Akselerasi Ikhlas

Standar

Orang modern menyebutnya ‘passion’ untuk suatu hal yang ia rasa sebagai kehendak hatinya dan ia memperjuangkannya. Ini mudah kita temukan di kemasan acara motivasi, diskusi-diskusi wirausahawan baru, buku-buku new age, dan lain sejenisnya.

Akhir-akhir ini aku merenungkan masalah passion ini, di mana letak intinya. Aku menemukan ‘fitrah’ sebagai kata ganti yang lebih mendasar untuk ‘passion’.

Dewasa ini sering kita dengar pembicaraan tentang berapa banyak orang yang merasa tidak cocok melakukan suatu pekerjaan, ingin pindah profesi yang lebih menjanjikan hasilnya tapi menyenangkan dijalani; yang akhirnya diberi solusi ‘follow your passion’ – ikuti kata hatimu, panggilan hatimu, apa yang paling kamu suka itulah yang kamu kerjakan, dsb.

Aku membaca itu semua sebagai gerak menuju penyadaran. Penyadaran bahwa di dalam diri manusia ada hal inti yang perlu ia perhatikan, yang pada waktu-waktu tertentu ternyata ia tinggalkan.

Contohnya dalam hal memilih jurusan kuliah, minatnya pada sastra kok kuliah di fakultas teknik? Dalam hal pekerjaan, orang bidang ilmu pertanian ditempatkan di urusan administrasi pengadaan proyek pemerintah.

Bisa jadi yang kuliah di jurusan teknik tadi karena faktor dibiayai orang tua (yang tidak enak bila menolak keinginan orang tua) atau karena beasiswa yang tersedia hanya untuk fakultas teknik (daripada tidak kuliah).

Bisa jadi lulusan ilmu pertanian yang bekerja di urusan administrasi karena ingin segera mendapatkan pekerjaan, besoknya bertemu dengan lowongan pekerjaan yang terdapat syarat “segala jurusan bisa melamar”, kemudian ternyata diterima.

Dan tiba pada harinya timbul getaran dari dalam hatinya, “Kok aku merasa nggak cocok ya dengan apa yang aku jalani?”

Fitrah bergetar. Itulah panggilan hati, kata hati yang pada waktu itu digeser dari orbitnya, pada waktunya ingin kembali lagi.

Tinggal bagaimana getaran fitrah itu direspon kemudian. Apakah karena sudah nyaman dengan yang sekarang lantas bisa dikesampingkan, kendati tetap tidak tahu bagaimana kejelasan masa depannya. Ataukah memutuskan segera mengikuti getaran fitrah tersebut dan siap menerima konsekuensi dari keputusannya tersebut.

Kenapa dari tadi saya sebut fitrah? Karena ternyata ketika tidak mengikuti fitrah, ada semacam rasa tidak rela, tidak ikhlas bila hal itu dijalani terus-terusan.

Lho, kerja kok nggak ikhlas? Belajar kok nggak ikhlas? Gimana itu nanti hasilnya?

Maka rupanya penting untuk memperhatikan fitrah kita, maunya apa, minatnya pada hal apa, apa yang paling ikhlas dijalani. Katanya untuk menjemput rezekinya Tuhan, bekerja itu harus ikhlas?

Maka itu ada dua pilihan untuk bisa ikhlas, rela mengikuti apa yang bisa dikerjakan saat ini atau segera pindah haluan mengikuti kata hati dengan segala konsekuensi. Memang segala hal memiliki konsekuensi, tapi tetap kadarnya berbeda-beda.

Jadi intinya dari yang muter-muter tadi , mengikuti panggilan hati, kehendak hati, apa yang senang dijalani, otomatis akan melahirkan keikhlasan dalam melakukannya. Bagaimana tidak ikhlas lha wong sudah senang menjalani? Seberat apapun konsekuensi tetap bisa diterima karena dasarnya senang menjalani.

Bayangkan ketika will-nya hati dilakukan sejak awal, percepatan ikhlas yang berujung pada ridhonya Tuhan dapatkah dibendung?

Maka itu penting menghormati keputusan orang lain, pilihan orang lain untuk mengikuti kata hatinya, jangan dia kita paksa untuk mengikuti hal yang kita tidak mau ikut mempertanggungjawabkannya. Sederhananya: “Aku memang bisanya gini, kok. Mau apa?!”

Lalu bagaimana caranya bertemu dengan fitrah?

Ya bagaimana bisa tahu fitrah kalau kita sendiri tidak sering berdialog dengan hati kecil? Bagaimana fitrah kita bisa segera tergetar kalau kitanya saja menjaga jarak dengan Yang Maha Membolak-balik Isi Hati? Bagaimana bisa mencapai passion kalau kitanya saja masih suka ikut-ikutan orang lain? Bukankah sudah dibekali hati dan akal?

Kalau kita ini lebah, masa iya mau ngentup dengan gaya nyamuk yang menusukkan jarumnya dari depan? Kalau kita ini gajah, buat apa merengek-rengek pada Tuhan minta bisa terbang seperti burung? Kalau sudah ikan, berarti cari mati kalau mencari makannya di atas pohon.

Bisa jadi mengikuti fitrah memang nggak mudah, tapi apa Tuhan nggak bisa bikin jadi mudah secara tak terduga (min khaitsu laa yahtasib)? Maka itu will-nya hati butuh niat baik yang kuat.

@erteha
Jogja, 31/10/2012
08:42 waktu netbook

One thought on “Akselerasi Ikhlas

  1. novi

    Min khaitsu laa yahtasib(dari arah yg tak disangka2).Membaca tulisan di atas membuatku teringat pada kisah Alif Fikri di novel ranah 3 warna.Tuhan memang seringkali memberikan ‘kejutan manis’🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s