Dunia Para Gunung (catatan dari Merbabu #1)

Standar

Putih. Lapisan awan seolah menjadi pembatas dunia atas dan dunia bawah. Di bawah, permukaan bumi dengan segala hiruk pikuk yang melekat padanya. Di atas, sejauh mata memandang yang ada hanya gundukan-gundukan gunung berlatar warna biru cerah, tak terasa hiruk pikuk. Di puncak gunung hanya ada senyap, bisikan angin, dan sengatan matahari.

Gunung Merapi tampak dari Gunung Merbabu.

Merapi, Sindoro, Sumbing, Slamet, Lawu tampak sejauh mata memandang di pagi hari saat pendakian ke puncak kami lakukan. Dunia atas seolah milik para gunung. Para gunung yang tercipta dalam rangkaian penciptaan bumi. Para gunung yang usianya berlipat-lipat lebih tua daripada para pendakinya. Para gunung yang tidak sepantasnya para pendaki nranyak, semena-mena, tidak sopan, pada mereka.

Sebagian Gunung Sindoro, Sumbing, dan Slamet tampak dari Gunung Merbabu.

Gunung Lawu berselimut awan tampak dari Merbabu.

Bila dunia bawah dihuni para makhluk hidup yang memiliki cara dan pola komunikasi masing-masing, rasanya mungkin saja bila para gunung di dunia atas ini memiliki cara berkomunikasi tersendiri. Dan entah apa yang mereka komunikasikan saat mengetahui kelakuan penghuni dunia bawah, manusia, yang sebagian berbuat amat jauh dari kepantasan sebagai pemegang mandat kekhalifahan di bumi.

 

*foto oleh Frans dan Tsani.

Puncak Bukan Tujuan (catatan dari Merbabu #2)

Hangat Dipeluk Dingin (catatan dari Merbabu #3)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s