NO UNAS, NO CRY,,,

Standar

Sibuk, Ya Allah capeknya,,, Unas sebentar lagi, ngejar ketinggalan pelajaran, de el el. Jadi jarang nge-blog gara-gara sibuk. Padahal buuuaaannyakkkk banget yang mau aku tuang di blog. Tapi akhirnya semua jadi lupa. Dari kemarin sibuk TA, laporan2, tugas2, persiapan unas, and more…. Saking sibuknya, ke warnet aja nggak sempat, rutinitas di depan komputer juga terreduksi.

Aku pikir setelah menyesaikan TA, kesibukan akan berkurang. Tapi nggak taunya, VIRUS UNAS itu juga mengancam. Inilah DILEMANYA ANAK SEKOLAH KEJURUAN ! Di satu sisi, dia HARUS LULUS UJIAN KOMPETENSI KEJURUAN SUPAYA BISA IKUT UNAS. Di sisi lain, dia “mau nggak mau” juga HARUS LULUS UJIAN NASIONAL.

Aku punya pandangan begini. Coba pikir, sekolah dengan basis kejuruan, pelajaran kejuruan itu sudah pasti menjadi titik beratnya. Sehingga logis kan, kalau KELULUSAN ITU SEBAIKNYA LEBIH DITENTUKAN MELALUI MATERI KEJURUAN dan bukan materi umum seperti yang diujikan dalam unas. Apabila seorang siswa itu lulus dalam hal kejuruan (dalam hal ini sudah memenuhi kompetensi kejuruan) maka ya cukup, itulah sekolah kejuruan yang harus dikuasai materi kejuruanyang dia pilih dari awal. Tetapi kalau dia belum memenuhi kompetensi kejuruan, ya dia tidak lulus.

Aku percaya, seorang manusia bisa jadi memiliki keunggulan dalam bidang tertentu. Tetapi pada bidang lain nya, ia bisa jadi tidak unggul, tidak dapat mengikuti. Itu sudah Sunnatullah, sudah fitrahnya dari Allah SWT. Seorang pembalap mobil misalnya, ia bisa jadi sangat unggul dalam hal balap mobil, bahkan juara dunia. Tetapi kalau ia diminta membalap pada kejuaraan balap motor, sudah pasti ia ketinggalan, keteteran, kalah dari pembalap motor lainnya (begitu pula sebaliknya). Karena ya itu tadi, bukan bidangnya. Seorang guru Bahasa Inggris bisa jadi ia pintar dalam hal Bahasa Inggris, tetapi kalau ia diminta mengajar matematika, sudah pasti tidak mahir, tidak cocok, dsb (begitu pula sebaliknya). Sekali lagi, bukan bidangnya…

Ada salah satu ayat di Al-qur’an (maaf, saya lupa surat dan ayatnya) yang menyebutkan bahwa apabila sesuatu hal itu ditangani/dikerjakan oleh yang bukan ahlinya, maka tunggulah kehancurannya. Dari sini jelas bahwa manusia itu bukan mahkluk yang maha bisa banyak hal, maha bisa segalanya.

Kembali ke masalah sekolah kejuruan, apabila sudah lulus dalam ujian kompetensi kejuruan, maka nggak perlu lah yang namanya UJian Nasional (UNAS) untuk SMK itu! Ini sekolah kejuruan, bukan sekolah umum! So, yang menjadi titik berat kelulusan seharunya ya ujian kompetensi kejuruan itu saja, cukup. Dan bukan pelajaran umum. Bukannya menyepelekan atau mengesampingkan pelajaran umum, tetapi untuk lebih menunjukkan bahwa itu adalah SEKOLAH KEJURUAN, BUKAN SEKOLAH UMUM!

Tahukah anda, betapa sulitnya mengerjakan Tugas Akhir (TA) atau Project Work di SMK istilahnya, sama halnya dengan penyusunan skripsi di perguruan tinggi. Saya memang belum pernah kuliah, tapi dari pengalaman teman-teman, saudara-saudara, dan orang tuaku yang pernah kuliah, ya itu selevel.

Buat pak MENDIKNAS cs, TOLONG PIKIR-PIKIR LAGI KURIKULUM UNTUK SEKOLAH-SEKOLAH KEJURUAN.

Dari sini bisa diambil kesimpulan bahwa seseorang pada suatu saat akan menemukan jati dirinya pada bidang tertentu. Dan biasanya ia lebih unggul pada bidang itu. Usia-usia akhir remaja seperti pada usia di SMK/SMA itu seorang manusia sudah bisa mulai menemukan jati diri, termasuk jati diri pada bidang-bidang yang ia sukai. Jadi kalau seorang siswa sekolah kejuruan unggul pada suatu bidang kejuruan, bisa jadi ia kurang unggul pada mata pelajaran lainnya. Itu wajar, itulah sejatinya mereka yang sudah suka pada suatu hal. Kalau seekor ikan air laut dipindahkan ke air tawar, maka kemungkinan sulit baginya untuk beradaptasi, bahkan bisa jadi mati, begitu pula sebaliknya.

Aku begini karena aku sudah mengalami sendiri sebagai anak sekolah kejuruan. Aku anak STM Jurusan Teknik Komputer dan Jaringan. Aku sebenarnya sangat suka dan semangat kalau pelajaran kejuruan, dan alhamdulillah nilainya (pada bidang kejuruan) selalu bersaing. Bukannya sombong, tapi inilah aku yang sudah suka (dan konsekuen), belajar, berlatih pada bidang jurusanku, sekarang harus mati-matian ngejar pelajaran yang sebenarnya aku tu sempat ilfeel.

Tapi kalau ini sudah takdir Allah yang tidak bisa dihindari, ya mau gimana lagi? Laa khaula wala quwwata illaabillahil ‘aliyyil ‘adhiim,,,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s