Surat Untuk Dewi ‘Dee’ Lestari, penulis yang (menurutku ternyata) ajaib…
Selama ini yang aku tahu tentang Dewi Lestari itu: dia penyanyi, dalam dunia nulis punya nama pena Dee. Dan ketika jamanku SMP, penyanyi Marcell (yang waktu itu masih pacaran sama Dewi ‘Dee’ Lestari) punya lagu hits yang judulnya ‘Firasat’; yang dari radio aku tahu kalau ternyata lagu itu ciptaan Dewi Lestari untuk dinyanyikan Marcell, yang diciptakan Dewi Lestari tanpa alat musik.
Wow… Pikirku waktu itu: lagu sebagus ini bisa diciptakan tanpa alat musik?! Bisa se-merasuk itu ya kekuatan perasaan seseorang ke dalam suatu karya, yang bahkan bisa diciptakan ‘seadanya’. Ya maaf-maaf nih Mbak Dee, bukan maksudku ungkit-ungkit cerita lamanya Mbak Dee. Karena Itulah interpretasiku tentang Dee selama ini
, selain perpindahan keyakinannya ke agama Budha.
Dan semua interpretasiku aku kesampingkan begitu aku lihat langsung sosok Dewi ‘Dee’ Lestari di depan mataku. Aku duduk di sebelah panggung Dee bicara di acara Ngobrol Bareng Dewi Lestari di Jogja, Januari 2012 ini. Tau nggak, mbak? Apa yang aku pikirin waktu liat Mbak Dee bicara di panggung? Ooow…. She is a truly writer! Cantiknya, caranya bicara, caranya menjawab pertanyaan, apa yang dia bicarakan, suka banget liatnya!
Mbak Dee, waktu Mbak Dee bicara di acara ngobrol di Jogja tempo hari itu, aku inget banget Mbak Dee bilang kalau imajinasi pembaca itu yang terjujur. Maksudnya, imajinasi pembaca tulisan Mbak Dee baik novel ataupun cerpen itulah yang paling unik, tiap orang bisa beda-beda membayangkannya, dan bisa jadi nggak terbatas.
Tapiii…. Coba liat Recto Verso, di situ tersebar foto-foto yang sampai sekarang entah apa maksud jelasnya, aku belum tau. Buatku, foto-foto itu jelas-jelas membatasi imajinasi pembaca, misal di salah satu cerpen ada foto-foto suasana hujan, air hujan di aspal, tetesan air hujan di genting, dsb.
Lalu di mana kebebasan pembaca itu? Di mana kebebasan membayangkan hujan itu sendiri kalau sudah dibatasi, “oh, hujan kayak gini nih yang aku maksud kayak yang aku tulis di cerita; oh, gini loh maksudnya di cerita itu, ada boneka kecil yang nggantung di dekat jendela… dan sebagainya, dan sebagainya…”. Silahkan menyebut Recto Verso itu makhluk hybrida dari dunia Dee selama ini: nyanyi dan nulis. Tapi foto-foto itu, dunianya juga? Mungkin Mbak Dee bisa jelaskan?
Satu lagi Mbak, aku ada cerita baru-baru ini.
Sempet agak nggak enak juga sih duduk di kursi lama-lama baca buku dan pas di depanku ada meja kasir dan mbak penjaganya, haha… (dan aku nggak beli buku satu pun
).
Gila, Mbak… Baru kali ini aku baca buku di toko buku sampai separuh isi buku. Dan itu buku apa? Itu Madre! Walaupun bukan novel tebal, tapi tetap enak dibaca. Ah, cerita yang cerdas! Aku tebak pasti risetnya bener-bener dalem tuh, baik dilakukan sengaja atau nggak. Gimana caranya coba? Dee bisa cerita dari masalah sosial yang meributkan perkawinan etnis India dengan Cina di Indonesia jaman itu, manajemen perusahaan, sampai eksperimen sebuah biang roti baru. Awalnya sih nggak niat baca Madre, tapi emang buku itu bikin aku penasaran waktu liat di tempat display buku.
Ending cerita Madre yang menurutku agak misterius, karena di situ ditulis hubungan Tansen dan Mei cuma tergambar sampai “Periku.” dalam pikiran Tansen. Tapi ya, cukuplah sebagai cerita yang betul-betul enak diikuti. Aku nggak nyangka cerita Madre sampai separuh dari total ketebalan buku. Gimana sih Mbak caranya bisa bikin jalinan benang cerita yang bisa bikin pembaca harus tahu endingnya? Kayak di Madre gitu. Sharing mau kan, Mbak?
Aku tunggu sharingnya ya, Mbak? Makasih…
Dari : Rahmat Tsani Hakimi
Untuk : Mizan.com
http://www.amikom.ac.id