Reuni, Satu Jalan Menuju “Puncak”

Standar

Reuni? Apa sih sebenarnya yang didapat dari acara reuni? Di jaman yang komunikasi satu sama lain begitu mudahnya seperti ini masih penting ada acara ketemu-ketemuan face to face?

Tapi ternyata ada pentingnya juga acara reuni.

Dan tampaknya memang penting.

Pentingnya di mana? Banyak. Salah satunya mencermati. Mencermati teman-teman yang lama tidak bertemu. Mencermati apanya? Banyak juga. Aku ambil contoh, mencermati ceritanya, sharingnya, penampilannya, dan sebagainya yang ujung-ujungnya bisa kita ambil pelajaran darinya.

Kemarin aku datang di acara reuni yang juga syawalan teman-teman SD. Teman-teman SD yang bahkan aku hanya setahun bersama mereka karena statusku yang dulu murid pindahan dari luar kota. Masuk sekolah di Jogja kelas 6 SD, pindahan dari Surabaya. Tahun ini, sepuluh tahun dari jaman lulus SD.

Kembali ke tema mencermati, sejujurnya banyak hal yang kupetik dari berkumpul lagi dengan teman-teman SD.

Ada yang dari dulu wajahnya gitu-gitu aja.😀

Ada yang dulunya kurus sekarang atletis bahkan gemuk.

Ada teman cewek yang, ah… kadang bikin males kedipin mata😀

Ada yang sudah lulus kuliah dan lanjut studi.

Dengar-dengar ada yang sudah nikah tapi orangnya nggak datang di reunian ini.

Ada yang mulai usaha kecil-kecilan, ada yang lagi cari-cari kerja.

Ada yang masih kuliah sambil kerja (termasuk aku, :))

Ada yang merantau, hanya pada waktu-waktu tertentu bisa pulang ke Jogja.

Ada yang dulu rambutnya tipis sekarang gondrongnya bikin pangling.😀

Rupanya Allah sedang kasih pelajaran tentang track record hidup seseorang. Ada yang saat ini tampaknya sedang di kisaran puncak, ada yang masih mendaki di lereng, bahkan ada pula yang masih harus berjuang memulai perjalanan pendakian dari bawah. Posisi saat ini seperti berbanding lurus dengan jalur pendakian yang ditapaki😉

Ada yang tampaknya “meninggalkan dirinya” sejenak, ada yang tetap menampilkan “ya ini diriku sebenarnya dan aku nggak perlu minder”.

Syukur, masih bisa kumpul-kumpul silaturahmi. Syukur, Allah masih menghadirkan kehangatan diantara kami. Syukur, Allah memperjalankan diri hingga saat ini. Syukur, ya, memang harus tetap disyukuri di manapun posisi pijak saat ini.

Syukur, agar tetap dipertemukan dengan jalur pendakian menuju puncak ketika menemui tebing, jurang, tumbuhan lebat, binatang buas. Syukur, agar tetap kuat menuju puncak yang sebenarnya, tempat di mana keridhaan Allah berada.🙂

Jogja, 02:28 waktu komputer
~tsani

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s