Gule Setiap Kamis

Standar
Teh manis + nasi gule

Teh manis + nasi gule

Kamis Gulai, begitu aku menyebutnya – yang lebih familiar di lidahku kusebut Kamis Gule. Bagi ta’jil hunter😀 di Yogyakarta, seharusnya tidak asing di mana peristiwa ini terjadi. Ya, di Masjid Gedhe Kauman Yogyakarta, masjid rayanya DIY. Di masjid ini pada bulan puasa setiap hari Kamis disediakan ta’jil (sajian berbuka puasa) berupa nasi dan gulai kambing.

Gulai kambing, cukup mewah untuk sajian berbuka puasa. Tapi substansinya, yang pernah kudengar dari takmirnya, adalah mempersembahkan menu terbaik yang bergizi kepada jamaah. Dengar-dengar dari kakakku, sih; kabarnya donatur kambing untuk Kamis Gule ini sampai mengantri. Aku membayangkan, mungkin pihak takmir masjid sampai menolak-nolak donatur kambing sebab sudah cukup banyak donaturnya.

***

Dari beberapa kali berbuka puasa di Masjid Gedhe Kauman (MGK) ini, aku sempat mencatat poin-poin kajian yang disampaikan menjelang berbuka puasa. Salah satunya kajian saat Kamis Gule yang disampaikan oleh Pak Khoiruddin Bashori atau yang kerap disapa Pak Irud, mantan rektor UMY yang juga gurur besar Psikologi.

Suasana kajian menjelang buka puasa di serambi Masjid Gedhe Kauman Yogyakarta.

Suasana kajian menjelang buka puasa di serambi Masjid Gedhe Kauman Yogyakarta.

Waktu itu Pak Irud banyak membahas tentang kaitan psikologi dengan kesehatan. Ada hal-hal yang patut diperhatikan untuk menyeimbangkan psikoogi dengan kesehatan.

Energi sebaiknya digunakan untuk berkonstrasi pada hal-hal yang penting. Urusan dipilah mana yang utama dan mana yang ditinggalkan. Kemudian sisa energi barulah digunakan untuk hal-hal yang tidak penting.

Kemudian berfokuslah untuk hal tertentu pada satu waktu. Misalnya, berfokus melayani tamu yang datang walau hanya satu-dua menit apabila waktu kita tidak banyak. Yang penting fokus. Dan perlu diingat kalau konsentrasi orang mudah sekali tergoda.

Kendalikan pikiran kita. Reframing, demikian bahasa dalam dunia psikologi kata Pak Irud, terhadap masalah-masalah kita. Masalah-masalah tersebut hendaknya diarahkan ke sudut pandang positif. Khusnudzon, berprasangka baiklah, maka banyak hal akan bisa kita lakukan.

Pola hidup yang terorganisasi. Ini dapat dilakukan contohnya dengan menaruh atau menata barang secara terkelompok. Dengan begitu kita dapat mudah mengingat barang yang kita punyai disimpan di mana.

Berkonstrasi pada hal yang bisa dilakukan sekarang. Ini penting karena orang lain percaya pada kita sebab melihat track record pekerjaan atau kegiatan kita.

Lakukan sebaik-baiknya apa yang kita sanggup lakukan, lalu selesaikan dengan sempurna. Andaikata tidak berhasil, bukan salah kita karena kita telah melakukannya dengan sungguh-sungguh.

Berikan diri sendiri tantangan yang lebih berat, naik level. Challenge yourself.

Bacalah buku-buku yang mengembangkan diri, misalnya buku biografi. Dari kisah tokoh dalam biografi kita bisa belajar banyak hal.

Banyak bergaul dengan orang-orang baik. Pak Irud mencontohkan ketika ia bergaul dengan para penulis, ia terpikir, “Duh… Kapan iki aku iso nulis buku?” – Duh, kapan ini aku bisa menulis buku (seperti mereka).

Yang terakhir adalah berolahraga, kembangkan fisik. Jangan lupakan fisik. Agar kita memiliki mental yang kuat dan fisik yang kuat pula.

***

Sebenarnya banyak kajian-kajian sejenis di masjid-masjid menjelang berbuka puasa. Toh kajian tidak melulu tentang ayat dan ayat. Temanya bisa berubah-ubah sesuai latar belakang penyampainya.

Kembali pada Kamis Gule, nah, mau cari gulenya atau ilmunya? Hehe…

Aku pada awalnya memang mengincar gulenya yang memang uenaakk (porsinya pas untuk ukuran berbuka puasa, daging kambingnya empuk banget, kuah gulenya cukup). Tapi lama kelamaan ada banyak hal yang bisa kutarik hikmahnya dari sekadar berburu gule di Kamis Gule.

Aku jadi membayangkan manajemen takmir terhadap pemasak gule dari cap-cap yang berbeda di setiap kelompok gule. Dan yang paling penting, Kamis Gule adalah bentuk kearifan lokal MGK. Local wisdom. Bahkan sebelum matahari terbit di pagi pertama Idul Fitri, masih ada kearifan lokal yang dapat dirasakan jamaah, yaitu menyantap sajian oblok-oblok bersama sebagai tanda bahwa pagi tersebut tak lagi berpuasa.

Kamis Gule, unik. Istimewa.

Speechless......

Nasi Gule

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s