Film Negeri 5 Menara, Bukan Novel!

Standar

Akhirnya setelah nunggu-nunggu sejak kabar Negeri 5 Menara (N5M) akan difilmkan, tadi ini jadi juga nonton filmnya di bioskop. Aku bela-belain biar bisa dapat hari pertama di jam pertama tayangnya, jadilah hari ini mampir ke kantor sebentar terus langsung ke bioskop. (tentunya nggak bilang sama kantor kalau mau ke bioskop :D)

Sebagai penggemar berat novel Negeri 5 Menara, aku penasaran akan seperti apa jadinya jika kisah N5M diadaptasi ke film. Karena novel N5M itu sendiri berkesan buatku sejak awal. Aku ikuti kabarnya mulai dari download video-video behind the scene-nya di youtube, catatan proses pembuatan film di website N5M sampai update status official page-nya di Facebook. Dan akhirnya aku juga harus siap kalau-kalau ekspektasiku yang terbangun waktu mengikuti kabar proses pembuatan film N5M berbeda dengan film pada akhirnya. (mungkin nanti aku bahas di tulisan tersendiri tentang hubungan novel dan film ;))

Film berdurasi dua jam ini diawali dengan euforia Alif dan Randai yang barusan lulus sekolah madrasah setingkat SMP. Lalu ayah dan ibu Alif yang berdebat tentang kelanjutan sekolah Alif. Alif yang awalnya tidak terima dengan desakan ibunya untuk masuk pesantren akhirnya luluh juga.

Yang aku suka dari bagian awal film ini adalah melihat Danau Maninjau lagi, lalu Jam Gadang. Aku begitu terkesan waktu tinggal di Bukittinggi dan main ke Danau Maninjau.😀

Setelah masuk pesantren Alif mengenal santri-santri baru seangkatannya yang akhirnya jadi teman satu gengnya. Merekalah Sahibul Menara: Alif dari Padang, Atang dari Bandung, Baso dari Makassar, Dulmajid dari Madura, Said dari Surabaya dan Raja dari Medan.

Tidak jarang muncul adegan-adegan kocak ala santri pesantren dalam kesehariannya. Antara lain ketika Baso yang pidatonya sempat berhenti gara-gara demam panggung akhirnya jadi lancar kembali berkat kedatangan boneka-boneka mainan yang dibuat Sahibul Menara waktu membantu Baso latihan untuk lomba pidato. Cerita di novel tentang Baso yang sempat memakai selimut tidur sebagai sarung untuk ibadah di masjid juga tergambar kocak di film ini. Dan silakan anda ketawa pada bagian ketika Alif akan berfoto dengan cewek keponakan Kiai Rais, Sarah.😀

Bagian yang paling menggetarkan adalah sewaktu pementasan Ibnu Batutah oleh santri angkatan Sahibul Menara bergantian dengan kisah Baso yang keluar dari Pondok Madani karena harus merawat neneknya yang sakit sembari mengajar ngaji anak-anak kecil di kampungnya. Namun Baso tetap memelihara mimpinya dengan menempel peta-peta belahan dunia di dinding kayu rumahnya. Hingga akhirnya pementasan Ibnu Batutah memperoleh tepuk tangan meriah dari semua penonton yang hadir di acara pementasan. Di sinilah puncak kisah Sahibul Menara yang mempersembahkan pementasan untuk Baso. Yang unik di bagian ini adalah tampilnya pimpinan Pondok Modern Gontor yang duduk di samping Kiai Rais (Ikang Fawzi), KH Syukri Zarkasyi. Beliau yang tampaknya berperan sebagai Bupati yang menghadiri pementasan santri Pondok Madani (dalam dialog Sahibul Menara sempat disebut Pak Bupati akan menghadiri pementasan santri Pondok Madani).

Ending film ini mengisahkan para Sahibul Menara yang terwujud mimpi-mimpinya. Mereka berfoto dengan menara di masing-masing negeri impiannya. Alif yang tadinya jurnalis di media Syams Pondok Madani akhirnya menjadi jurnalis VOA (Voice of America). Tiga orang Sahibul Menara reuni di Trafalgar Square, London dan tiga orang lagi di Indonesia membentuk sekolah untuk membantu pendidikan anak-anak Indonesia.

Man Jadda Wajada, sebuah pesan yang ingin disampaikan dalam film ini yang intinya keberhasilan didapat melalui kesungguhan. Dan penggunaan Man Jadda Wajada yang tepat juga tergambar apik di film ini. “Lif, jangan salah mengartikan Man Jadda Wajada!”, kata Said kepada Alif (demikian kurang lebih ;)).

Film Negeri 5 Menara, ada yang sedikit mengganjal buatku ketika menonton film ini: Pertama,aku agak kaget kok tahu-tahu film sudah sampai di endingnya🙂.

Kedua, iringan musik film atau scoring. Menurutku, musik scoring film N5M baru benar-benar terasa menghidupkan adegan yang ditampilkan ketika menjelang akhir film, yaitu ketika bagian memulai pementasan Ibnu Batutah oleh Sahibul Menara hingga akhir pementasan. Pada bagian itu musik scoring terasa begitu nyambung dengan adegan yang ditampilkan (makanya tadi aku sebut menggetarkan). Pada bagian-bagian sebelumnya malah ada momen (yang tanpa iringan musik scoring) yang pasti akan terasa lebih hidup dan berkesan jika diberi iringan musik scoring.

Ketiga, gara-gara petugas tiket bioskop (yang menurutku dan sebagian pengantri tiket lainnya) kurang profesional. Antrian tiket di barisanku sempat tidak berjalan gara-gara ada pembeli tiket yang kabarnya memborong tiket untuk dua studio pada jam tayang tertentu. Jadinya ngeprint tiketnya lamaaaa banget! Mestinya kalau seperti itu, petugas membuka loket tiket yang lain untuk mengakomodir pengunjung lainnya, atau layani belakangan pemborong tiket yang ngisruh itu. Jadilah aku nonton film Negeri 5 Menara tidak sejak detik pertama film diputar. Padahal itulah alasanku buat bisa sampai ke bioskop cepat-cepat.

Nah, bagi anda penggemar novel Negeri 5 Menara, saya sarankan untuk menanggalkan keinginan untuk “melihat novel dalam film”. Ini baik untuk belajar memahami bahwa novel dan film adalah dunia yang berbeda. Jelas, film bukan novel dan novel bukan film. Tapi buat yang menggemari novel N5M ada baiknya menonton film ini😉

4 thoughts on “Film Negeri 5 Menara, Bukan Novel!

  1. iya, bagaimanapun sebuah novel bila difilmkan, tentu berbeda; selalu ada saja bagian yang ada di novel, tapi ga ada di film ato sebaliknya; tapi…, menonton film bagi yang sudah membaca novelnya, tentu keasyikan tersendiri….

  2. Bagi yang udah pernah baca novelnya, setidaknya dapat penggamabran visualnya. Masalah puas atau nggak ya kembali pada penontonnya itu sendiri.
    Novel karya penulis, film karya sutradara🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s