Makan Siang, Kematian dan Ujian Mid

Standar

Ceritanya ini kemarin lusa, tapi baru sempat nulis sekarang🙂

Jarum jam di atas meja makan menunjukkan pukul 14.40, menurut jadwal ujian hari Selasa ini mulai pukul 15.00. Baru sempat makan siang menjelang berangkat ujian, jadi makannya agak ngebut.

Di tengah ngebutnya makan dengan porsi yang aku kurangi dari biasanya, aku jadi ingat hal yang jadi perhatianku akhir-akhir ini: kematian.

Kebanyakan orang mungkin malas atau ngeri waktu bicara tentang mati, tapi aku coba mencari sisi yang mungkin mati itu nggak kelihatan menyeramkan. Iya, nggak? Kalau handphone dari depan kelihatan keypad dan layarnya, maka dari belakangnya yang kelihatan lain lagi, kan? Sama halnya dengan kematian, bisa jadi nggak kelihatan seram.🙂

Di suapan sendok yang entah keberapa kalinya, aku membayangkan: sampai mana istilah “mati” itu berlaku?

Dan dalam beberapa kunyahan nasi dan kawan-kawannya, aku dapat kesimpulan kalau istilah “mati” itu suatu proses. Proses menuju kehidupan setelah mati. Lho, habis mati kok masih hidup lagi? Hidup yang gimana lagi itu?

Gila, tambah cepet aja waktunya jalan. Makan siang selesai, pamit bapak-ibu dan motor kubawa melaju ke kampus tepat jam 3 sore kurang lima menit waktu rumah.😀

Di jalan, sambil nyetir motor aku masih mikirin masalah tadi. Jadi kalau setelah mati masih hidup lagi, kayak apa ya?

Di satu tikungan yang nggak jauh dari Stasiun Lempuyangan, aku mulai menemukan titik terang. Aku ingat betul tiap baca Qur’an (yang waktu bacanya random alias nggak tentu tapi agak rutin :D), aku sering banget ketemu ayat yang kira-kira berbunyi “~khoolidiina fiihaa abadaan” yang artinya kurang lebih “~mereka kekal di dalamnya”.

Lho, kekal? Abadi? “Abadaan” yang disebut Qur’an itu kan maksudnya ya “abadi” itu tadi. Kalau aku ingat-ingat lagi di terjemahan Al-Qur’an, potongan ayat yang berbunyi “~mereka kekal di dalamnya” itu tidak jauh-jauh dari pembahasan tentang kehidupan setelah “mati” itu tadi. Biasanya membahas tentang ganjaran atas kehidupan manusia di dunia fana, yang kesimpulannya si manusia itu ke surga ataukah ke neraka sebagai tempat hidup kekalnya.

Hmmm…. Jadi mulai lebih jelas sekarang… Jadi dapat kesimpulan nih, kalau “mati” itu memang cuma proses transisi pindah alam kehidupan. Ternyata istilah “mati” itu cuma berlaku di dunia yang tidak abadi alias dunia fana yang sedang kita tempati saat ini. Karena sebenarnya hidup itu tetap berlanjut, cuma dengan padatan dan dunia yang berbeda. Bukan hidup di dunia fana lagi.

Apakah setelah kematian di dunia itu masih ada mati-mati lagi? Rasanya sih nggak bakal ada mati lagi, lha tadi sudah jelas disebutkan kalau ada sesuatu yang disebut dengan “~mereka kekal di dalamnya”. Hmm… Sampai di sini aku dapat kesimpulan kalau manusia itu Tuhan ciptakan untuk abadi, tak berakhir. Tinggal nanti si manusia itu abadinya di surga atau di neraka. Kecuali kalau Tuhan ingin membuat kehidupan baru lagi yang mungkin juga dengan konsep baru. Hah… Senyumku mengembang dibalik kain penutup debu dan asap jalanan.🙂

Nah, kembali ke awal tadi. Jadi, kenapa ya kok harus takut dengan mati atau meninggal dunia? Padahal kan kita tetap hidup, cuma wujud dan alam dunianya berbeda. Cuma ya itu nanti, tinggal kitanya bakal abadi di surga-Nya atau di neraka-Nya?

Masalah itu mungkin sebaiknya kita geser sedikit ketakutan kita pada “bagaimana kelak kita mati” atau “dalam keadaan apa kita mati”? Dan “ingin mati dalam kondisi yang bagaimana” itu sebenarnya bisa saja kita desain dari sejak hidup sekarang ini. Boleh kan kita menawar Pencipta kita?🙂

Tinggal minta pada Sang “Big Boss” untuk menggiring diri kita pada kondisi mati yang kita inginkan, maka insya Allah kita berada di tempat yang tepat untuk menjalani kehidupan yang abadi.

Benar atau nggaknya yang aku pikir tadi, cuma Allah yang tahu. Wallahu’alam.🙂

Akhirnya, aku telat masuk ruang ujian. Tepatnya telat 20 menit dari total waktu 60 menit buat mengerjakan soal. Rupanya emang harus lebih disiplin waktu lagi…

~Tsani
(Jogja, 19 april 2012 | 01:09 WIB)

*foto: ujian mid Pemrograman yang selesai dalam sisa waktu😀

3 thoughts on “Makan Siang, Kematian dan Ujian Mid

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s