Kopi dan ‘The Woman I Love’

Standar

Jika salah satu minuman surga dapat ditemui di bumi maka pastilah itu kopi. Pecandu kopi boleh sepakat dengan itu. Namun bagi yang tidak suka kopi tentu tidak sepakat bila mereka disebut bukan penghuni surga.

Ada yang suka kopi pahit tanpa gula, namun ada pula yang merasa tidak lengkap bila minum kopi tanpa gula. Aku termasuk golongan yang kedua. Kopi dengan takaran gula yang pas akan terasa pahit dan manisnya, sesekali rasa asam muncul di antaranya. Ibarat transisi, untuk tidak menyebut rasa ketiga, rasa asam menjadi penengah antara pahit dan manis.

Dalam Filosofi Kopi Dewi ‘Dee’ Lestari menulis, “…kita tidak bisa menyamakan kopi dengan air tebu. Sesempurna apa pun kopi yang kamu buat, kopi tetap kopi, punya sisi pahit yang tak mungkin kamu sembunyikan.”

The Woman I Love

Maybe I annoy you with my choices
Well, you annoy me sometimes too with your voice
But that ain’t enough for me
To move out and move on
I’m just gonna love you like the woman I love

(Jason Mraz – The Woman I Love)

Aku betah mendengarkan lagu ini terutama karena aransemen piano dari tengah hingga akhir lagu. Seperti aliran cerita, nyaris tidak ada pengulangan lirik di lagu ini.

Lagu ini liriknya seperti kopi. Ada pahit yang kemudian tetap dirasakan hingga mendapatkan nikmatnya. Bila dengan gula maka ada manis di sela pahit, bisa jadi pula sebaliknya. Bahwa ada hal-hal yang tidak menyenangkan bagi kita yang dilakukan oleh orang yang kita cintai. Namun hal itu bukanlah alasan bagi kita untuk meninggalkannya atau tidak lagi mencintainya. Karena kita merasa sudah selayaknya tetap mencintainya sebagai seseorang yang memang kita cintai, apa pun kondisinya. Misal contohnya, tidak sedikitpun cintaku pada Ibuku berkurang walau aku kerap mendesis, “Berisik!”, saat mendengar Ibu berbicara yang ditujukan kepadaku atau saudaraku. Hehe…

Dialektika
Tetap ada cinta bersamaan dengan annoying thing(s) merupakan dialektika dari janji akan hadirnya kemudahan sesudah kesulitan. Bagaimana tidak? Tentu hal-hal yang tidak kita senangi tidak akan terus-terusan terjadi, maka kemudahan, kenikmatan, kelegaan dihadirkan-Nya baik sesudah atau bahkan dalam waktu yang bersamaan. Namun bukan pula kesenangan-kesenangan akan berkelanjutan, ada saat-saat sebaliknya yang mungkin saja terjadi.

I’m just gonna love you like the woman I love

Pada dasarnya kita telah mencintai sosok yang kita cintai, apa pun yang terjadi. Pada dasarnya Tuhan penuh cinta pada makhluk yang telah Ia ciptakan. Bila tak berselimut cinta, mana mungkin Tuhan menjanjikan kemudahan setelah datangnya kesulitan?

Kembali, ada manis di sela pahit kopi, begitu pun sebaliknya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s