Dari Desa Hingga Ilmu Mesin Tik (catatan dari diskusi buku)

Standar

“Sepulang dari sini, bukan tentang buku ini yang akan Anda bawa. Tapi, ilmu apa yang ingin Anda pelajari dari yang sudah Anda dapat malam ini.”

Berkali-kali hadir di acara-acara diskusi/ obrolan/ bedah buku, buatku acara diskusi buku ini yang terlama waktunya dari awal hingga selesai. Dimulai menjelang jam 8 malam hingga selesai jam 12-an dini hari. Yaitu diskusi buku Indonesia Bagian Dari Desa Saya (IBDDS) karya Emha Ainun Nadjib yang diselenggarakan di Rumah Budaya EAN, Kadipiro, Yogyakarta pada Jum’at, 3 Mei 2013 lalu.

Gambar

Hadir sebagai pembicara resmi seperti yang tercatat di publikasi ada Toto Raharjo, EH Kartanegara, dan Patricius Cahanar. Serta sesi Pitutur Budaya oleh Emha Ainun Nadjib. Namun di tengah acara, ada beberapa teman Emha yang diminta untuk berbicara dan berbagi pandangan terkait tema buku yang dibahas dan tentang diri Emha.

Dibawakan oleh EH Kartanegara, acara berlangsung interaktif. Karta yang juga kawan Emha sejak muda adalah mantan wartawan Tempo dan dulu turut serta membidani lahirnya harian Republika.

Gambar

Pembicara pertama Patricius Cahanar dari Penerbit Buku Kompas selaku penerbit ketiga buku IBDDS sejak pertama kali diterbitkan akhir ‘70-an lalu. Tidak banyak yang dibicarakan Patricius. Ia membagi pandangan bahwa banyak buku “how to” tapi terkadang konteksnya tidak jelas. Semisal “Cara Cepat Jadi Kaya …”, “1 Menit Sukses Dengan …”, dsb. Itu berbeda dengan buku-buku yang menawarkan pemikiran yang mendalam, bukan instan.

Khasanah Desa dan Label Indah “Pembangunan”

Giliran berikutnya Toto Raharjo atau biasa dipanggil Pak Toto berbagi pandangan. Cukup panjang bahasan Pak Toto utamanya terkait dengan khasanah desa.

Gambar

Pak Toto menguraikan dalam buku IBDDS terdapat 28 esai tentang khasanah desa. Khasanah desa itu gambarannya begini: di desa, seorang istri tidak memikirkan apakah sang suami mengingat dengan pasti tanggal ulang tahun istrinya atau tanggal ulang tahun pernikahannya. Itu berbeda dengan cara berpikir istri di luar desa, katakanlah kota.

Buku ini menurut Pak Toto, masih merefleksikan Emha ketika belum banyak bersentuhan dengan atmosfer kota. “Masih bolak-balik Jombang-Jogja,” begitu kata Pak Toto.

Buku ini terbit pertama kali tahun 1978 dan Kompas adalah penerbit ketiga yang menerbitkan buku ini. Itu artinya sudah ada tiga penerbit IBDDS sejak terbit pertama 30 tahun lalu. Judul buku IBDDS diambil dari salah satu esai yang berjudul Indonesia Bagian Terpenting Dari Desa Saya.

Pak Toto kemudian membagi pandangan bahwa substansi yang tepat sebenarnya apakah Indonesia bagian terpenting atau bagian paling merepotkan dari desa saya. Sebab desa menjadi kehilangan ke-desa-annya ketika bersentuhan dengan segala peraturan dan gaya hidup berlabel “Indonesia”.

Kata “merdesa” menurut kamus Bahasa Indonesia oleh Purwadarpita berasal dari kata “desa”. (catatanku, CMIIW…)

Menurut Pak Toto, Emha sebenarnya mempersoalkan pertikaian antara tradisi dengan modernisasi. Apakah tradisi berada itu di belakang modernisasi? Ataukah sebaliknya, tradisi sejatinya berada di depan modernisasi. Namun yang perlu diperhatikan adalah tradisi itu punya cara pandang sendiri. Begitu pula modernisasi, memiliki cara pandang sendiri.

“Modernisasi lahir sejak tahun 1950-an sebagai tanggapan intelektual barat terhadap perang dunia,” urai Pak Toto. Orde Baru (yang pernah dialami Indonesia) adalah satu tahap kapitalisasi negara. Ini tampak jelas pada era Pembangunan Lima Tahun (PELITA) yang berlangsung hingga bertahap-tahap.

Pak Toto lalu menguraikan istilah development, Indonesianya “pembangunan”. Kapitalisasi yang dilakukan Amerika dan sekutunya dengan konfrontasi fisik ke banyak wilayah dunia secara politis memberi pengaruh yang kuat. Hingga sampai pada sebutan bahwa negara-negara di luar peradaban Amerika dan sekutunya disebut sebagai “dunia ketiga”, dunia terbelakang.

Namun di era 1945 ke atas, Indonesia oleh Bung Karno telah berani menyerukan, “America, go to hell with your aid!”. Nah, Amerika terperanjat dengan pemahaman demikian dari dunia ketiga. Maka disusunlah strategi kapitalisasi ke dunia ketiga tanpa konfrontasi fisik, namun dengan segala jenis peraturan dengan taste kapitalisasi.

Untuk melancarkan strategi halus itu dilakukan studi istilah yang dapat diterima semua kalangan. Mirip strategi pemasaran dengan kemasan menarik yang dapat diterima konsumen. Maka dipilihlah kata development, pembangunan. Masuklah strategi development ke dunia ketiga sebagai programnya pengurus negara.

Dengan demikian modernisasi telah menggantikan khasanah tradisi. Pak Toto menguraikan hal tersebut dari tulisan panjangnya yang disiapkan untuk diskusi buku IBDDS ini yang rencananya dapat pula dibaca di http://www.caknun.com.

Kota

Kemudian bergantian kawan-kawan Emha diminta berbicara dengan pandangannya masing-masing terhadap Emha dan karya-karyanya. Setelah itu giliran Emha berbicara. Emha di awal pembicaraannya menekankan, “Sepulang dari sini bukan tentang buku ini yang akan Anda bawa. Tapi, ilmu apa yang ingin Anda cari dari yang sudah Anda dapat malam ini,” begitu ujarnya kurang lebih.

Gambar

Emha lalu mengurai perbedaan desa dengan kota. Ia mengakui kalau hingga hari ini ia paling susah kalau berbicara arah dengan terminologi kanan – kiri, belok kanan/ kiri. Sebagai orang yang terlahir di desa, ia hanya tahu lor – kidul – wetan – kulon/ utara – selatan – timur – barat. Di desa orang lebih paham dengan utara, selatan, dkk.

Kota tahunya kanan – kiri. Sempit. Tidak tahu mana utara, mana selatan, barat dan timur. “Kota adalah sesuatu yang memutus dirinya dari kosmologis,” ujar Emha. Manusia jadi terputus hubungannya dengan kosmologi semesta ketika ia tidak tahu lagi mana utara, selatan, barat, timur karena pandangannya telah sempit dengan kanan dan kiri.

Proses Menulis dengan “Ilmu Mesin Tik”

Emha mengakui bahwa saat ini sejujurnya ia tidak percaya bisa membuat tulisan-tulisan setebal buku IBDDS ini. Sebab menurutnya, zaman ketika ia menulis berbeda jauh dengan zaman sekarang, zaman dimana alat untuk membuat tulisan begitu mudahnya.

Emha kemudian menuturkan hal penting bagi seorang penulis dengan memberikan gambaran tentang bagaimana proses penulisan yang ia lakukan pada zamannya dulu. Ilmu mesin tik, pegang erat istilah ini.

Proses penulisan IBDDS oleh Emha (juga karya-karya tulisnya yang lain) ditulis dengan mesin tik. Kalau ditangkap sekilas, tentu saja itu hal yang biasa mengingat kemajuan teknologi saat ini. Tapi bukan itu masalahnya. Pelaku menulis dengan mesin tik seperti yang Emha dan kawan-kawan lakukan, menuntut ketelitian tinggi, ketelatenan, dan daya pikir yang keras dan mendalam.

Hal tersebut seperti yang diceritakan Emha, bahwa menulis dengan mesin tik pada zamannya ibarat sekali gores dan tepat. Sekali tuts mesin tik diketuk harus benar penulisannya, tepat pengaturan paragraf hingga halamannya, baik sistematika pemikiran dalam tulisannya.

Kenapa harus begitu? Pada era itu kebanyakan penulis membeli kertas seadanya uang dan sebutuhnya saja. Misalnya membeli kertas 2-10 lembar saja untuk satu tulisan utuh. Cuma orang yang benar-benar kaya yang mampu membeli kertas hingga jumlah rim. Bahkan pita mesin tik dipakai berulang kali hingga berlubang di sana-sini. Sehingga salah tulis ibarat kesalahan besar yang berakibat harus diolesnya tip-ex untuk menulis kembali dengan benar, belum lagi kalau kertasnya rangkap, harus berapa kali oles tip-ex?

Dengan kondisi itulah otak penulis dituntut untuk berpikir keras, baik, dan tepat. Maka tulisan yang dihasilkan bisa sekali gores dan bermakna. Dengan berpikir mendalam maka kebijaksanaan lahir sehingga dapat menjadi the way of life.

Berjalan, Bukan Jalan-jalan

Masih bagian dari kisah proses berkarya, Emha mengurai esensi dari berjalan. Ya, berjalan, bukan jalan-jalan. Kalau jalan-jalan, kan, sifatnya ringan dan senang sesaat. Namun dalam kegiatan berjalan (menapaki jalan), ke manapun perginya, di sanalah sesuatu yang penting terjadi. Dengan menapaki jalan, jalaaaan terus, otak akan terkondisi untuk berpikir, perenungan datang, ilmu masuk. Seratusan meter berjalan, renungan dimulai, begitu seterusnya.

Emha mengakui dari berjalanlah semua karya yang ia buat seperti buku, musik, dan puisi terlahir. Ia lalu bercerita tentang pengalamannya berjalan setiap malam dengan orang yang sangat ia kagumi, Umbu Landu Paranggi. Mengitari Yogyakarta dan sekitarnya dengan berjalan kaki. Cerita yang acap kudapat di maiyah dan tulisannya di koran.

Generasi saat ini sudah kehilangan citarasa berjalan itu. Yang ada jalan-jalan, sepedaan (bukan bersepeda), dsb. Bahkan naik motor pun terburu-buru. Mana sempat ada proses perenungan kalau begitu?

*Begitu banyaknya bahasan mendalam yang sayang untuk dilewatkan sekedar untuk mencatat di blocknote, tidak semua poin pembicaraan kucatat. Tapi untungnya yang sempat tercatat adalah poin-poin penting. Dan di luar catatanku, melekat di ingatanku tentang pembicaraan Emha pada paragraf terakhir di bawah ini.

Pelaku generasi dulu tidak merasakan kemudahan (akses berkarya) seperti pelaku generasi saat ini. Sebaliknya, pelaku generasi saat ini tidak merasakan kebijaksanaan yang didapat pelaku generasi dulu. Maka dengan kemudahan-kemudahan yang dialami oleh pelaku generasi saat ini, carilah kebijaksanaan-kebijaksanaan yang melekat pada generasi terdahulu.

Gambar

-Tsani-

Jogja, Mei 2013

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s