Helai Surga di Perbukitan Menoreh

Standar

Sudah lewat seminggu lebih ternyata kunjunganku ke tempat-tempat ini. Seminggu kok cepat, ya? Hempasan angin di air terjun dan luar biasanya hamparan hijau itu rasanya baru kemarin.

Rencana yang sempat jadi wacana dengan seorang kawan akhirnya jadi juga terlaksana. Mirip liriknya Shaggydog, “Pergi jauh keluar kota, lewati desa-desa.”

Ya, keluar Kota Jogja. Kali ini ke Kulonprogo.

Kurang lebih dua tahun terakhir ini aku jatuh cinta dengan pemandangan Kulonprogo. Terutama setelah berkenalan dengan kawasan perbukitan Menoreh dan beberapa acara keluarga di sana.

Bila cermat, di sisi kiri atas foto terdapat air terjun yang tampak seperti garis putih. Ini sudut pandang dari simpang tiga yang kumaksud.

Bila cermat, di sisi kiri atas foto terdapat air terjun yang tampak seperti garis putih. Ini sudut pandang dari simpang tiga yang kumaksud.

Intinya, kami pergi dari Kota Jogja menuju arah Puncak Suroloyo. Puncak Suroloyo terdapat di kawasan perbukitan Menoreh, Kulonprogo. Maka dari arah Kota Jogja melalui jalan Godean, setelah melewati jembatan sungai Progo pilih ke arah (entah dusun/ desa tepatnya) Boro. Dari situ mulai tampaklah sawah-sawah Kulonprogo yang luas-luas berlatar barisan bukit Menoreh.

Melewati daerah Samigaluh sebelum Puncak Suroloyo, bila pandangan cermat maka dari kejauhan kita dapat melihat air terjun. Aku lupa mencermati air terjun ini tampak dari desa apa namanya, yang jelas di jalan yang beraspal halus ini terdapat simpang tiga, bila ke kiri jalannya menurun, bila ke kanan jalannya menanjak. Terdapat penunjuk arah di antara keduanya. Kalau tidak salah air terjun ini terletak di desa Sidoharjo, oleh karena itu dinamakan curug/ air terjun Sidoharjo.

Tarian Titik Air

Setelah menitipkan kendaraan di rumah penduduk sekitar, kami berjalan melalui jalan setapak menuju air terjun. Hawa sejuk dan hijaunya sawah sangat menyegarkan mataku yang hampir setiap hari dipeluk monitor komputer. Hampir sepanjang jalan setapak ini terdapat jalur pengairan sawah yang mengalir deras namun tenang. Dan yang lebih menyenangkan lagi, mulai terdengar deru air terjun yang akhirnya akan kami jumpai deras setelah tampak kering pada dua kali kunjungan yang lalu ke sini.

Beruntung sekali kami berangkat pagi-pagi. Tak ada pengunjung lain yang kami jumpai di sini kecuali ibu-ibu pencari rumput liar untuk pakan ternak yang berpapasan di jalan setapak tadi. Air terjun turun dengan deras. Namun setelah beberapa saat mencermati, kami sempat beranggapan kalau dulunya pasti jauh lebih deras dari ini. Itu tampak dari lengkungan di dinding atas air terjun yang sebenarnya cukup lebar.

Hempasan angin cukup kuat di bawah air terjun. Titik-titik air berterbangan dihempas angin yang cukup kuat di bawah air terjun ini. Baju dan celana jinsku jadi basah dalam beberapa menit. Aku sempat fokus memperhatikan jatuhnya air dari atas ke bawah, mencoba seolah-olah melambatkan laju jatuhnya air. Menarik. Namun menarik pula, seperti yang kawanku bilang, bila memperhatikan udara yang bergerak di sekitar jatuhnya air yang membuat sekumpulan air bergerak-gerak di udara. Seperti menari.

Tampak di sekitar jatuhnya air terdapat garis-garis kumpulan titik air yang meliuk.

Tampak di sekitar jatuhnya air terdapat garis-garis kumpulan titik air yang meliuk.

Beberapa puluh menit berada di bawah air terjun, kami lalu sepakat menuju puncak air terjun seperti pada kunjungan yang lalu. Menuju puncak air terjun ini sama saja dengan menyusuri dinding bukit. Namun menurutku kemiringannya masih sangat aman dilalui, hanya perlu waspada karena jalan setapak sesekali licin akibat basah dari beberapa air terjun kecil yang terdapat di sekitar. Sesampainya di atas rupanya memang arus sungai lebih deras dari yang kami lihat di kunjungan sebelumnya setahun yang lalu. Warnanya keruh putih tanah.

Kiri atas: ujung sungai jatuhnya air terjun. Kanan atas: jalur turun dari puncak air terjun. Bawah: terasering di dekat air terjun.

Kiri atas: ujung sungai jatuhnya air terjun. Kanan atas: jalur turun dari puncak air terjun. Bawah: terasering di dekat air terjun.

Sekat Pulau Jawa

Selesai mengagumi air terjun dan lokasi sekitarnya kami beranjak ke lokasi selanjutnya, ke arah Puncak Suroloyo. Beruntung hari cerah namun berawan. Sehingga panas matahari terhalang oleh awan. Namun aku bukan nabi. Sesekali awan pergi.

Kali ini berbeda dengan kunjungan kami saat terakhir kali ke sini, tak ada kabut pekat, tak ada kejar-kejaran dengan kilat dan petir di puncak bukit. Hari itu cerah berawan. Namun sayangnya gunung-gunung pulau Jawa yang bisa terlihat dari sini juga terhalang oleh awan. Gunung Merapi pun hanya tampak sebagian tubuhnya. Candi Borobudur lebih mudah terlihat walaupun menurutku tampak lebih samar dengan sekitar karena warnanya seperti lebih gelap.

Dari salah satu puncak bukit yang biasa kami kunjungi, cerahnya hari seperti memanjakan mata. Hijau di mana-mana. Kami beruntung mendapat satu pemandangan menakjubkan, seekor burung elang liar. Rentang sayapnya tampak sangat lebar dan elang itu terbang cukup dekat dari puncak tempat kami berdiri. Eloknya lagi, elang itu sesekali memekik, seperti menembakkan suara dengan tenaga kecil namun pantulannya nyaring dari bukit ke bukit.

surone

Kiri: air terjun kecil di tepi jalan menuju Puncak Suroloyo. Kanan atas: pemandangan dari perbukitan Menoreh. Kanan bawah: tampak di depan sana terdapat Puncak Suroloyo.

Kuperhatikan sejauh mata memandang, hijau dan gradasi biru-putih langit. Aku baru menyadari kalau barisan bukit Menoreh ini seperti dinding tinggi yang menyekat pulau Jawa bagian utara dan selatan. Di utara tanah datar, di selatan tanah datar, dan aku berdiri di antara keduanya. Ujung bukit di sudut pantai Parangtritis samar-samar tampak dari sini.

Luar biasa pemandangan di kawasan perbukitan Menoreh ini. Aku jadi ingin mengetahui bagaimana detail proses terbentuknya bukit seperti ini. Air terjun tentu hadir dari ketinggian. Ketinggian ada karena berangkat dari bawah. Hijau subur juga karena faktor tanah. Perbukitan tinggi ini memanjang seperti dinding. Pergerakan bawah tanah sehebat apa yang menyebabkannya?

Ah, “helai surga”? Tepatkah aku menyebutnya demikian? Bukankah salah satu ciri surga itu ada bidadarinya? Kok aku dari tadi tidak membahas bidadari? Atau aku perlu mengajak bidadari ke sini? Ah, ngelantur nih…😀

*all photo captured by Budi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s