Buya Syafii…

Standar

Sebetulnya ini yang membuat aku tertarik untuk datang di bedah buku “Marhaenis Muhammadiyah”, kehadiran Prof. Dr. Ahmad Syafii Maarif, MA. Atau yang akrab dipanggil Buya Syafii. Di publikasi acara bedah buku itu Buya Syafii tertulis sebagai pemberi kata pengantar, bukan pembicara utama.

Karena aku ada misi pribadi yaitu mendapatkan tanda tangan Buya Syafii di buku autobiografinya yang beberapa bulan lalu kubeli. Buku autobiografi beliau yang berjudul “Titik-titik Kisar di Perjalananku” terbitan Mizan.

Pikirku, beliau akan datang cukup untuk keperluan berbicara memberi pengantar acara bedah buku ini setelah itu pulang atau menghadiri acara lainnya. Itu terpikir karena beberapa bulan lalu aku hadir di diskusi publik di gedung PP Muhammadiyah Yogyakarta yang mengundang Buya Syafii, di situ Buya Syafii menyatakan sudah bukan saatnya lagi beliau diundang sebagai pembicara utama karena faktor usia dan banyaknya pembicara handal lainnya yang berusia lebih muda. Dan tak lama kemudian beliau pulang duluan.

Tapi ternyata dugaanku meleset. Setelah Buya memberi pengantar yang singkat namun cukup menarik, beliau tetap duduk di deretan depan hadirin sampai akhir acara. Ah… Asik, pikirku. Berarti aku tidak perlu mencegat Buya Syafii kalau-kalau beliau pulang duluan.

Selesai acara bedah buku, Buya dan para pembicara diberi plakat kenang-kenangan oleh panitia. Dan Buya kembali duduk di kursinya tadi. Beberapa orang tampak bersiap ingin berbicara dengan Buya, termasuk aku.

Selagi menunggu Buya selesai berbicara dengan seseorang, kulihat ada tempat duduk kosong di sebelah Buya. Begitu selesai bicara dengan orang tersebut, segera kudekati dan kutodong Buya Syafii😀. “Assalamu’alaikum, Buya. Boleh minta tanda tangan di bukunya, Buya?”, sapaku sambil menyalaminya, menyodorkan halaman buku dan pulpen terbuka.

Dan Buya tampak terkejut melihat buku yang kusodorkan. Sebetulnya aku agak kurang jelas mendengar kalimat yang Buya ucapkan karena berlogat Minang cukup kental dan agak cepat. Tapi yang kutangkap dengar kurang lebih, “Eeeh… Dapat buku dari mana lagi ini?”

Secepat kilat aku terpikir, mungkin buku autobiografi ini tidak dicetak lagi dan memang ini buku sudah sejak 2006 lalu terbitnya kendati yang kumiliki cetakan pertama edisi revisi 2009, tapi masih kutemukan satu yang tersisa di Mizan Book Store Yogyakarta. Kujawab saja, “Dari Mizan, Buya…” (entah Buya perhatikan jawabanku atau tidak, bukan masalah :D). Lalu pelan-pelan Buya Syafii membubuhkan tanda tangannya di halaman yang kusiapkan, plus tanggalnya. Asiiik…😀

Setelah urusan tanda tangan selesai kujabat tangan Buya Syafii sembari berterima kasih dan salam. Selanjutnya Buya Syafii diwawancarai wartawati dan lainnya.

Aku mundur teratur dan tetap di situ sambil memperhatikan Buya Syafii. Pria kelahiran Calau, Sumpur Kudus, Sumatera barat ini pasti mudanya dulu gagah. Memang sih, belum sampai selesai aku baca buku autobiografi ini, tapi pasti beliau menyimpan banyak kisah hidup yang tidak hanya menarik tapi juga inspiratif. Sudah setua ini dan beliau masih tampak segar, lugas bicaranya, tajam berpikirnya.

Sebelum keluar gedung tempat acara, beliau menyempatkan beli buku di stand meja penerbit buku “Marhaenis Muhammadiyah”, Penerbit Galangpress.

Dan… ini yang menarik. Di depan, ada seorang panitia yang tampak menyiapkan sepeda. Ternyata Buya Syafii yang naik sepeda! Aku sempat bertanya pada seorang wartawan di dekatku tentang rumah Buya Syafii, katanya memang tidak jauh dari gedung tempat acara berlangsung.

Menurut pengakuan Buya ketika ditanya seorang wartawati, Buya biasa bersepeda seperti ini, pernah juga sampai daerah dekat Tugu Yogyakarta. Jarak yang cukup jauh untuk seusia Buya Syafii, kendati jalanannya lurus saja sebenarnya.

Kuingat-ingat setelah pulang ke rumah, memang di buku autobiografi ini ada alamat Nogotirto Elok. Aku hampir lupa, memang gedung tempat berlangsungnya acara bedah buku ini di daerah Nogotirto, Sleman.😀

Ah, Buya… Nggak heran kalau Damien Dematra (sutradara dan penulis) begitu mengagumimu dalam proses penulisan novel dan film tentangmu. Bersepeda menghadiri acara ini sebagai pembicara menunjukkan kesederhanaan dan berjiwa bebas, seperti ungkapmu di suatu acara TV tahun lalu.

Tampaklah contoh bahwa dalam keseharian, sebaiknya orang tampak biasa-biasa saja. Melihat Buya yang setua ini masih segar bersepeda, sempat teringat kalau beliau dulunya Ketua Umum PP Muhammadiyah, penerima Ramon Magsaysay Award 2008, sempat turun tangan mengurai kisruh urusan KPK tahun lalu, guru besar Sejarah UNY, erat dengan tokoh-tokoh agama di dalam dan luar negeri. Ya, biasa saja. Toh, di mata Tuhan manusia nggak ada apa-apanya.

Semoga Buya Syafii selalu dalam lindungan Allah… aamiin

*postingan menyusul, catatanku dari bedah buku “Marhaenis Muhammadiyah” karya Prof. Dr. Abdul Munir Mulkhan, SU.😀

3 thoughts on “Buya Syafii…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s