Seperti Bikin Anak

Standar

Pendapat orang tentang suatu karya seni bisa berbeda-beda. Setiap orang dapat melihatnya dengan sudut pandang masing-masing. Namun apa yang menjadi landasan berkarya dari seniman juga menarik untuk disimak.

Tengah Maret lalu diluncurkan sebuah buku tentang pelukis Affandi di Sangkring Art Space, Bantul, Yogyakarta. Pak Djon, sopir dan asisten pribadi Affandi, adalah narasumber utama buku tersebut. Menarik ketika Pak Djon mengungkap bahwa Affandi merasa keberatan disebut seniman. Ia hanya ingin disebut tukang gambar. Karena menurut Affandi terdapat tiga tingkatan besar, yaitu pertama: Tuhan, kedua: Rasul, ketiga: Seniman.

Beberapa lukisan Affandi lalu ditayangkan pada layar di panggung dan Pak Djon menjelaskan maksud lukisan-lukisan itu. Lukisan-lukisan Affandi tersebut diantaranya Tangan Tuhan, Anjing Kerah, dan Sabung Ayam.

Dalam acara tersebut Pak Djon juga sempat bercerita bagaimana Affandi saat sedang melukis. Pak Djon yang kala itu memperhatikan gerak tubuh Affandi saat melukis menganalogikan Affandi tampak seperti sedang bersetubuh. Saat hal itu ia sampaikan kepada Affandi, Affandi menanggapi, “Iya, melukis itu seperti bikin anak dengan istri. Lukisan itu ibarat anak. Kita membuat kehidupan baru.”

Gagasan Matang
Cerita Pak Djon tentang Affandi melukis seperti bikin anak itu mengingatkanku pada satu video di Youtube tentang proses kreatif Sabrang (Noe ‘Letto’) dalam membuat lagu. Dalam video berdurasi enam menit itu Sabrang menyebut, “Kalau kita melihat penciptaan sebuah karya itu sama dengan bikin anak. Jadi harus serius, harus benar-benar, harus dengan doa.”

Bagi Sabrang lirik yang puitis hanyalah efek samping dari hal utama yang bernama gagasan. “Ketika kita ngomong sesuatu tidak punya gagasan, tidak akan berkata apa-apa tulisan tersebut,” jelas Sabrang.

Gagasan bukan hanya barang mentah, maka harus dimasak benar-benar. Sabrang lalu mencontohkan pembuatan lagu bertema cinta kepada seseorang. Ide tidak selesai pada cinta kepada seseorang itu. Harus terkandung pertanyaan, seperti kenapa cinta? Kapan cintanya? Lalu disimulasikan, bila orang yang kamu cintai itu memukulimu masih cintakah kamu padanya?

Setelah sekian banyak pertanyaan itu maka akan didapat sudut pandang kita dari mana, jarak pandang kita seberapa, mana subyek siapa obyek, tingkat hubungan kedekatan seperti apa, ide tersebut bisa diaplikasikan seluas apa. Ketika semua itu sudah lengkap barulah ia menulis lirik.

Tiada Sia-sia
Aku menarik benang merah dari yang dituturkan Pak Djon tentang pelukis Affandi dalam acara tersebut dan proses kreatif Sabrang, yaitu kematangan gagasan dalam berkarya. Sehingga lukisan, lagu, dan karya seni lainnya hanyalah media tertuangnya gagasan yang setiap detailnya dipahami betul oleh pembuatnya.

Itu baru skala kecil, antara seniman dengan karyanya. Dalam skala yang besar dan mendalam, bukankah tepat bila tiada ciptaan Tuhan yang tercipta sia-sia?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s