I Don’t Want To Sleep Tonight

Standar

Ternyata bisa senyaman ini rasanya tiduran di pasir pantai dengan langit cerah berbintang terhampar di depan mata. Rasanya kok rugi kalau pemandangan dan suasana seperti ini bila kutinggal tidur. Kukira cuma di tujuh belasan setiap bulan aku bisa kuat memilih bertahan tidak tidur semalam hingga pagi. “Ah, I don’t wanna sleep tonight…,” pikirku.

Kemah di tepi pantai, itulah rencana utama kami sebagian awak kantor untuk mengisi akhir pekan. Merasakan intensitas kerja pikiran di dunia penerbitan menurutku sangat wajar bila Sabtu adalah hari libur. Maka Jum’at (7/3) sore lalu selepas jam kerja kami berangkat menuju pantai yang bagiku amat asing namanya, Watukodok. Terletak di deretan pantai Gunungkidul maka tentu berpasir putih. Dan memang cukup asyik pantainya.

Selepas acara hore yang kami lakukan bersama, masing-masing dari kami menikmati malam dengan caranya sendiri-sendiri. Ada yang tiduran di pasir, ada yang ke tenda, ada pula Adi yang memainkan gitar dengan lagu-lagu yang disenandungkan seadanya oleh teman-teman yang lain seperti Sekar, Shofi, Tofa, Kak Ye, Ulil, Zendy, dan aku. (jam session, kalo kata Kak Ye😀 ). Buatku yang paling mengesankan adalah memandangi langit cerah berbintang sambil tiduran di pasir.

Google Sky Map screenshoot

Sebelumnya sempat kulihat

Shofi mengarahkan kameranya ke arah langit dan di smartphone-nya tampak aplikasi pemetaan langit, Google Sky Map, yang ia jalankan. Aplikasi yang hampir mirip dengan yang pernah kulihat di smartphone salah seorang temanku yang sering main ke rumah. Shofi yang mengaku pernah belajar astronomi sempat bercerita tentang beberapa rasi bintang berikut sifatnya. Menurutku itu menarik karena seketika aku ingat pada kakekku yang pensiunan Angkatan Laut pernah menunjukkan padaku catatannya yang berisi ilmu pelayaran. Dalam catatan itu sekilas kuingat terdapat titik-titik bintang, garis koordinat, derajat kemiringan, dll. Andrea Hirata di bagian awal Edensor mengisahkan penaklukan Ikal terhadap arah mata angin untuk membawa perahu yang ia layari bersama Weh. Kisah pelayaran Ikal itulah yang memancing penasaranku akan ilmu pelayaran yang pernah kutanyakan pada kakekku.

Ruang Malam

Beberapa menit saat kurebahkan diri di pasir dan memandang langit aku teringat pada suatu kisah yang seingatku pernah diceritakan oleh guru SMP. Guruku tersebut bercerita tentang kegundahan nabi Muhammad SAW akan arah kiblat umat Islam yang saat itu mengarah ke Baitul Maqdis, Palestina. Dalam gundahnya itu Rasulullah kerap berbaring di tanah menghadap langit hingga tak sadar bahwa pakaiannya mulai terbasahi embun malam. Selang waktu kemudian melalui Jibril Tuhan memerintahkan untuk memindahkan arah kiblat umat Islam ke Masjidil Haram, Mekkah. Kegundahan Rasulullah pun terjawab.

Bila kuingat-ingat lagi, malam hari tampaknya memang sumber inspirasi bagi sebagian orang. Rasanya cukup sering kudengar seniman yang begadang semalaman untuk mendapatkan inspirasi dan berkarya. Tak jarang pula dalam bedah buku kudengar penulis yang suka menulis di malam hari. Dan kutemui pula peristiwa-peristiwa penting di kitab suci terjadi pada malam hari, seperti turunnya ayat pertama al-qur’an dan isra’ mi’raj.

Apakah memang demikian sifat malam – ruang jawaban bagi pertanyaan-pertanyaan, lahirnya inspirasi para seniman, penawar kegundahan? Itukah salah satu sebabnya bangun malam begitu dianjurkan sebab energi dalam ruang malam demikian luar biasanya?

Ah, datangnya malam memang istimewa. Rasanya judul tulisanku ini kurang tepat. I don’t need to sleep tonight…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s