“Pelangi” di Timur Bali

Standar

Empat tahun lalu, kurang lebih. Sore. Aku duduk di pelataran rumput Taman Ujung, suatu tempat eksotik di sisi timur pulau Bali. Sendirian.

Di hadapanku terpadu pemandangan Taman Ujung, laut, dan langit sunset. Ah… mau gimana lagi caranya suasananya digambarkan lewat tulisan, susah aku bikinnya.😉

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Memang cuaca nggak begitu cerah karena hujan belum lama reda. Tapi hawanya nyamaaan banget. Rasanya betah lama-lama di situ. Tapi nggak mungkin juga kalau sampai nggak pulang ke kost.😀

Waktu itu yang terpikir adalah, “Ya, Allah… Keindahan ini mudah bagimu membuatnya. Jadi, apa susahnya mengabulkan harapan-harapanku?”

Apa saja yang kamu harapkan, nilai tujuannya adalah melihat – merasakan keindahan sesuai dengan sudut pandangmu, kan? Setidaknya suatu tujuan yang kamu yakini indah, dengan kapasitas berpikir dan wawasanmu pada saat harapan itu muncul.

Lagi-lagi Laskar Pelangi

Malam tadi aku dengar lagi lagu Laskar Pelangi-nya Nidji. Liriknya universal, menurutku. Aransemennya khas. Yang bikin lagu pasti sudah meresapi betul isi novelnya. Laskar Pelangi, novel pertama yang kubaca habis dari awal hingga akhir, jaman masih berseragam sekolah.

Kisah Laskar Pelangi erat dengan harapan. Mimpi. Sekarang, harapanku yang ingin terwujud sewaktu di Taman Ujung sudah terwujud semua. Ya, semua. Bahkan lebih dari yang diharapkan. Dan menjalani harapan yang sudah terwujud sangatlah berbeda rasanya dibanding dengan waktu belum terwujud.

Pelajarannya adalah, harapan yang terwujud belum tentu selalu tampak seindah yang dibayangkan sebelumnya. Tapi, dengan kedewasaan dalam menyikapi perbedaan tersebut maka kita dapat merasakan keindahannya. Ya, perwujudan harapan menghadirkan kedewasaan bagi yang menyadarinya.

Ibarat scoring film (musik pengiring adegan yang sedang berlangsung), mungkin seperti itulah fungsinya orang bersinggungan dengan kejadian-kejadian yang tampak di matanya. Film akan terasa lebih hidup dengan musik pengiring adegan, bahkan soundtrack. Dan dengan sudut pandang pengambilan gambar yang tepat, pesan yang ingin disampaikan film akan lebih terasa.

Tulisan Pertama

Dua tahun kemudian, tulisan perjalananku ke Taman Ujung jadi tulisan panjang pertamaku yang dimuat media. Walaupun dalam pemuatannya ada beberapa paragraf yang menurutku esensial harus dibuang redaktur. Tapi nggak apa-apalah. Jadi tahu bahwa esensi tulisan di mata penulis dan redaktur media bisa berbeda. Itulah salah satu penyebab tulisan yang dikirim penulis ke media tidak dipilih redaktur untuk dimuat.😀

Namun perbedaan esensi tulisan itu bukan jadi masalah buat redaktur media kalau kamu adalah tokoh terkenal/ berpengaruh/ punya jabatan penting. Siapapun kamu, tulisan berbobot atau tidak, tetap dimuat. Proses editnya bisa dipercepat. Pokoknya “Kun Fayakun!”, maka terbitlah tulisanmu.😀

Tapi, apakah jadi terkenal/ berpengaruh/ punya jabatan penting itu adalah impianmu? Bukankah yang disebut manusia terbaik adalah yang paling bermanfaat bagi sesama manusia dan makhluk hidup? Bukankah banyak orang-orang yang membawa manfaat bagi sesamanya namun tidak terkenal? Sebagian bahkan menjaga diri agar jangan sampai terkenal.🙂

Ah, Taman Ujung… Lain waktu ke sana lagi, ah! Tapi nggak sendirian. 😀

Menarilah dan terus tertawa, walau dunia tak seindah surga

Bersyukurlah pada yang kuasa

Cinta kita di dunia, selamanya…

2 thoughts on ““Pelangi” di Timur Bali

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s