Tambal Ban Cinta

Standar

Berangkat kerja sudah pada perkiraan waktu yang tidak mungkin terlambat sedetik pun. Belum jauh dari rumah terasa ada yang aneh pada ban belakang sepeda motor. Ternyata bocor. Singgahlah ke juru tambal ban. Benar saja, butuh satu tambalan. Dan… pasti jadi telat masuk, nih. Pasti terlambat.

Mungkin ada setengah jam proses tambal ban. Dan selama itu pula silih berganti wajah-wajah pengguna jalan lewat di depanku. Yang tua-muda, yang cantik-cantik, yang kepalanya berkerudung hingga yang masih tampak basah rambutnya (ini yang aku heran, kenapa cewek-cewek suka berkendara motor dalam kondisi rambut yang masih basah? bukannya itu malah ‘menjaring’ debu dan baju belakang jadi basah?).

Silih berganti pemandangan cewek dan ibu-ibu. Dari yang batas bawahannya di atas lutut sampai yang di bawah mata kaki. Dari yang berpakaian longgar sampai press body. Yang cewek banyak yang cantik, yang sudah menua masih tampak sisa kecantikannya. Yang cewek badannya masih bagus-bagus, yang ibu-ibu… relatif. Suatu saat, gimana ya tampilannya pasanganku? Sampai kapan ia tampak cantik? Cantiknya itu, perlukah?

Terima Saja

Bila pasangan tak lagi cantik/ tampan, masihkah kita mencintainya? Semakin usia bertambah tua, manusia pasti menurun khususnya secara fisik. Wanita tak lagi secantik dulu, pria tak lagi setampan atau segagah dulu. Masihkah kita mencintainya saat masa menua itu tiba?

Kalau tadi masalah fisik, sekarang masalah cara berpikir. Semakin tua, semakin dewasa, cara berpikir semakin matang. Idealnya begitu. Ketika masa fisik yang menua itu benar-benar datang, masihkah akan berpikir tentang ‘masihkah aku mencintainya?‘? Sudah tua masih berpikir tentang keindahan fisik juga untuk mempertimbangkan masalah mencintai, pantaskah kita sebut itu kematangan berpikir?

Seyogyanya semakin bertambah usia, makin naik level pula cara berpikirnya. Saat datang usia yang tak lagi menjanjikan fisik yang indah, rasanya lebih baik bila berpikir tentang ‘apa lagi yang dapat kulakukan bila tidak mencintainya?‘ Memangnya mau cari pasangan jenis apa lagi bila dari dirinya saja fisiknya juga menua, tak lagi cantik, tak lagi tampan, tak lagi gagah dan good looking? Bagaimana perasaan anak-anak yang melihat orangtuanya tak lagi akur? Dengan segala binar kisah yang dulu pernah dijalani, pantaskah bila fisik menjadi jarak bagi pasangan? Masa iya mau enaknya aja?

Terima saja. Rasanya itu jawaban yang akan melegakan lahir-batin. Sumeleh kalau kata orang Jawa. Gusti ora sare. Tuhan tidak tidur. Terima saja, selama usaha yang dijalani telah on the right track. Mungkin ada rahasia-rahasia tak tampak yang mungkin telah disiapkan-Nya dari pilihan menerima itu.

Tidak Mudah

Suatu ketika pernah aku merasa Tuhan tidak adil. Kalau dikembalikan pada cara berpikir tentang pertimbangan mencintai tak lagi tentang keindahan fisik, maka itu adalah hal yang lebih sederhana dibanding yang satu ini. Ketika apa yang Tuhan berikan padaku tidak kurasakan indah, menyenangkan, nikmat, dsb; pantaskah aku mempertimbangkan apakah aku masih perlu mencintai-Nya? Lalu, apa yang sejatinya dapat kulakukan bila aku tak lagi mencintai-Nya? Dengan segala yang telah diberikan-Nya dari sejak lahir hingga kini, pantaskah aku tidak mencintai-Nya? Masa iya cuma mau takdir yang enak-enak aja?

Jaminan hari depan macam apa yang akan kudapatkan bila tak lagi mencintai-Nya?

Enak nggak enak, suka tidak suka, mau tidak mau, dengan prinsip sumeleh, terima saja apa yang sudah digariskan Tuhan. Memang itu tidak mudah. Tidak mudah. Tidak… Mudah… Tapi apa iya tidak diberikan-Nya kekuatan untuk menjalani?

Matematika Cinta

Tambal ban selesai. Setengah jam lebih rupanya. Pasti telat ini. SMS ke orang HRD dari tadi kok tidak ada status terkirim. Ah…

“Pinten (berapa), pak?” tanyaku.

“Enem ewu (enam ribu), mas,” jawabnya.

“Teng pundi, mas, arahe? (ke mana, mas, arahnya?)” tanyanya sambil menyiapkan motorku.

“Ngalor (ke utara), pak,” jawabku.

Tambal ban Rp 6.000,-. Bapak ini dapat berapa ya sebulannya dari usaha tambal ban?

Jika per hari hanya ada satu orang yang butuh ditambalkan ban, maka 30 hari x Rp 6.000,- = Rp 180.000,-.

Jika sehari rata-rata dua orang yang tambal ban = Rp 360.000,- per bulan.

Bila dengan hitungan melelahkan, rata-rata sepuluh orang tambal ban dalam sehari = Rp 1.800.00,- per bulan.

Pencapaian ‘juta’ baru didapatkan bila rutin setiap hari melayani setidaknya tujuh orang. Tujuh orang setiap hari. Dapat ‘juta’, tapi bayangkan lelahnya. Bapak tambal ban ini tentu punya cara sendiri untuk tetap mencintai-Nya.

Terlambat masuk kerja? Selama sudah benar persiapan paginya, terima saja.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s