The crazy teachers (I think…)

Standar

Senin kemarin adalah hari yang benar-benar nggak enak buatku, bad mood. Bayangkan, datang terlambat – jadi nggak ikut upacara bendera, hawa panas, dan yang lebih parah lagi rambutku dicukur sama “oknum-oknum” BP sekolah. Ya, rambut sasak kerenku dicukur sama “oknum-oknum” itu. Bayangin aja, lagi asik-asiknya punya rambut bagus – agak panjangan dikit, malah dipotong sama “oknum-oknum” itu (haarrrgggghhhhh….!!!!!!!!!!!!!!!). Kenapa aku bilang “oknum-oknum” ? Ya, karena aku nggak suka aja. Sebenernya “oknum-oknum” itu adalah “persekongkolan” guru-guru BP sama guru olahraga.

Ceritanya begini: Selesai upacara, kita-kita (aku & temen2 sekelas) masuk ke lab. komputer (labkom), karena kelasku memang lagi praktek di labkom, hari itu pelajaran desain grafis. Nah, lagi asik-asiknya pelajaran tahu-tahu ada guru BP berdiri di pintu labkom. Terus, dengan nada setengah membentak (lebih tepatnya sok tegas), dia minta semua anak laki-laki keluar ruangan. Lalu semua dilihat rambutnya satu-satu, yang rambutnya pendek dengan yang rambutnya agak panjang (dan yang panjang) dipisah. Nah, aku yang termasuk agak panjang itu. Terus ya itu, rambutnya dipotong paksa.

Yang aku sesalkan pertama, rambutku belum terlalu panjang. Sebelumnya rambutku pernah lebih panjang dari ini dan nggak ada apa-apa. Kedua, sikap guru BP tersebut. Dia masuk kelas tanpa permisi terlebih dahulu kepada guru yang sedang mengajar saat itu (nggak sopan banget ya, dumeh guru BP po piye ?). Ketiga, guru yang mencukur rambutku. Dia salah satu guru olahraga. Aku pikir dia itu orangnya agak kalem, tapi ternyata ikut-ikutan nyukurin rambut anak-anak. Malah,dia yang nyukur rambutku. Dan parahnya lagi, rambutku dipotong sak karepe ndhase dewe, rambutku dipotong ngepok banget, jelek banget! Apalagi di bagian godek-nya.

Kalau boleh misuh, mungkin (minimal) aku mau bilang kalau “oknum-oknum” itu as*, tolo*, b*yanga*e, ba****an, *re*, ra mutu dan segala misuh-misuh yang pernah aku dengar. Tapi untungnya aku nggak misuhan seperti itu (alhamdulillah… huh…). Tapi ya tetap aja aku nggak suka. Okelah rambutku agak panjang, tapi kan setidaknya rapi. Nggak seperti rambutnya anak-anak yang gayanya nggentho. Penampilan boleh agak beda tapi kan aku nggak buat gara-gara di sekolah atau hal-hal bodoh lainnya.
Ya udah, akhirnya setelah pulang sekolah, sorenya aku cukur rambut di tempat cukur langgananku dekat rumah. Waktu mau dicukur, mas-nya yang nyukur rambutku sempat senyum-senyum lihat rambutku. Terus aku bilang kalau rambutku habis dicukur guruku. Waktu nyukur rambutku dia juga sempat bilang, “Wah, iki gurune sak karepe dewe le nyukur…” (Wah, ini gurunya seenaknya sendiri nyukurnya…). Tuh kan, tukang cukurnya aja bilang gitu, apalagi aku sebagai korban perlakuan “oknum-oknum” itu.

So, inilah screenshot perbandingan rambutku sebelum dan sesudah dicukur:

before after

Foto yang sebelah kiri itu sebelum cukur, dan yang kanan itu sesudah dirapikan di tukang cukur. Coba bandingkan. Aku lebih suka sama rambut waktu masih agak panjangan (foto kiri). Bagusan mana? Bagus yang kiri kan? Ya kayak gitu kalau “oknum-oknum” itu nggak pernah jadi anak sekarang. Nggak mau tahu, main cukur aja (wong tuwo nggarapi cah enom). Yah, semoga suatu saat“oknum-oknum” itu sadar kalau mereka telah melakukan hal yang merugikan orang lain. Halah…

4 thoughts on “The crazy teachers (I think…)

  1. ma2nk

    yahhh kasian banget seh lohhhh…. tapi btw bagus juga loh kaya gitu… he3x bt anyway fuck off deh buat oknum sewenang – wenang iya gakkkk??? coba aja dia bikin aturan dulu berapa senti harus lu punya rambut baru dia bertidak and konsekuensinya dia harus garisin tuh rambut anak laki – laki sampe berpa senti baru cut lebihnya jangan semuanya iya gak???

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s