Mau nulis? Ini caranya.

Standar

Dengan atau tanpa FLP, aku akan tetap menulis.

Mungkin lebih tepatnya ‘harus’ ya? Tapi setidaknya ‘akan’ menunjukkan semangat untuk tetap suka nulis.🙂

Hari ini aku buka blog Forum Lingkar Pena Wilayah Yogyakarta untuk lihat pengumuman apakah aku diterima jadi anggota FLP Yogyakarta setelah tes wawancara beberapa hari lalu. Dan… lihat nama-nama yang tampil dari atas sampai bawah: namaku nggak ada.

Apa boleh buat, toh aku nggak sendiri. Dari 43 yang terpanggil untuk ikut seleksi tes wawancara, yang akhirnya terpilih untuk jadi calon anggota ada 25 orang.

Harus legowo, lapang dada, ikhlas. Lha iya to, waktu tes wawancara aku jawab jujur ketika ditanya oleh salah satu pewawancara (anggota FLP angkatan sebelumnya). Salah satunya aku ditanya tentang bagaimana kalau ternyata setelah wawancara ini aku nggak termasuk yang jadi anggota FLP. Dan aku jawab yang intinya kalau FLP itu bukan satu-satunya jalan buat jadi penulis, jadi ya tetep bisa belajar dari sumber lain. Ya, kan? Masa iya ilmu Tuhan yang satu ini, menulis, cuma bisa didapat dari satu sumber?

Memang sih, tetap ada motivasi tersendiri ketika memutuskan ingin bergabung dengan FLP. Dan motivasi tiap pendaftar bisa beda-beda pastinya. Aku sendiri cukup kagum dengan FLP setelah baca Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga di website resminya, ini organisasi terkonsep rapi. Kendati waktu baca novelnya Habiburrahman El-Shirazy aku belum ngeh kalau dia ternyata jebolan FLP perwakilan Mesir. Yang aku ingat ada logo FLP di cover Ayat-Ayat Cinta, yang aku tahu Helvy Tiana Rosa itu salah satu tokoh dunia penulisan di Indonesia, yang aku tahu Asma Nadia itu adiknya Bu Helvy tadi, yang aku tahu FLP organisasi yang dibentuk Bu Helvy dan adiknya.

Aku sendiri secara pribadi juga suka dengan semangatnya FLP yang menghidupkan tulisan dengan ruh dakwah agama. Ya, buatku agama itu ya kehidupan itu sendiri. Jadi, hidup itu bagian dari agama. Dan dakwah agama haruslah membumi agar dapat diterima secara luas. Silahkan sisipkan dalil-dalil, tapi tetap bahasakanlah ke dalam tulisan bahwa hidup itu ya agama itu sendiri. Hidup terintegrasi dengan agama.

Dan jelas masih banyak cara buat belajar jadi penulis, masih banyak sumber. Bisa dengan rajin nulis – apa aja yang kita mau tulis/ angkat suatu tema, baca karya orang lain – memperhatikan cara orang tersebut menggiring tema, bisa dari workshop/ pelatihan kepenulisan, bisa dari temu antara penulis dan pembaca yang sering diadakan penerbit, bisa dari materi kepenulisan yang dishare para netter di Internet, dan lain sebagainya. Toh juga yang belum diterima jadi anggota FLP Jogja ini tetap diajak untuk datang di pertemuan rutinnya yang 2x seminggu di UGM.

Jadi, masih menganggap akses ilmu menulis ini hanya dari satu sumber?😉

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s