Diperjalankan

Standar

Yogyakarta, minggu ketiga Maret 2014

Kurang setengah jam lagi jam kerja kantor habis. Berjam-jam di depan monitor lama-lama capek juga mata ini. Agak buru-buru kuselesaikan target kerjaku dan segera turun ke bawah untuk shalat Ashar.

Beberapa detik aku terpana setelah keluar ruangan, di teras halaman dalam kantor. Penyebabnya adalah hawa setelah hujan deras sejak siang. Angin sejuk menerpa wajahku saat membuka pintu keluar. Angin menggoyangkan dedaunan pohon-pohon di halaman kantor. Udara yang kuhirup terasa dingin. Langit masih agak gelap namun tak lagi hujan.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Rasanya aku akrab sekali dengan hawa ini. Hawa yang hampir selalu mengingatkanku pada hari-hari beberapa tahun lalu. Begitu indah dan aku betah beberapa saat menunda shalat Asharku demi menikmati hawa pasca hujan ini.

Hawa setelah hujan, yang dulu kusebut after-rain😀, pernah menyelimuti perjalanan pulangku dari sekolah ke rumah saat melewati jalan Mangkubumi di selatan tugu Yogyakarta, baik itu jalan kaki maupun bersepeda. Dalam hawa after-rain sepulang sekolah itu aku pernah mengkhayalkan, mengharapkan, hal-hal yang ingin kulakukan dalam beberapa waktu ke depan. Ah, khayalan anak remaja. (Waktu itu…😀 )

Kurang lebih dua tahun setelah masa-masa pulang sekolah itu berlalu, aku mulai sadar bahwa aku sudah dalam posisi terwujudnya khayalanku pada after-rain itu. Tepatnya: lebih dari terwujud.

Sambung Rasa

Dalam forum Macapat Syafaat yang lalu (17/3/2014), Sabrang (Noe ‘Letto’) sempat menyebut tentang sambung rasa. Menurutnya pertunjukan seni yang berhasil adalah yang menghadirkan sambung rasa pada penontonnya. Aku meraba sambung rasa yang dimaksud Sabrang adalah keterikatan feel antara penonton dengan kandungan makna yang dibawakan oleh pementas pertunjukan.

Bila keindahan hawa setelah hujan di halaman kantor tersebut membuatku terpana dan merasa terikat pada suatu hal, bolehlah kusebut hadirnya “pertunjukan” pasca hujan itu berhasil. Apa yang kukhayalkan sepulang sekolah dulu kurang lebih seirama dengan kisah-kisah yang kudengar dari orang-orang di sekitarku tentang terwujudnya hal-hal yang sebelumnya terasa jauh panggang dari api, atau bahkan terbayang pun tidak pernah.

Apa yang sebenarnya terjadi? Semata berhasilnya usaha manusia akan pencapaian cita-citanya? Kehendak jauh panggang dari api yang terwujud itu atau hal yang tak pernah terbayangkan sebelumnya, energi macam apa yang menyebabkannya terwujud? Bukankah mengagumkan ketika apa yang kita harapkan dapat terwujud?

Merenungkan hal itu, menurutku yang paling mengagumkan bukan pada kita bisa apa, mencapai apa, atau sampai di mana. Tapi betapa halusnya kita diperjalankan.

Diperjalankan. Dipertemukan. Diperkenalkan. Digerakkan. Adakah hal yang benar-benar manusia dapat lakukan sendiri di dunia ini?

Ketika betapa luar biasanya pengalaman diperjalankan itu disadari, boleh jadi kita merinding dan terdiam. “It’s so beautiful, it makes you wanna cry,” kalau meminjam ungkapan Avril Lavigne dalam Innocence.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s