Hangat Dipeluk Dingin (catatan dari Merbabu #3)

Standar

Pagi terakhir di Merbabu. Merapi masih saja membuat mata ini melebar seketika setelah bangun pagi.

Merapi saat pagi, di depan tenda kami.

Merapi saat pagi, di depan tenda kami.

Pagi terakhir di Merbabu pemandangan menarik kujumpai. Saat shalat subuh aku mendengar kedatangan serombongan pendaki. Seusai shalat baru kusadari ternyata penampilan rombongan pendaki tersebut jauh dari yang sering kulihat. Tampilan seperti mereka biasa aku temui di masjid-masjid. Dua pria berjenggot lebat, berkupluk kecil, dan bercelana yang batasnya di atas mata kaki; satu anak laki-laki usia akhir sekolah dasar; tiga perempuan muda berkerudung lebar dan berbaju panjang terusan sampai bawah.

Tak lama kemudian mereka memulai shalat subuh. Dan tampaklah salah satu pemandangan terunik yang pernah kulihat: jamaah shalat berlatar belakang Gunung Merapi yang pagi itu tampak sangat indah, di tengah dingin pagi, di dekat puncak Merbabu.

Pendaki dari Solo tersebut shalat subuh berjamaah.

Pendaki dari Solo tersebut shalat subuh berjamaah.

Jamaah Subuh berlatar belakang Gunung Merapi yang tampak sebagian di foto.

Jamaah Subuh berlatar belakang Gunung Merapi yang tampak sebagian di foto.

Hmm… Benar, bukan tidak mungkin mereka yang tampaknya berpenampilan macam itu tidak memiliki gairah kegiatan mendaki gunung. Mereka juga boleh merasakan karunia Penciptanya dengan caranya sendiri. Tapi… yang perempuan-perempuan itu lho… naik gunung pakai baju terusan, apa nggak ribet ya? Aku yang bercelana jeans bahkan harus melintangkan kaki kesana-kemari untuk bisa naik ke atas. Nah, itu mereka pakai baju terusan. Mungkin juga ketiga perempuan tersebut memakai celana panjang di dalam baju terusannya, tapi masa iya aku bela-belain lihat sampai begitu?! :p

Shalat subuh usai mereka lakukan. Kutanya salah seorang dari mereka, katanya mereka dari Solo. Aku sempat menangkap salah satu pembicaraan kedua pria dalam rombongan tersebut.

“Nanti malam kajian, Pak?”, tanya pria yang agak muda.

“Insya Allah…”, jawab pria yang lebih tua.

Nanti malam? Kalau subuh saja mereka mendaki ke puncak – yang butuh 2 jam pendakian lagi dari lokasi sholat subuh – maka kira-kira turun sampai di bawah saat siang atau sore. Kalaupun mereka berkemah, kemungkinan kajian tersebut mereka lakukan di gunung. Tapi mungkin mereka tidak berkemah karena kuperhatikan tampaknya tidak membawa perlengkapan berkemah.

Entah kajian apa yang dimaksud, bisa jadi kegiatan rutin komunitas di lingkaran aktifitas mereka. Namun, tetap saja untuk menjalani kegiatan dari subuh yang mendaki gunung hingga malam yang tetap hidup membutuhkan semangat tinggi dan ‘nafas panjang’. Menurutku itu bukan hal yang mudah bagi setiap orang.

Semangat tinggi dan kekuatan ‘bernafas panjang’ adalah sumber daya yang amat penting untuk tetap bertahan melakukan segala usaha terbaik, untuk tetap bertahan shalat di tengah suhu gunung yang amat dingin, untuk tetap merasa hangat karena telah melakukan apa-apa yang diperintahkan-Nya selama masih hidup di bumi-Nya.

Pagi, kami, dan Merapi.

Pagi, kami, dan Merapi.

Matahari terbenam di pandangan barat tenda kami. Selesai sudah tugasnya hari itu menghangatkan para pendaki.

Matahari terbenam di pandangan barat tenda kami. Selesai sudah tugasnya hari itu menghangatkan para pendaki.

Sisa sunset.

Sisa sunset.

*foto oleh Frans dan Tsani.

Dunia Para Gunung (catatan dari Merbabu #1)

Puncak Bukan Tujuan (catatan dari Merbabu #2)

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s