Buku Idealis dan Buku Digital (catatan dari bincang-bincang)

Standar

…idealnya tidak sama perlakuan antara buku populer dengan buku yang bersifat pemikiran…

Dunia Buku Saat Ini

Sekitar awal April 2013 lalu di Rumah Budaya Emha Ainun Nadjib (EAN) digelar acara bincang-bincang dengan tema “Dunia Buku Saat Ini”. Acara tersebut merupakan rangkaian kegiatan soft launching Perpustakaan EAN. Diskusi yang sangat menarik, walaupun yang hadir tidak terlalu banyak.

Pembicaranya dari Penerbit Mizan, tepatnya Chief Editornya, yaitu Andityas Prabandono atau yang biasa dipanggil Mas Tyas.

Banyak yang dibicarakan, seputar dunia buku dan penerbitan. Antara yang hadir, pembawa acara, dan Mas Tyas sendiri sebagai pembicara saling bertukar pandangan terkait buku dan penerbitan.

Saking menariknya topik diskusi ini kusimak, sayang rasanya kalau ditinggal sebentar untuk sekedar mencatat di buku notes. Jadi tidak semua bisa aku catat. Tapi untungnya sedikit catatanku yang ada masih tetap on the track dari topik yang dibicarakan. Dari catatan itu aku membaginya ke dalam dua topik besar, yaitu buku idealis dan buku digital.

Buku Idealis

Mas Tyas di awal pembicaraannya membahas tentang perlakuan toko buku terhadap buku yang dijual. Di toko buku, perlakuan terhadap genre buku dibuat sama, yaitu sebagai barang yang harus dijual secepat mungkin. Sebab kalau tidak terjual akan menghabiskan ruang rak tempat buku dipajang. Menurutnya, idealnya tidak sama perlakuan antara buku populer dengan buku yang bersifat pemikiran seperti buku-buku tulisan Emha Ainun Nadjib, Umar Kayam, Mustofa Bisri, dll.

Di toko buku, jumlah buku “serius” berbanding sangat jauh jumlahnya dengan buku populer. Saat ini langka buku-buku yang sifatnya berbobot, karena generasi saat ini minim perenungan pada hal-hal yang tampak di hadapannya.

Menurut Mas Tyas, idealnya penerbit memijakkan dua kakinya pada dua ranah. Yang satu kaki, penerbit menerbitkan karya-karya idealis. Kaki yang satu lagi, penerbit menerbitkan buku-buku populer untuk “memperpanjang nafas hidup” penerbit itu sendiri. Dari pernyataan itu aku mencoba mengambil kesimpulan bahwa lini-lini penerbitan dari penerbit mayor diciptakan salah satunya ya untuk “memperpanjang nafas hidup” itu tadi.

Buku Digital

Mas Tyas menyebutkan bahwa toko buku online adalah alternatif bagi buku-buku pemikiran. Sebab buku-buku yang bersifat pemikiran dicari orang pada waktu-waktu tertentu.

Buku elektronik atau e-book adalah solusi bagi penyelamatan arsip-arsip atau buku-buku kuno. Kenapa? Karena banyak penerbit yang tidak mau menerbitkannya lagi (khususnya di Indonesia). Namun di luar negeri buku 5 abad yang lalu semisal karya Shakespeare, mudah ditemui di berbagai toko buku. Di Indonesia, sangat susah buku-buku keluaran 30-50 tahun lalu ditemukan di toko buku. Jadi generasi-generasi di depan tidak lagi tahu bagaimana syair-syairnya Linus dan lain-lain.

“Buku digital itu pasti akan menjadi bagian dari hidup kita. Saya yakin.”, ujar Mas Tyas. Melihat tren yang berkembang saat ini terutama dengan semakin menjamurnya gadget-gadget canggih semacam smartphone, tablet PC, dsb; sebuah bacaan semakin mudah dikemas dalam bentuk digital. Dan buku digital, mau tidak mau akan hadir sebagai konten yang dapat diakses di perangkat-perangkat canggih tersebut.

Namun di sisi lain, manusia itu suka pada hal-hal yang bersifat tangible (wujud, ada, nyata, dapat dilihat dan disentuh). Buktinya ada romantisme antara pembaca dengan buku yang dibacanya baik itu rasanya membolak-balik kertas buku, mencium aroma buku. (Dan aku jadi senyum-senyum sendiri karena romantisme itulah yang sangat aku rasakan saat bersentuhan dengan buku yang kubaca, hehehe… :D)

Mas Tyas menyebut bahwa buku langka sebaiknya segera didigitalisasikan. Karena itu adalah cara termudah untuk menyelamatkan karya-karya intelektual masa lalu.

Masyarakat kita ini prematur. Masih berbudaya lisan tapi sudah pegang handphone (digital). Dan itu pelan-pelan menggerus kemampuan berpikir.

Penerbit yang dulu berjaya, ketika dia tidak bisa beradaptasi dengan ekosistem (zaman) maka dia akan mati. Penerbit hanyalah salah satu unsur dalam ekosistem tersebut.

Bahaya digitalisasi bagi musik dan buku sebenarnya hampir sama. Hanya saja pada musik lebih terasa. Ini berkaitan dengan pembajakan suatu karya. Di industri kreatif, tidak bisa suatu karya diprediksi laku atau tidak.

***

Di sesi interaksi hadirin dengan pembicara, banyak hal menarik yang dibahas. Tapi ya itu tadi, tidak semua bisa kucatat.

Seorang hadirin sempat mengkritisi tema yang diangkat. Bahwa sebenarnya tema “Dunia Buku Saat Ini” kurang tepat. Dunia buku jenis apa dulu? Buku sastrakah? Buku umumkah? Atau jenis buku lainnya.

Ada pula seorang lulusan salah satu PTN ternama di Jogja yang mengeluhkan pengkondisian daya kritis generasi justru berasal dari pembuatan skripsi. Dia lalu bercerita tentang pengalamannya ketika membuat skripsi. Berhari-hari ia kumpulkan semua literatur baku, ia sarikan, lalu singkat cerita hasilnya ia tunjukkan ke dosennya. Yang terjadi malah dosennya tidak mengerti apa yang ia tuliskan sebenarnya. Jadilah sorenya ia browsing materi dari internet, begadang mengolah materi copy-paste, lalu paginya ditunjukkan ke dosennya. Dan… dosen pembimbingnya menyetujui apa yang ia buat.

Di lain sisi ia juga mengkritisi kebiasaan penerbit belakangan ini. Banyak penulis-penulis baru di internet namun sayangnya tidak ada pihak yang layak mengkritisi sejauh mana atau sedalam apa makna tulisan penulis baru tersebut. Sehingga tidak ada rangsangan berpikir yang mendalam. Dan banyak pula penerbit yang kerjanya browsing di internet lalu menemukan tulisan yang tampak menarik, dicari siapa penulisnya, lalu dibukukanlah tulisan internetnya itu. Tak jarang pula penerbit menyikapi tokoh publik baru, dicari apakah ia pernah menulis di situs pribadi/ blog, lalu bila ada, dibukukanlah tulisan blognya itu.

Sempat pula ada yang berbagi pendangan tentang kekurangan e-book. Bukan sekedar masalah romantisme pecinta buku. Namun yang belum terasa signifikannya e-book sebagai pengganti buku fisik adalah kemampuannya untuk memperbesar atau mengecilkan ukuran huruf, fungsi pembatas buku, juga highlight/ penanda warna bagian-bagian buku tertentu dengan stabilo.

***

Dari para penanya dan pemberi tanggapan, aku menangkap bahwa mereka adalah para praktisi penerbitan, lulusan mahasiswa, dan pecinta buku. Dan aku sempat menangkap pembicaraan seorang mantan pimpinan salah satu penerbit ternama di Jogja yang berbagi pandangan. Yaitu tentang anekdot “sebelum masehi” dan “setelah masehi” untuk penerbit tersebut. Entah apa maksud jelasnya, yang jelas aku cukup penasaran karena menurutku ini sangat berkaitan dengan karya masterpiece yang pernah diterbitkan suatu penerbit.

Baris terakhir catatanku dari diskusi ini tercatat sebuah kalimat, yang aku lupa siapa waktu itu yang menyebutnya, penanya, Mas Tyas, atau pembawa acara. Kalimat itu adalah “Penerbit itu selalu butuh timbal balik dari pembaca, sedangkan pembaca kritis itu sedikit.”

-Tsani-
Jogja, 10 Mei 2013

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s