Cinta yang Menyelamatkan

Standar

Jadi anak yatim, gimana rasanya? Orang-orang yang kecilnya tergolong hidup tidak yatim, dapatkah merasakan apa yang anak yatim rasakan? Tapi, perlukah kita merasakan jadi anak yatim?

Tema ini mengendap sekian minggu di kepalaku, baru sekarang sempat nulisnya😮. Ini gara-garanya beberapa minggu lalu aku datang di sebuah bedah buku di Togamas Affandi (Gejayan), Jogja. Sebuah novel karya seorang gadis akhir belasan tahun, Angeline Julia, berjudul “Hitam Putih Dunia Angel” teribitan Stiletto Books, Jogja, 2012.

Aku bukan mau membahas seperti beberapa tulisanku tentang bedah buku sebelumnya. Ada hal menarik yang kupetik dari apa yang sempat Angel ceritakan dalam bedah bukunya tempo hari itu. Aku memang belum membaca bukunya, tapi kusimak cerita Angel di acara ini.

Menjelang akhir acara bedah bukunya, Angel sempat mengungkapkan isi hatinya. Angel mengaku iri ketika melihat ada anak kecil digandeng orang tuanya, disayang orang tuanya. Kadang dia sampai menangis ketika mengingat kok dulu “Mama”nya seperti bersikap nirkasih sayang padanya?

Angel mengisahkan dalam bukunya tentang masa lalunya bersama seorang wanita yang ia panggil “Mama”. Seorang wanita yang tampak lembut pada awalnya tetapi berubah menjadi mimpi buruk bagi Angel. Menurut cerita Angel, sejak lahir dijual orang tua kandungnya pada seseorang karena tidak kuat membayar biaya persalinan rumah sakit. Hingga akhirnya dia diasuh oleh wanita kaya yang dia panggil Mama yang pada waktu-waktu selanjutnya Angel mendapat perlakuan buruk darinya hingga Angel sempat menjadi lesbian, tak beragama, dll. Namun akhirnya saat ini Angel telah menjadi mualaf, dekat dengan seorang lelaki, berusaha meninggalkan masa lalunya.

Sesaat setelah Angel mengungkapkan hal tersebut, terpetik satu hal di kepalaku. Inikah alasannya kenapa Tuhan begitu menekankan pentingnya menyantuni anak yatim?

Angel, yang kalaupun kedua orang tua kandungnya masih hidup, tidak mendapat kasih sayang seutuhnya dari keduanya karena sudah terpisah sesaat setelah kelahirannya. Ketika mendapat pengasuh pun ia diperlakukan tidak manusiawi. Menurutku itu cukup untuk menyebut kalau Angel terkondisi sebagai anak yatim.

Mungkin begini alurnya, Tuhan begitu menekankan pentingya menyantuni anak yatim karena kelak si anak yatim yang tersantuni itu nanti bisa jadi mengingat kebaikan, cinta, dan kasih sayang orang yang menyantuninya. Sehingga kelak saat dewasanya si anak yatim akan mendoakan dengan tulus orang yang menyantuninya.

alur cinta yang menyelamatkan🙂

Dan itulah amal yang berpotensi menyelamatkan keduanya kelak di akhirat: si yatim yang disantuni selamat karena bakti dan doanya pada orang tua asuhnya, orang yang menyantuni selamat karena kasih sayangnya dan cintanya pada anak yatim.

Ya, itu dia mungkin alasannya. Itu dia kenapa orang yang tidak mau menyantuni anak yatim bisa sampai pada level pendusta agama.

Masa iya sih, Tuhan tidak memberi ‘hadiah khusus’ bagi hambaNya yang ikhlas menjadi jembatan cintaNya kepada anak yatim seperti kemuliaan di hadapanNya, kemudahan segala urusan, jalan keluar bagi setiap kesulitan, tempat yang pantas di sisiNya, dsb?😉

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s