya siapa?”, tanyanya lagi.
“Pak Suyadi..”, jawabku.
“Ooo iya, iya… Sekarang beliau pindah di situ…”, katanya sambil mengisyaratkan arah tanpa jelas menyebut tempatnya. Tampaknya memang beliau harus segera pergi karena sudah ditunggu seorang takmir masjid untuk diboncengkan naik motor.
“Duluan, ya? Assalamu’alaikum…”
Monggo, Pak. Wa’alaikumsalam…”, balasku tersenyum.

Ini hari Jum’at dan sebagai lelaki muslim aku wajib ke masjid untuk shalat Jum’at. Di masjid dekat kantor, aku datang ketika khatib mulai naik mimbar dan aku segera shalat sunnah untuk penghormatan pada masjid, Tahiyyatul Masjid. Aku belum lihat wajah khatib yang berkhutbah karena fokus cari barisan terdepan dan segera shalat itu tadi.
Jujur kuakui, ketika shalat tahiyyatul masjid tadi aku nggak begitu khusyuk di rakaat pertama, itu karena aku dengar suara khatib jumat kali ini yang rasanya aku kenal. Pas di rakaat kedua, aku jadi tambah yakin itu suara yang benar-benar kukenal. Ditambah dengan caranya berbahasa Jawa sesekali dengan logat khasnya. (Sholat kok mikir-mikir…)

Dan setelah mengakhiri shalat sunnah itu, langsung kulihat siapa sang khatib. Dan ternyata dugaanku Baca entri selengkapnya »

Surat Al-Faatihah sebagai ‘ummul kitab’ alias ibunya Al-Qur’an, di dalamnya terdapat 2 ayat yang menyebutkan sifat Tuhan: Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

Bayangkan, sifat ‘Pengasih lagi Penyayang’ sampai 2 kali disebut oleh “Sang Ibu”. Yaitu di ayat pertama dan ketiga. Aku menangkap bahwa inilah sifat asli Allah SWT yang tidak ada keraguannya sedikitpun. Sifat bakunya Tuhan.

Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Perhatikan, bukan Maha Pengasih dan Maha Penyayang, melainkan ‘lagi‘. Ini menunjukkan bahwa kemahaan Pengasih “satu paket” dengan Penyayang. Terintegrasi. Bukan yang berdiri sendiri (Pengasih / Penyayang) kemudian “dibungkus” dengan pengikat ‘dan‘.

Di versi terjemahan lain mungkin tidak dituliskan kata ‘lagi‘, ada yang dengan tanda koma (,) di antara dua sifat tersebut. Ada yang menyebut Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Sama saja substansinya. Namun itu juga menunjukkan bahwa dua sifat tersebut dalam hal ini tidak terbagi satu sama lain. Pengasih sekaligus Penyayang.

Berarti memang Tuhan itu identik dengan Baca entri selengkapnya »

Menjelang lebaran (30 Agustus 2011) kemarin kakakku beli ayam 4 ekor. 2 ekor jago, 2 ekor betina. Rencana memang 2 ekor ayam (satu pasang) untuk mbahku yang tinggal di sebelah rumah, dan satu pasang lagi untuk keluargaku satu rumah.

Dua ayam untuk mbahku udah jadi disembelih buat di-opor, yang dua lagi juga rencana mau dibuat opor sama ibuku. Singkat cerita, 3 ayam sudah disembelih; dua betina, satu jago. Nah, setelah berbagai pertimbangan, untuk sementara satu ayam jago kami sisakan tetap hidup. Nggak ikut disembelih. Karena apa? Bentuknya itu lho, buagus bangeeet… Jadi sayang ayam jago sebagus itu mau dijadiin opor. Jadinya untuk sementara ditaruh di halaman samping rumah.

Beberapa hari lalu setelah begadang nulis di komputer, aku siap-siap tidur. Itu sekitar jam 3 pagi. Malam sunyi. Nah, pas udah di tempat tidur, tau-tau denger kibasan sayap si ayam dilanjut suara kokok ayam yang terdengar dikeluarkan sekuat tenaga si ayam. Berhubung tempatku tidur sama halaman samping cuma terpisah satu tembok + jendela, suara si ayam kedengeran kenceng banget.

“Pagi-pagi buat gini udah bunyi?”, pikirku. Langsung aku liat jam dinding, jarum jam menunjuk 03.15.

Hmm…. Aku jadi ingat sesuatu. Hewan seperti ayam, anjing, itu kan bisa mendeteksi keberadaan makhluk invisible alias nggak kasat mata. Aku jadi ingat cerita guruku, kalau nggak salah guru SMP. Pada jam-jam sholat tahajjud atau sepertiga malam terakhir makhluk syaitan pergi karena kedatangan malaikat-malaikat turun dari langit untuk menyambut manusia-manusia yang bangun di tengah malam untuk menegakkan shalat malam dan berdo’a apa saja. Shalat Tahajjud. Shalat pada waktu yang disukai Allah SWT. Dan do’a yang mudah sampai pada substansinya. Shalat yang akan menjaga penegaknya bila dilakukan berkesinambungan. Mantap.

Mungkin inilah sebenarnya hikmah sahur pada bulan puasa. Ramadhan. Sahur dilakukan pada akhir waktu malam, mendekati shubuh. Orang bangun dari tidurnya karena niat untuk sahur. Makan-minum untuk bekal kekuatan fisik puasanya seharian. Orang rela bangun dari tidurnya karena juga untuk makan.

Nah, ketika bulan Ramadhan usai, maka bukan tidak mungkin bila orang bisa pasang niat bangun malam untuk mengerjakan suatu hal. Karena sudah terbiasa berhari-hari bangun untuk makan sahur, maka (seharusnya) bisa juga bangun malam untuk menegakkan shalat malam. Ya, kan?

Jadi sebenarnya satu bulan Ramadhan itu semacam training untuk menjalani kehidupan berbulan-bulan berikutnya. Di mana dianjurkan bahwa aktifitas dunia-akhirat harus seimbang. Tuhan tampaknya memang mendesain demikian. Di satu sisi menganjurkan untuk lebih dekat denganNya dengan ibadah Shalat Tahajjud, di satu sisi juga mengajarkan caranya bangun malam ketika Ramadhan. Konsekuen, ya? Sebenarnya tinggal satu aja intinya: pasang niat.

Ah, tambah kagum aja aku sama agama ini. Agama yang sejujurnya kuanut sejak kecil, tapi ketika dewasa aku akui bukan sekedar penganut sejak lahir lagi. Melainkan memilih untuk menganut agama ini karena penemuan-penemuanku akan hikmah yang terkandung di dalamnya. Islam terlalu sederhana bila disebut sebagai agama. Islam itu kehidupan. Islam itu sistem semesta. Bumi dan langit, dan apa-apa yang berhubungan dengannya.

Semakin menemukan hikmahnya, sekecil apapun itu, semakin bertambah saja kekagumanku pada ajaran amazing ini.

Gara-gara ayam nih, jadi kesindir buat Tahajjud. Ayam, ayam…

This slideshow requires JavaScript.

*foto: sekuat si Jago berkokok sampe bungkuk-bungkuk

*Suatu malam di satu gedung pentas di Kota Jogja, setelah pementasan suatu kesenian. Aku (A) bertemu dengan teman lama (TL).
A : Hei… (sapaku ketika melihatnya di dekatku)
TL : Eh… Kamu… (sambutnya sambil tersenyum, mata agak berbinar)
Aku : Iya… Gimana kabar? (tanyaku tersenyum, gesture ketemu temen lama)
TL : Iya, baik juga. Kamu sama siapa ke sini?
A : Sendirian. Kamu?
TL : Iya, sendirian juga aku.
A : Ha… Iya sih. Aku tadi ngajak temen juga, tapi ga jadi orangnya. (ujarku menerangkan)
TL : Hmm… Gitu… Kamu tadi duduk di mana?
A : Di depan tuh… (jawabku sambil menunjuk arah tempat dudukku sebelumnya)
TL : Ooo… Aku di bagian tengah tadi.
A : Eh iya, kamu sekarang di mana kuliah?
TL : Antropologi.
A : Antropologi…? (jawabku menggumam dan agak mikir sebentar, kampus mana ya yang ada Antropologi? mungkin kampus besar…)
A : UGM? (tanyaku lagi, menebak-nebak)
TL : Iya… (jawabnya sambil tersenyum) Kamu?
A : Aku di Amikom, Informatika. (jawabku terang)
TL : Hmm… (katanya sambil agak mengangguk)
~ lanjut mengobrol…

*Tadi siang di Perpustakaan Kota Jogja, bertemu lagi dengan seorang teman lama.
TL : (tersenyum melihatku, mungkin udah ingat siapa aku)
A : Eh… Rosa, bukan? (tanyaku coba meyakinkan)
TL : Iya… (jawabnya sambil tersenyum)
A : Gimana kabar? (tanyaku dengan gesture ketemu temen lama)
TL : Baik…
A : Lagi sibuk nih? (kulihat buku catatan penuh coretan berwarna dan stabilo di tangannya)
TL : Lagi belajar aja, nih. Di rumah nggak bisa belajar, rame.
A : Hmm… Dari kapan (di sini)?
TL : Udah lumayan sih. Dari jam berapa ya? Udah dari jam 9-an tadi…
A : Eh iya, kamu katanya pindah kampus ya?
TL : Iya, di UMY, KG.
A : KG?
TL : Kedokteran Gigi…
A : Oh… Lho, emang sebelumnya di mana sih?
TL : Tadinya di Geografi.
A : Geografi? Di UGM?
TL : Iya, UGM…
~ dan obrolan berlanjut…

Tampaknya cuma obrolan biasa ya? Bertemu teman lama dan tanya-tanya biasa. Ya begitulah umumya kalau bertemu teman lama… Sebagai catatan, bahwa dialog di atas itu benar-benar terjadi belum lama ini. Pada beberapa kesempatan aku bertemu dengan teman lama jaman sekolah pakai seragam dulu.

Tapi lihat lagi dua dialog di atas. Coba perhatikan ketika Aku menanyakan “di mana” kuliahnya teman lamaku, bagaimana jawabannya pertama kali? :)

Haha… :D Ya, bukan nama kampusnya yang disebut pertama kali, tapi nama jurusannya! Sampai-sampai aku harus bertanya lagi untuk memastikan. Rasa-rasanya kok sudah jelas ya konteks pertanyaanku: di mana (pertanyaan yang substansi jawabannya menunjukkan tempat, ya kan? dan dalam hal ini, tempat itu nama kampus). Mungkin lebih cocok ketika aku bertanya APA, dan jawabannya adalah jurusan. :D

Ya, pikiran tentang kejadian semacam itu muter-muter di kepalaku akhir-akhir ini. Sederhana sebenarnya, tapi kok ya terasa ngganjel (jawa: mengganjal) ya? :D Ketika aku menanyai di mana kampusnya teman lamaku atau orang yang baru kukenal dan dijawabnya dengan langsung menyebut nama jurusan, kuliah mereka di UGM. ;)

Bukan maksudku menyebut bahwa mahasiswa UGM sering menjawab di luar konteks “di mana” dan “apa“, tapi setelah kuingat-ingat lagi tentang siapa kenalan-kenalanku atau teman-teman lamaku yang kutanyai “kuliah di mana?” dan langsung menjawab nama kampusnya duluan, mereka kuliahnya bukan di UGM.

Ada beberapa contoh nyata nih, ya. Aku punya teman-teman lama yang kutemui di facebook dan ketika kutanyai “kamu kuliah di mana?” ada yang langsung menjawab YKPN, UAD, MMTC, UII, Amikom, UNY, atau kampus lainnya yang masih terletak di Jogja. Kuliah di jurusan apa baru mereka sebutkan setelah aku menanyakan lebih lanjut. Lalu ketika dulu aku kenalan langsung dengan teman-teman baru di suatu komunitas sepeda juga demikian. Ketika kutanyai kuliah di mana, yang langsung menyebutkan nama kampusnya itu bukan mahasiswa UGM, ada yang dari UNY, dari UII, dari Atma Jaya, dari Amikom; baru kemudian menyebutkan jurusannya ketika kutanyai lebih lanjut. :)

Entah apa yang terkondisi di “Kampus Gadjah” hingga mahasiswanya lebih cenderung menyebut nama jurusan terlebih dulu daripada nama kampus ketika kutanyai “kuliah di mana?”. Yang sering kudengar cenderung langsung menyebutkan jurusan semisal kuliah di MIPA, Geografi, Manajemen, Kehutanan, Antropologi, Fisipol (HI, Komunikasi, …) dll. Aku berharap mahasiswa masih mencintai almamaternya sehingga tidak susah menyebutnya.

Tapi aku juga sempat terpikir, sebagai orang Jogja – jangan-jangan aku yang terlalu polos atau aku yang terlalu nggak tau jika seorang mahasiswa kuliah di Jogja dan ditanyai “kuliah di mana?” lalu jawabannya langsung menyebutkan jurusannya, maka itu sudah pasti kuliah di UGM. (Lha wong UGM sudah nama besar kok pakai ditanyai? Masuk UGM itu saingannya banyak dan yang bisa masuk situ kebanyakan orang pinter-pinter. Orang pinter kok ditanyai kampusnya, ya jawab langsung jurusannya lah. Woo… Mahasiswa polos!) :( *ish, ish, ish… [Upin-Ipin mode:ON]

Tapi secara rasional, setahuku kampus di Jogja itu buanyak jumlahnya. Apakah yang punya jurusan Manajemen cuma UGM? Apakah yang punya Fisipol juga cuma UGM? Apakah yang punya jurusan Teknik cuma UGM? Geografi hanya di UGM? Dan setahuku di UIN juga ada jurusan Ilmu Komunikasi, UII punya Kedokteran, jurusan Teknik beragam ada di mana-mana. Ya, nggak? ;)

Aku paham, mungkin tidak semua mahasiswa UGM seperti itu. Dan aku sama sekali tidak ada maksud menyudutkan atau menjelekkan kampus tertentu, toh juga sama-sama mahasiswa yang sedang belajar. Mungkin aku saja yang belum bertemu dengan mahasiswa UGM yang menjawab lugas sesuai konteks pertanyaanku “di mana”. Mungkin juga teman-teman lamaku atau kenalan-kenalan baruku yang mahasiswa UGM itu sedang punya masalah sehingga tidak begitu memperhatikan konteks pertanyaanku. Tapi aku yakin dengan sangat bahwa aku ingat konteks jawaban dari “teman-teman UGM”-ku, karena kuamati. Dan itu yang jadi ide untuk tulisan ini :) .

Semoga aku bisa tetap konsisten dengan konteks pertanyaan lawan bicaraku. Aamiin

*note: mungkin bisa dibuktikan pengalamanku di tulisan ini, silahkan tanyai teman lama atau kenalan baru tentang di mana kampusnya. dan perhatikan jawabannya, itu… :)

*Suatu saat, ketika bertemu dengan teman lama jaman SD dulu, cewek…
TL : Eh, Tsani! Waah… Lama nggak ketemu ya? Gimana kabar?? (gesture terkesiap)
A : Lho, kamu toh? Baik-baik kok, cuma lagi banyak tugas kampus. (balasku senang melihatnya)
TL : Eh, tambah cakep juga ya kamu sekarang. Haha… (katanya menggoda, dan aku terseyum cool – tambah cantik juga ni anak, pikirku…) Kamu kuliah, Tsan?
A : Iya, di Kampus Ungu. Kamu?
TL : Hmm… Aku di Hukum nih, Tsan… (jawabnya agak pelan dan sedikit memalingkan muka)
A : Lho? Kamu dihukum? Emang bikin masalah apa? (mendengar jawabannya, simpatikku tiba-tiba terbangun)
TL : Hukum, Tsaniii… Kuliah di jurusan Hukum, UGM..!! (serunya)
A : Ooo… Ngomong yang jelas, dong…

“Rasa” musik yang segar dari Sheila On 7 ditambah dua lagu berbahasa Inggris. Lirik-liriknya lebih berbobot tapi tetap easy listening. It’s Berlayar, the 7th album :)

Kurang lebih itu kesimpulan setelah beberapa kali memutar CD “Berlayar”-nya Sheila On 7 (So7). Minggu lalu, awalnya nggak nyangka sepulang kuliah kok dengar di rumah seperti ada yang memutar lagu-lagu barunya So7. Ternyata kakakku yang hari itu berulang tahun ada yang kasih hadiah 1 paket CD “Berlayar”. Akhirnya punya juga album barunya So7, hehe… Selamatlah dari godaan yang menjerumuskan untuk download.

Aku ada catatan tersendiri setelah memperhatikan lagu-lagu di album ini. Album dibuka dengan track Baca entri selengkapnya »

Yak, kembali ketemu sama penulis-penulis buku :) . Kesukaan baca buku bikin aku tertarik buat datang ke acara-acara tentang penulisan, bedah buku, dsb. Terakhir ini ketemu dengan penulis buku Cheers UK!, Citrah Dyah Prastuti, waktu acara Travel Writing Forum di I Café, Jogja.

Dapat gift juga dari Baca entri selengkapnya »

Angkringan di Belanda

Posted: Maret 24, 2011 in Cerita Lepas
Tag:, , ,

Yogyakarta, 24 Januari 2016

Seteguk air putih melarutkan dahagaku. Kupejamkan mata sejenak sambil menyandarkan kepala untuk merasakan kesegaran yang membasahi tenggorokanku. Udara dalam ruangan panjang ber-AC ini dingin dan terasa kering. Kupalingkan wajah ke jendela di sebelah kiriku. Dari jendela yang tebalnya kira-kira sekepalan tanganku ini tampak cuaca begitu cerah. Di bawah sana terlihat pemandangan yang rasanya tak asing bagiku. Hanya saja Baca entri selengkapnya »

Sambil berjongkok, aku raup tanah Amerika ini, aku patut-patut di telapak tangan, tanahnya abu-abu kering, rengkah, dan ringan. Berbeda dengan tanah negeriku yang hitam basah, padat, kaya humus. Aku hamburkan tanah ini ke udara. Aku petik daun maple. Aku hirup udara awal musim gugur ini dengan haus. Ini benar-benar riil. Aku di Amerika!

Sulit aku bayangkan sebelumnya. Dalam hanya beberapa hari, aku dan si Hitam telah merasakan tiga tanah berbeda. Tanah tumpah darahku, tanah Timur Tengah tempat para nabi lahir, dan tanah benua Amerika.

Kutipan dari Novel “Ranah 3 Warna” karya Ahmad Fuadi. Bagian ini bikin aku merinding bacanya…

Ceritanya dua hari lalu aku lagi ada perlu di suatu toko alat tulis di Jalan Mangkubumi, Jogja. Jadilah gowes ke sana. Sampai di dekat toko, mau parkir sepeda. Memang ada tempat parkir sepedanya, tapi… Ealah… :roll:

Seandainya segala Baca entri selengkapnya »