Mutiara dari Kelas 6 SD

Standar

“Assalamu’alaikum, Pak Saleh”, sapaku cepat.
“Waalaikumsalam warahmatullah wabarakatuh…”, jawabnya teduh.
“Saya Tsani, pak. Dulu di kelas 6 di SD Sukonandi.”, kataku sambil menyalaminya.
“ Ooo… Sekolah di mana sekarang?”, wajahnya tampak menyambut. Senang aku lihatnya.
“ Di Amikom, pak. Condongcatur. Sekarang juga kerja di dekat sini” ,ucapku sambil tersenyum dan sedikit menunjuk arah.
“ Alhamdulillah… Mugo-mugo lancar” ,ucapnya.
“ Angkatannya sama siapa saja dulu?” lanjutnya sambil bersiap membonceng motor. Aku lalu menyebut beberapa nama teman sekelasku di SD Sukonandi.
“ Wali kelasnya siapa?”, tanyanya lagi.
“Pak Suyadi..”, jawabku.
“Ooo iya, iya… Sekarang beliau pindah di situ…”, katanya sambil mengisyaratkan arah tanpa jelas menyebut tempatnya. Tampaknya memang beliau harus segera pergi karena sudah ditunggu seorang takmir masjid untuk diboncengkan naik motor.
“Duluan, ya? Assalamu’alaikum…”
Monggo, Pak. Wa’alaikumsalam…”, balasku tersenyum.

Ini hari Jum’at dan sebagai lelaki muslim aku wajib ke masjid untuk shalat Jum’at. Di masjid dekat kantor, aku datang ketika khatib mulai naik mimbar dan aku segera shalat sunnah untuk penghormatan pada masjid, Tahiyyatul Masjid. Aku belum lihat wajah khatib yang berkhutbah karena fokus cari barisan terdepan dan segera shalat itu tadi.
Jujur kuakui, ketika shalat tahiyyatul masjid tadi aku nggak begitu khusyuk di rakaat pertama, itu karena aku dengar suara khatib jumat kali ini yang rasanya aku kenal. Pas di rakaat kedua, aku jadi tambah yakin itu suara yang benar-benar kukenal. Ditambah dengan caranya berbahasa Jawa sesekali dengan logat khasnya. (Sholat kok mikir-mikir…)

Dan setelah mengakhiri shalat sunnah itu, langsung kulihat siapa sang khatib. Dan ternyata dugaanku benar. (Dugaan benar bisa datang ketika sholat…??)

Pak Saleh. Logat bicaranya yang khas. Aslinya orang Aceh dan agak “gimana” gitu kalau mendengarnya berbicara bahasa Jawa. Ya karena beliau juga sudah lama tinggal di Jogja. Tapi itulah khasnya dari beliau yang sampai sekarang aku masih ingat betul.

Aku sedikit agak pangling dengan Pak Sholeh. Mungkin karena sekarang beliau tampak lebih tua dan sedikit gemuk, dan rambutnya tidak sepanjang dulu ketika terakhir aku melihatnya. Tanpa mengalihkan perhatianku dari apa yang Pak Sholeh sampaikan ketika khutbah, pikiranku melayang ke jaman kelas 6 SD dulu. Jaman yang jadi salah satu titik penting buatku.

Aku dulu jadi murid baru di SD Muhammadiyah Sokonandi Yogyakarta setelah pindah dari SD Muhammadiyah 4 Pucang Surabaya. Di kelas 6 ini untuk mata pelajaran Akhlaq diajar oleh Pak Saleh. Pada salah satu kesempatan Pak Saleh mengajarkan kebaikan berwudhu. Hingga akhirnya, minimal pada hari yang Pak Sholeh mengajar di kelasku, murid-murid dianjurkan untuk berwudhu sebelum berangkat sekolah. Sebagai anak SD seusiaku waktu itu, aku pikir itu cuma teori saja dari seorang guru.

Tibalah pada suatu hari Pak Saleh mengajar. “Siapa yang hari ini sebelum berangkat sekolah berwudhu? Angkat tangan…” Dan beberapa siswa mengacungkan tangan. “Jujur, ya?” dan mungkin demi mendengar kata “jujur” dari Pak Saleh, beberapa teman menurunkan tangan yang teracung tadi sambil senyum-senyum, ada yang nggak jujur rupanya.😀

Melihat (masih) sedikitnya jumlah siswa yang mengacungkan tangan tadi, Pak Saleh kembali mengingatkan kebaikan berwudhu. Aku masih biasa-biasa saja melihat teman-teman yang mengacungkan tangan, menurutku memang tidak perlu begitu diperhatikan teori macam itu. Aku dari rumah memang tidak berwudhu dulu sebelum berangkat sekolah.

Dan kemudian pada pertemuan pelajaran di minggu berikutnya, sebelum pelajaran dimulai, kembali Pak Saleh menanyakan, “Siapa yang hari ini berwudhu sebelum berangkat sekolah?”. Dan kali ini walaupun masih dengan agak malu-malu, teman-teman yang mengacungkan tangan lebih banyak dari pertemuan sebelumnya.

Mulai saat itu, aku jadi terusik. Aku juga ingin bisa mengacungkan tangan seperti teman-temanku yang berwudhu itu. Tentunya mengacungkan tangan dengan jujur. Aku ingin seperti mereka.

Dan mulailah aku berwudhu pada keesokan harinya sebelum berangkat sekolah. Walaupun hari itu tidak ada jadwal pelajaran Pak Saleh, setidaknya aku sudah terbiasa berwudhu untuk beberapa waktu hingga pelajaran Pak Saleh datang lagi.

Dan ketika sampai pada hari Pak Saleh mengajar, di tengah-tengah pelajaran, Pak Saleh bertanya, “Yang hari ini berwudhu?” Dengan mantap kuacungkan tangan dan kulihat teman-teman lain yang mengacungkan tangan lebih banyak dari pertemuan sebelumnya. Kira-kira dua pertiga kelas mengacungkan tangan. Wow… Aku mulai tersenyum. Rasanya seperti ada sesuatu yang kumenangkan. Akhirnya aku bisa jadi bagian dari teman-teman yang mengacungkan tangan dengan jujur. Senang.

Wudhu, suatu kegiatan mensucikan diri dari kotoran yang melekat di fisik. Juga suatu simbol penyucian diri sebelum beribadah.

Dan kebiasaan wudhu itu berlanjut hingga hari ini. Tapi kali ini konsepnya beda. Setiap merasa wudhuku batal , jika aku bisa berusaha untuk segera wudhu, ya aku langsung wudhu. Kapanpun, dimanapun. Ini karena ketika kira-kira seumuran SMP, aku merasakan bahwa sebenarnya wudhu tidak hanya ketika akan sholat. Wudhu itu ketika akan melakukan hal yang sifatnya ibadah. Makanya, kalau setiap aktifitasku ku”selimuti” dengan wudhu, maka apa-apa yang kulakukan akan (minimal) berpotensi sebagai ibadah. Kalaupun setelah berwudhu itu aku masih berbuat dosa atau ada salah-salahnya, ya itu biar Tuhan yang menyeleksi. Dosa atau nggak itu nanti urusan Tuhan, yang penting ada warna wudhu pada aktifitasku.

Ada satu lagi yang paling aku ingat dari Pak Saleh. Logatnya yang khas ketika dulu di kelas 6 SD mengajarkan tentang ciri orang munafik berdasarkan hadits Rasulullah:
Ayatul munaafiqi tsalatsun: idzaa khadatsa kadzaba, waidzaa wa’ada akhlafa, waidza’ tuminakhoona
Artinya: Ciri-ciri orang munafik itu ada tiga: jika berkata dusta, jika berjanji mengingkari, jika dipercaya berkhianat.

Ketika itu ada seorang teman mainku yang menirukan logat khas Pak Saleh ketika melafalkan hadits itu. Dan aku sempat ngakak mendengarnya menirukan lafal tersebut setiap Pak Saleh akan masuk kelas untuk mengajar.

Ketika Pak Saleh masih berkhutbah aku merencanakan untuk bisa ngobrol sedikit dengan beliau. Setidaknya aku ingin berterima kasih karena dulu sudah diajarkan untuk berwudhu sebelum berangkat sekolah. Dimana efek dari ajaran berwudhu itu sangat terasa manfaatnya hingga usiaku sekarang ini.

Aku percepat doaku setelah shalat demi bisa mencegat Pak Saleh. Akhirnya memang bisa, walau benar-benar sebentar, aku sempat bersalaman dan berbincang sedikit dengan Pak Saleh. Karena beliau ke masjid itu ternyata dijemput oleh seorang pengurus masjid dan pulang juga diantar pengurus masjid. Jadi nggak sempet ngobrol lebih banyak barang bertanya gimana kabarnya, di mana rumahnya sekarang, berapa nomor handphonenya kalau ada, dan berterima kasih itu tadi.

Mungkin hikmahnya memang aku mestinya lebih tepat berterima kasih sama Allah karena dipertemukan dengan Pak Saleh. Dan semoga ke depan aku bisa ketemu Pak Saleh-Pak Saleh yang lain. Semoga Pak Saleh diberi kesehatan selalu, dimudahkan segala urusannya, dikabulkan do’a-do’anya, kelak khusnul khotimah akhir hayatnya, dilapangkan dan terang kuburnya.
Aamiin

2 thoughts on “Mutiara dari Kelas 6 SD

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s