Buya Syafii Maarif, Nicole Kidman, dan Michael Buble

Standar

Beberapa waktu lalu, tepatnya pada masa libur lebaran 1434 H kemarin, aku menyempatkan jalan-jalan di Malioboro. Jalan dari rumah yang memang dekat, dengan celana pendek, kaos, dan sandal jepit. Malioboro sangat ramai waktu itu karena momennya libur lebaran, banyak orang dari luar kota berdatangan ke Jogja. Berbagai rupa, berbagai usia, berbagai bidang kerja, berbagai kapasitas berpikir tentunya.

Saat berjalan di sisi barat Malioboro, mataku tertuju pada sosok orang tua yang rasanya aku tidak asing dengan wajahnya. Sempat kuabaikan sekilas, namun saat kembali kulihat ternyata memang wajah yang tidak asing. Orang tua itu hendak keluar dari toko sepeda Alam Baru dengan membawa pompa kecil di tangan kirinya. Ia memakai topi, berkacamata, atasan baju berkerah dengan rompi, dan celana panjang. Ternyata beliau Buya Syafii Maarif.

Buya Syafii membawa pompa sepeda? Ini mengingatkanku pada suatu acara bedah buku, buku berjudul Marhaenis Muhammadiyah karya Prof. Dr. Abdul Munir Mulkhan, dengan Buya Syafii sebagai keynote speaker-nya. Aku datang ke bedah buku tersebut karena dalam publikasinya menghadirkan Buya Syafii, tak lain karena aku memiliki buku autobiografi Buya Syafii Maarif berjudul Titik-titik Kisar di Perjalananku. Aku mau minta tanda tangan Buya Syafii di bukunya!😀

img_26252

Hubungannnya dengan Buya Syafii dan pompa sepeda yang kujumpai di Malioboro adalah seusai acara bedah buku tersebut Buya Syafii pulang dengan mengendarai sepeda. Rupanya memang lokasi acara bedah buku tak jauh dari rumah Buya Syafii, di kawasan Nogotirto Elok, Sleman. Waktu itu Buya Syafii bilang biasa naik sepeda ke mana-mana. Sepedanya yang amat sederhana.

img_26391

img_26411

Maka setelah menyadari bahwa orang tua tersebut adalah Buya Syafii, segera aku hampiri beliau dan salami.

“Assalamu’alaikum, Buya!” sapaku sambil menyalami.

“Sendirian?” tanyaku.

Tampak agak terkejut beliau. “Eh?! Oh, iya. Ini, beli ini…” ujarnya sambil menunjuk pompa sepeda berukuran kecil di tangan kirinya.

“Saya duluan, ya!” pamitnya seraya tersenyum. Tampaknya memang beliau agak buru-buru.

“Oh, ya. Hati-hati, Buya,” jawabku.

Pikirku ada orang lain lagi selain aku yang mengenali Buya mengingat Malioboro sedang banyak orang dari beragam bidang. Tapi rupanya tidak. Di titik aku bersalaman dengan Buya tadi, tidak ada orang lain yang memperhatikan. Perempuan muda penjaga lapak pakaian di belakangku pun hanya melirik sebentar lalu melanjutkan baca bukunya.

Kuamati lagi. Buya Syafii dari sisi timur Malioboro hendak menyeberang ke sisi barat. Beliau berdiri di marka pembatas jalur lambat dan jalur cepat, tengok kanan-kiri sambil menunggu jalanan sepi kendaraan. Sampai di situ rupanya tak ada yang menyapa Buya, paling tidak membuka kaca mobil lalu menyapa, atau apapun bentuknya yang menunjukkan bahwa banyak orang mengenalnya terkait kiprah nasional Buya Syafii.

Usai menyeberang, Buya berjalan ke arah utara, melewati parkiran kendaraan roda dua. Buya berjalan di sisi barat dan aku mengamatinya sambil berjalan di sisi timur. Seratus meter, dua ratus meter, dan… oh, tidak ada yang menyapa Buya! Di Malioboro yang sedang dipenuhi berbagai tipe orang itu tak tampak Begitu seterusnya hingga Buya Syafii lenyap dari pandanganku saat beliau memasuki pintu gerbang Hotel Garuda.

Usai dengan keperluanku di Malioboro, aku pulang berpayung tanda tanya.

Hollywood

Di rumah aku ingat-ngat lagi pertemuan dengan Buya Syafii di Malioboro tempo hari. Buya Syafii tidak jarang tampil di publik, seharusnya banyak juga yang mengenali beliau. Namun ternyata ketika beliau jalan sendirian di Malioboro, aku tidak melihat orang lain menyapa beliau setelah aku. Atau mungkin aku yang tidak tahu bila ternyata ada orang lain juga yang menyapanya sebelum aku.

Di Malioboro yang waktu itu sedang ramai masa liburan, dengan berbagai macam orang di sana, kok hanya sedikit yang mengenali beliau? Mungkinkah beliau belum cukup terkenal? Kerap menjadi narasumber penting, namun tampaknya tidak mudah dikenali di tempat ramai. Apakah beliau tidak terkenal? Tapi tunggu dulu… Apakah terkenal itu penting?

Apakah terkenal itu penting?

Kalaupun akhirnya terkenal itu penting, apakah sebaiknya ‘terkenal’ itu kita kejar? Apakah ‘terkenal’ itu dicari? Apa yang dicari dari ‘terkenal’ dan apa yang sebenarnya didapatkan saat ‘terkenal’?

 Apakah ‘terkenal’ itu dicari?

Aku jadi ingat satu berita ini:

Lho, bahkan Nicole Kidman, salah satu aktris top film-film Hollywood, merasa bahagia ketika tidak dikenali publik. Jadi, terkenal itu penting? Pentingkah kita mencari terkenal?

Kalaupun terkenal itu tidak penting, lalu apa sebenarnya yang terpenting?

Akhir-akhir ini aku begitu suka mendengarkan lagu ini: Michael Buble – Hollywood. Aku menyukai vokal Buble terlebih lirik lagu ini. Dalam Hollywood Buble mempermasalahkan gejala-gejala yang mungkin terjadi di lingkaran Hollywood. Hollywood memang indah, gemerlap, glamor, namun juga sarat dengan tipuan-tipuan. Dalam video klipnya digambarkan apa yang terjadi di belakang layar Hollywood yang umumnya tidak banyak dicermati penonton.

So, you want to be a rock star with blue eyed bunny’s in your bed? Well, remember when you’re rich that you sold yourself for this. You’ll be famous ’cause you’re dead.
(Michael Buble – Hollywood)

Menarik bila menyimak bagian akhir lirik lagu ini:

Keep on loving what is true
And the world will come to you
You can find it in yourself

Love what is true
And the world will come to you
You can find it in yourself

Dalam hal ini Hollywood adalah simbolisasi wilayah di luar diri manusia yang salah satu efek terkuatnya membuat lupa diri. Keep on loving what is true and the world will come to you, lakukan yang terbenar, terbaik, terindah, maka dunia akan datang dengan sendirinya tanpa kau cari. Tanpa kau cari, tanpa kau kejar. Karena saat mencari dunia, mengejar terkenal namun lupa terhadap kebenaran, kebaikan, dan keindahan, saat itulah kehampaan yang didapatkan.

Keep on loving what is true and the world will come to you menurutku merupakan manifestasi dari puncak permohonan pada deklarasi tujuh ayat: Tunjukilah kami jalan yang lurus. Dengan tetap menapaki jalan yang lurus maka kenikmatan yang tidak menyebabkan kemurkaan-Nya otomatis manusia dapatkan. Kenikmatan – apapun bentuknya, yang hadir tanpa dicari, tanpa dikejar, karena diberikan-Nya sebagai bentuk cinta.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s