The Sweetest Place

Standar

*Catatan dari Tulisan Dokter #2

Untuk dapat meyakini sesuatu adalah benar-benar benar, sebagian orang butuh penjelasan atau minimal bukti yang terasa lebih nyata. Mungkin juga aku termasuk golongan “sebagian orang” tersebut. Atau setidaknya aku sempat meyakini kebenarannya terlebih dahulu baru setelah itu dipertemukan dengan bukti atau pengakuan dari orang lain.

Namun, sekarang aku memiliki konsepsi yang jauh lebih dalam tentang arti yang sesungguhnya dari “luas” dan “indah”. Sisi fisik dari semesta bagaikan setitik debu bila dibandingkan dengan bagian spiritualnya yang tak kasat mata. Dalam pandangan terdahuluku, spiritual bukanlah kata yang kugunakan dalam percakapan ilmiah. Sekarang aku percaya kata itu tidak bisa kita lupakan.

Dalam “pengelanaan” jiwanya selama koma Eben mendapatkan pemahaman seperti yang ia tulis pada kutipan di atas. Di dunia tak kasat mata tersebut Eben mengalami perjalanan yang pada suatu titik ia sampai di pinggir suatu Gerbang. Namun Eben mendapati kenyataan bahwa ia tidak bisa memasukinya.

Melodi yang Mengalun—yang hingga saat itu menjadi tiketku untuk memasuki wilayah-wilayah yang lebih tinggi—sudah tidak bisa membawaku ke sana. Gerbang surga tertutup.

Sebab penutupan Gerbang itu muncul perasaan kecewa yang begitu dalam yang Eben rasakan.

Pada hari tatkala pintu surga ditutup untukku, aku merasakan kesedihan yang berbeda dengan seluruh kesedihan yang pernah kurasakan. Emosi-emosi berbeda di sana. Seluruh emosi manusia ada, tetapi lebih dalam, lebih luas—emosi-emosi tersebut bukan hanya terdapat di dalam, melainkan juga di luar.

Maka, aku, dengan hati hancur, sekarang tenggelam ke dalam dunia duka yang kian meningkat, kemuraman yang pada saat yang bersamaan benar-benar menenggelamkan.

Beberapa saat setelah membaca pengakuan yang Eben tulis tersebut aku jadi terpikir sesuatu: pantaslah bila orang-orang yang semasa hidupnya di dunia mengingkari Tuhan merasakan penyesalan luar biasa setelah matinya, sampai-sampai mereka memohon untuk dikembalikan ke dunia untuk berbuat baik sepenuhnya dalam rangka mengimani Tuhan. Namun Tuhan tidak mengabulkan permohonan tersebut. Sudah terlambat. Seperti itulah kehidupan sesudah mati yang dikisahkan dalam al-qur’an.

Beruntung sekali orang-orang yang menyadari benar adanya the sweetest place itu dan selalu berusaha untuk pantas berada di wilayahnya.

Luar biasa.

I hear the sound of a raising chorus

Sung by the angels and the broken heroes

I wont go back now

I feel so right

I’ve found a place where dreams and life become one

And finally I don’t have to run

(Dewa – Sweetest Place)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s