Sejarah Dawet

Standar

IMG_20140612_130010

Siang ini Jogja cukup panas. Seusai makan siang di warung nasi rames. Fila mengajakku membeli es dawet di warung seberang jalan.

Untuk beberapa saat kami menikmati es dawet di warung sederhana yang jendelanya terbuka di tiga sisi. Angin sesekali berhembus menebus panas siang ini. Ah, dua ribu rupiah cukup murah untuk es dawet segelas besar dan senikmat ini.

“Fil, kamu tau nggak, asal mula es dawet?” tanyaku

“Tuh, kan. Pasti mulai lagi, deh,” elaknya.

“Dengerin dulu, dong!”

“Apa emangnya?”

“Jadi,” kataku memulai, “dulu pengikut Nabi Daud memonumenkan cintanya kepada sang nabi. Salah satu bentuk monumen cintanya adalah membuat minuman yang rasanya manis dengan taburan rumput kecil yang ukurannya tebal-tebal,” ungkapku.

“Terus?”

Es dawet Fila telah habis, menyisakan butiran-butiran es batu di dasar gelas. Kulihat pelan-pelan ia memiringkan gelasnya. Sambil mengaduk-aduk sisa es dawet di gelasku kulanjutkan ceritaku.

“Nah, mereka menamai minuman manis bertabur daun rumput itu dengan Minuman David. Lalu pengikut Daud menyebar ke seantero bumi. Sampai ke tanah nusantara sini, nama minuman itu cuma bergeser sedikit: Minuman Dawet,” jelasku sambil meneguk sisa dawet terakhirku.

Demi mendengar penjelasanku itu Fila bersiap bangkit dari duduknya. Gelasnya es dawet yang ia tinggalkan di meja benar-benar kosong. Mungkin ia akan membayar es dawetnya.

“Jadi, para penjual es dawet ini masih keturunan para pengikut Daud a.k.a David. Gitu maksudmu?” tanya Fila sambil bangkit dari duduknya.

“Nah, itu maksudku!” seruku sambil meneguk habis es dawetku.

Tiba-tiba kurasakan bagian belakang leherku mendingin. Dingin itu lalu menyebar ke punggungku. Aku tersadar, Fila memasukkan sisa es batu dalam gelasnya ke balik bajuku!

“Lho! Eh! Eh! Apaan, Fil?!”

“Aku juga pengikut David, Tris! Kalau saja aku sekarang bawa ketapel, aku tembakkan sisa es batuku ke mukamu persis seperti saat David melawan Jalut!” gusarnya. “Es dawet tinggal minum kok cerewet,” ujarnya pelan sambil pergi membayar dua gelas es dawet.

Fila membungkamku telak. Tapi boleh juga “tembakan” Fila. Ah, aku cerewet. Harusnya kunikmati saja dawetku, seperti kunikmati saat-saat bersamanya. Teman dialektika.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s