Gunungkidul Bumi Kinanthi dan Proses Kreatif Tasaro

Standar

“Suatu saat, mencintai adalah memutar hari tanpa seseorang yang engkau sayangi. Sebab, dengan atau tanpa seseorang yang engkau kasihi, hidup harus tetap dijalani.”
(Kinanthi, Terlahir Kembali – Tasaro GK)

Sebenarnya saya belum membaca novel Kinanthi baik yang “Galaksi Kinanthi” maupun versi terbitan ulangnya, “Kinanthi, Terlahir Kembali”. Tapi setidaknya dari bedah buku tadi malam ada pemahaman yang bisa dipetik. Berikut yang saya catat di bedah buku tadi malam. Buat yang juga hadir di acara tersebut, CMIIW, ya?😉

Bedah Buku Kinanthi with Tasaro GK

Bedah Buku Kinanthi with Tasaro GK

Nama Kinanthi diambil dari salah satu nama tembang Jawa yang

mengisahkan perjalanan kehidupan manusia dari masa bayi hingga meninggal. Kinanthi merupakan tahapan seorang anak di-kanthi (digendong). Kinanthi mewakili kejawaan dan filosofi tentang anak yang dituntun orang tuanya.

Sebelumnya Tasaro bercerita tentang latar belakang pemilihan nama Kinanthi. Kata-kata dosennya menanggapi tugas karya tulisnya semasa kuliah dulu hingga kini diingat dan dipegangnya. Dosennya pernah berkata bahwa nama tokoh dalam novel atau cerita harus mewakili suatu bangsa atau paham atau sifat atau – yang kata Tasaro – “sesuatu yang sesuatu”.

Novel Kinanthi sebenarnya adalah karya lama Tasaro berjudul “Galaksi Kinanthi” yang diterbitkan kembali oleh Bentang Pustaka tahun 2012 lalu dengan judul “Kinanthi, Terlahir Kembali”. “Kinanthi, Terlahir Kembali” hadir dengan tambahan 5 bab baru sebagai kelanjutan kisah Kinanthi dalam “Galaksi Kinanthi”. Tasaro bercerita Galaksi Kinanthi terbit di era novel-novel Indonesia judul-judul ‘cinta’ di belakangnya. Misalnya Ayat-ayat Cinta, dsb. Judul novel Kinanthi juga sempat akan ditambahkan kata ‘cinta’ di belakangnya namun akhirnya dipilihlah judul Galaksi Kinanthi.

Di bedah buku tersebut Tasaro mengungkapkan akan ada novel Kinanthi 2 yang menjanjikan kejutan. Kejutan karena penelusuran lebih mendalam terhadap sosok asli Kinanthi yang ia fiksikan di novel. Sempat ia ceritakan pula kisah Kinanthi yang asli bukan berasal dari Gunungkidul melainkan Cianjur, Jawa Barat.

Kenapa Tasaro memilih Gunungkidul? Karena menurut Tasaro yang paling membekas baginya adalah daerah tempat asalnya, Kabupaten Gunungkidul, DIY. Dan dari Gunungkidul pula jumlah terbesar TKW Indonesia berasal. Setengah bercanda ia membayangkan beberapa tahun ke depan semboyan “Gunungkidul Handayani” akan berubah menjadi “Gunungkidul Kinanthi” atau “Bumi Kinanthi”, berkaca pada sebutan “Bumi Laskar Pelangi” bagi Belitung setelah booming novel dan film Laskar Pelangi.

Maka dari itu salah satu tujuan kedatangan Tasaro dan kawan-kawan ke Yogyakarta kali ini mengunjungi Gunungkidul guna mengambil foto-foto lokasi yang memungkinkan untuk produksi film Kinanthi. Foto-foto tersebut rencananya akan ditunjukkan ke calon produser film Kinanthi.

Proses Kreatif

Pengalaman, riset, dan imajinasi adalah 3 hal kombinasi ketika menulis novel/ fiksi. Demikian Tasaro sebutkan ketika menanggapi pertanyaan seorang penanya yang hadir di bedah buku ini.

Pengalaman merupakan hal yang paling gampang dituliskan, umumnya bagi penulis pemula. Riset, dalam hal ini untuk membangun setting cerita. Mendatangi atau merasakan langsung setting yang akan kita ceritakan, misalnya tempat, akan membuat cerita terasa nyata. Imajinasi bermanfaat untuk membangun bayangan akan suasana atau setting cerita.

Tasaro mengaku menulis novel Kinanthi hanya sekitar 1 bulan. Tapi risetnya 1 tahun.

Bagi Tasaro menulis itu seperti akting. Penulis harus bisa menjadi karakter yang akan dituliskannya. “Saya tidak membatasi genre apa yang saya tulis”, akunya. Bagaimana caranya? “Karena latar belakang saya jurnalistik”. Jurnalistik cocok untuk menulis tema apapun. Menulis feature dapat bermanfaat untuk menulis novel.

Melanjutkan jawaban tersebut Tasaro bercerita tentang ibunya. Bila hadir di bedah buku tadi malam memang tampak perubahan mimik Tasaro ketika bercerita tentang ibunya yang baginya selalu membuatnya ingin menangis. Matanya tampak memerah dan basah, air mata tebit di sudut matanya.

Ibunya dulu adalah kepala sekolah di SD Trowono 1, Gunungkidul. Beliau 50 tahun lamanya menjadi guru. Ibunya dulu mendorong Tasaro mengikuti berbagai lomba di daerahnya seperti lomba menari, menggambar, bulutangkis, baca puisi, mengarang, dll. Hal tersebut dilakukan ibunya untuk memetakan sebenarnya ia berbakat di bidang apa. Dan dari sekian lomba tersebut hanya satu yang sampai saat ini nyantol: menulis.

“Puncak sebuah naskah itu keterbacaan,” kata Tasaro. Sebuah bacaan itu bagus kalau dia dapat dibaca oleh siapapun dengan tingkat pendidikan berbeda – dari anak-anak hingga professor, tingkat usia yang berbeda, tanpa mengubah pemahaman akan bacaan tersebut. Sederhananya, dapat dibaca banyak kalangan dengan dengan membuahkan pemahaman yang sama.

Lanjutnya, dalam sastra itu terdapat diksi, alur, dan karakter. Bahasa dan alur itu yang diingat pembaca dalam waktu yang lama. Tasaro mencontohkan pada film, orang akan ingat pada alur kisahnya. Misalnya di film Titanic dan Habibie & Ainun. Namun, kejujuran dalam berkarya itu lebih penting daripada bahasa yang digunakan.

Tasaro mengakui dalam menulis ia tidak menggunakan ukuran-ukuran pasti. Misalnya ukuran tinggi, ia menyebutkan ‘lelaki setinggi pintu’. Belakangan ia kaget sendiri dengan ukuran ‘setinggi pintu’ setelah melihat pintu di kantor Bentang Pustaka yang tingginya sekitar 3 meter. Lalu usia orang, ia menuliskan ‘hampir 20 tahun’ untuk menggambarkan belasan tahun.

“Analogi-analogi atau perumpamaan itu lebih mengena dalam penyampiaian pesan daripada ukuran-ukuran pasti,” jelasnya.
Di penghujung acara Tasaro menuturkan pesan yang ingin ia sampaikan dalam novel Kinanthi. Bahwa ada yang tidak beres dalam hal pengurusan Tenaga Kerja Indonesia (TKI) oleh pemerintah. Sekian menteri berganti tetap tak ada perubahan kebijakan yang berpihak bagi TKI. Tenaga kerja yang akan dikirim ke luar negeri haruslah mendapat pendidikan ketenagakerjaan yang memadai. Jangan orang yang tidak tahu caranya memasak air dikirim ke luar negeri untuk bekerja.

Oh, ya. Bagi penggemar novel Muhammad karya Tasaro, kabarnya buku Muhammad 3 akan terbit tahun 2013 ini.

***

3 thoughts on “Gunungkidul Bumi Kinanthi dan Proses Kreatif Tasaro

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s