Ketika ‘Ngawur’ Menjadi Solusi

Standar

’Ngawur Karena Benar’ bukan saja sebuah buku, tapi juga cara pandang. Begitu menurut si penulis, Sudjiwo Tedjo, dalam bedah bukunya kemarin malam di Togamas Affandi (Gejayan), Yogyakarta. Acara yang gayeng, tapi juga mendalam.

Di awal bedah buku yang begitu terasa sebagai diskusi ini, Mbah Tedjo membuka dengan pandangan tentang ketidakpercayaannya akan sejarah Indonesia yang dari dulu banyak disebut. “Saya nggak percaya Indonesia dijajah 300 tahun. Saya nggak punya data sejarah, tapi saya lihat orang-orang ini lapar senang, nggak lapar juga senang. Orang-orang kayak gitu… nggak mudah ditaklukkan sebenarnya,” ujarnya yang disambut gerr hadirin. “Saya feeling aja gitu, saya memang nggak punya data sejarah. Dan ternyata akhir-akhir ini muncul juga penemuan peneliti sejarah bahwa sebenarnya kita ini sengsara dijajah hanya sekitar 40an tahun. Yang lama penjajahannya itu di kraton-kraton, kerajaan-kerajaan…,” lanjutnya.

Mbah Tedjo melanjutkan, kalau saja dari dulu kita ditanamkan berperang 300 tahun, bukan dijajah 300 tahun, maka cara pandang kita akan lain ceritanya. “Jadi dalam logika ‘Ngawur Karena Benar’ itu, kita tidak dijajah 300 tahun, tapi berperang 300 tahun,” jelasnya.

Kenapa harus ngawur? Karena kalau nggak sabar lagi (ketika menuju perubahan), maka satu-satunya jalan adalah ngawur. Misal mau ke arah Monumen Jogja Kembali (Monjali), semua jalan macet, ditutup, dan sebagainya, maka satu-satunya jalan untuk menuju Monjali adalah ngawur. Lompat-lompati rumah orang kayak ninja gitu, atau dengan cara lain hingga kita sampai. Sederhananya gitu.

Menarik ketika dibuka sesi pertanyaan oleh mbak MC (yang manis :D), cukup banyak hadirin yang ingin bertanya. Dari sini lahir diskusi yang cukup dalam. Dan yang jadi catatan khususku adalah ketika ada salah seorang hadirin yang menanyakan kenapa dalam buku ‘Ngawur Karena Benar’ ini tokoh-tokoh yang dihadirkan adalah tokoh wayang 4 serangkai, Punokawan.

Koreksi Mbah Tedjo ketika menjawab pertanyan itu penyebutannya yang benar adalah Panakawan (baca: Ponokawan). ‘Pana’ artinya terang, ‘Kawan’ artinya teman. Mereka adalah Bagong, Petruk, Gareng, dan Semar, yang diterangkan satu-satu filosofinya.

Bagong. Bagong ini selalu ingin polos. Dan saking polosnya, dia tampak sangat kritis.

Petruk. Petruk ini easy going. Petruk wayang yang paling tersenyum diantara tokoh wayang yang lain, senyumnya tampak paling lebar. Petruk ini jenisnya bolong, apa yang masuk ke dia keluar lagi. Misal Petruk sedang main bola basket, lalu di dekatnya ada Gedung WTC ditabrak pesawat, dia berhenti sejenak lihat gedung yang ditabrak, “Oh…”, lalu main basket lagi.

Gareng. Gareng ini intelektual. Semua hal dipikirin Gareng, dicari alasan penyebabnya. Misal ada botol ditaruh di tengah meja, dia perhatikan. Dicoba diteliti bedanya kalau ditaruh di pinggir meja gimana, dan seterusnya. Maka itu Gareng matanya juling, yang artinya tidak fokus. Tangannya ceko’ (Jawa: ‘kithing’), yang artinya tidak ingin memiliki. Kakinya pincang, yang berarti jalannya tidak neko-neko, tidak melangkah ke yang macam-macam.

Yang terakhir, Semar. Semar ini moderator. Semar satu-satunya wayang yang shalatnya tidak tentu. Semua posisi dianggapnya bersyukur/ ibadah. Dia berdiri karena bersyukur diberi kaki, bahkan ngupilnya pun juga bagian dari shalatnya. Hanya di Semar, tawa dan tangis itu tidak jelas. Tawa dan tangis hampir tidak ada bedanya.

“Saya kira orang stress karena tidak tahu kapan harus keluar Petruk, Bagong, Gareng, tidak ada moderator (Semar), dari dalam dirinya,” ujarnya.

Mbah Tedjo mengakui kalau penulisan buku ini tidak teratur, maksudnya apa yang sedang terlintas di pikiran dia, maka itulah kata yang dituliskan di awal paragraf, lalu diikuti mengalirnya kata-kata lain. Mengalir saja nulisnya. Dan pasti suatu waktu akan menemukan saat tibanya paragraf terakhir, inti, yang tidak bisa lagi ada dorongan untuk meneruskan tulisan. (ngerti maksudnya kan, ya? :D)

Menurutnya, yang hilang dari negara kita adalah mencerna apa yang masuk ke kita, yang ketika keluar, kita tetap menjadi kita (tidak lalu jadi terpengaruh). Itulah kenapa kita ini minder.

Jangan ada kebencian, karena manusia sak dermane manungsa (pada dasarnya manusia) hanya menjalani kodrat. Ada yang mengalami perannya sebagai Rahwana, dll. Ayo kita kritik koruptor tapi jangan dengan kebencian. Karena benci itu karmanya, akibatnya berat. Sudah berapa banyak kiai, polisi, yang setelah melawan narkoba (tapi dengan kebencian), anaknya malah jadi pecandu narkoba. Begitu urai Mbah Tedjo di akhir acara.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s