Menyambut Janji

Standar

*Catatan dari Tulisan Dokter #3

Dalam bab Foto Eben membahas tentang salah satu pesan yang ia tangkap saat berada di dunia Gerbang dan Inti, “Kau dikasihi.”

Terkondisi yatim piatu sejak kecil, Eben merasa bahwa kata itulah yang perlu ia dengar sejak kecil. Namun, menurut Eben, pesan itu juga perlu didengar oleh siapa pun kita pada zaman materialistis ini ketika dihadapkan pada siapa sebenarnya kita, dari mana kita berasal, dan ke mana kita akan pergi, untuk menyadari bahwa sebenarnya kita keliru kalau merasa yatim piatu. Kita tidak akan pernah merasa kehilangan.

“Tanpa memulihkan memori akan keterhubungan kita yang lebih besar dan akan kasih tak bersyarat dari Sang Pencipta, kita akan selalu merasa kehilangan di bumi ini.” (Proof of Heaven, Foto)

Pada akhirnya Eben kembali menyadari bahwa dirinya adalah ilmuwan dan dokter. Oleh karena itu, baginya terdapat dua tugas utama, yaitu menghormati kebenaran dan membantu menyembuhkan. Dengan demikian berarti Eben merasa perlu menuturkan kisahnya. Menurut Eben, itulah upaya untuk menghancurkan pengetahuan dunia yang menganggap bahwa dunia material adalah satu-satunya dunia yang ada dan kesadaran/ roh bukanlah misteri agung dan utama dari semesta.

Persaksian

Kesadaran Eben tersebut mengingatkanku pada suatu topik pembahasan dalam salah satu pertemuan Mocopat Syafaat. Saat itu Sabrang ditanya oleh salah satu jamaah maiyah yang hadir tentang makna di balik salah satu lagu Letto yang berjudul Menyambut Janji. Yang kuingat saat itu Sabrang menjawab kurang lebih demikian, bahwa lagu tersebut berlatar belakang kisah perjanjian yang terjadi di alam rahim, tentang persaksian manusia terhadap Tuhan.

Saat terlahir ke dunia manusia dibuat lupa dengan perjanjian di alam rahim tersebut. Namun Tuhan memberikan “kunci-kunci” untuk mengingat kembali perjanjian itu. Maka ketika dengan “kunci-kunci” tersebut manusia menemukan kembali pemahaman akan perjanjiannya dahulu di alam rahim, hidupnya ia abdikan sepenuhnya untuk memenuhi janji tersebut. Menyambut janji.

Membaca habis buku ini aku merasa bahwa Eben Alexander telah mencicipi pengalaman roh yang dikisahkan dalam al-quran.

 

Janin dalam rahim

“Bukankah Aku ini Tuhanmu?”

Mereka menjawab, “Betul  (Engkau Tuhan Kami), kami bersaksi.”

QS. Al-A’raf (172)

 

One thought on “Menyambut Janji

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s