Pulang

Standar

Memang demikian, nggak pulang = rindu. Hehehe…

Tengok saja ungkapan kerinduan Buble dalam Home.

And I’m surrounded by a million people
I still feel all alone
Oh, let me go home
Oh, I miss you, you know

(Michael Buble – Home)

Pernah suatu ketika tinggal di luar kota aku mengalami homesick. Homesick yang datangnya bisa sewaktu-waktu.

Saat kembali ke Jogja aku menyempatkan keliling malam-malam melepas kangen akan suasana Jogja (yang memang ngangenin :D) Lalu tibalah saatnya meninggalkan Jogja untuk tinggal lagi di luar kota. Malam sebelum keberangkatan aku sempatkan lagi keliling malam-malam di Jogja. Sebagai salah satu amunisi untuk tetap merasa at home di luar kota, beberapa pemandangan kuabadikan dengan kamera ponsel, salah satunya dalam posisi berkendara motor. Suasana malam Malioboro. Foto yang hasilnya jadi kabur😀

Blur Malioboro

Satu lagi yaitu pada suatu malam sebelum meninggalkan Jogja, waktu naik becak dengan Ibu, terdengar lagu dari radio yang dinyalakan sopir becak yang amat tidak asing buatku: Sheila on 7 – Ingin Pulang. Walau suara dari radio tidak jernih, tapi suasana dalam lagu itu yang bikin… “Ini mau ninggalin Jogja kok malah dapat Ingin Pulang?!”.

Saat-saat seperti ini pintu telah terkunci, lampu telah mati
Ku ingin pulang tuk segera berjumpa denganmu
Waktu-waktu seperti ini di dalam selimut harapkan mimpi
Bayangan pulang, tuk segera berjumpa denganmu

Ku ingin kau tahu ku bergetar merindukanmu hingga pagi menjelang…

(Sheila on 7 – Ingin Pulang)
http://www.youtube.com/watch?v=R5aqlgzEiuY

Bila manusia terdiri atas fisik dan jiwa, maka rindu adalah jiwanya pulang. Pada suatu kondisi, suatu hal yang telah manusia jalani cukup jauh, berlarut-larut, terus-terusan, rindu untuk kembali akan sampai pada kondisi akut. Ya, kerinduan yang akut. Jet Lag, kalau memakai term-nya Simple Plan.

You say good morning when it’s midnight
Going out of my head alone in this bed
I wake up to your sunset and it’s driving me mad
I miss you so bad and my heart is so jetlagged

(Simple Plan ft. Natasha Beddingfield – Jet Lag)
http://www.youtube.com/watch?v=ntSBKPkk4m4

Kenapa Pulang?

Pasti ada sesuatu yang manusia kejar dalam hal yang disebut pulang. Pulang menjadi sangat dibutuhkan manakala suatu urusan telah selesai, ketika tak lagi tenang dengan situasi yang ada, ketika butuh tempat bersandar, ketika butuh perlindungan, dan segala macam situasi yang membuat tak lagi kondusif untuk dijalani terus-terusan. Dengan kata lain, pulang adalah kondisi alami yang makhluk hidup pasti butuhkan.

Gaya gravitasi bumi telah memperlihatkan dengan jelas bahwa kembali, pulang, adalah hal yang alami. Coba saja lempar smartphone-mu ke udara lalu lihat akhirnya ia pasti kembali ke bawah. (namun, entah kembali dalam kondisi seperti semula atau tidak :D)

Nah, bagi manusia apakah pulang berarti kembali ke tempat semula secara fisik? Ketenangan pulang, kenyamanan pulang, kelegaan pulang, apakah fisik yang merasakan hal tersebut? Tentu bukan fisik, melainkan jiwa. Hati. Di situlah titik esensi pulang bagi manusia. Orang bisa secara fisik meninggalkan rumahnya, tapi kenyamanan serasa rumah ditentukan oleh hatinya.

Ketenangan, ketentraman hati, telah dijanjikan Tuhan bagi yang mengingat-Nya. Lho, jadi pada akhirnya Tuhan adalah tujuan pulang yang paling akhir? Kok semua-semua dipulangkan ke Tuhan? Hmm… Bila segala sesuatu berasal dari Tuhan, apakah ada tempat berpulang selain-Nya?

Let me go home
I’ve had my run
Baby, I’m done
I gotta go home

Let me go home
It’ll all be all right
I’ll be home tonight
I’m coming back home

(Michael Buble – Home)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s