Bawalah Ini, Sayang!

Standar

Tahun lalu di suatu desa di Gunungkidul, kami sekeluarga berkunjung ke rumah adik kakekku dari pihak ibu. Ketika kami akan kembali pulang keluarga rumah yang kami kunjungi membawakan beberapa hasil kebun untuk kami bawa pulang. Seingatku kacang tanah dalam jumlah banyak. Tentu hal ini tidak bisa dipandang dari materi apa yang mereka berikan, namun pada ikatan sambung rasa yang disimbolkan dalam pemberian itu.

Atau suatu ketika di Pantai Ngrenehan, Gunungkidul, kami sekeluarga diminta membawa pulang sejumlah tangkapan laut yang telah dimasak oleh kerabat yang tinggal di sana. Intinya sama, sebagai ungkapan sambung hati, sambung rasa. Bukankah demikian pada umumnya sikap kita kepada sosok-sosok yang tidak setiap hari bertemu? Ada usaha untuk membuat ikatan kasih tersebut tetap ada.

Siang ini terlintas di pikiranku bahwa mungkin begitu juga dengan melepas kepergian orang tercinta yang meninggal. Doa kepada si sosok yang meninggal itu kuibaratkan seperti hasil kebun atau ikan masak yang diberikan keluarga kami untuk kami bawa pulang. Yang bisa kita bawakan ke si meninggal yang berpulang adalah bingkisan doa.

Dalam bukunya, Proof of Heaven, dokter Eben Alexander, M.D. mengungkapkan betapa bahagianya ia, yang kala itu sebagai ruh yang terpisah dari jasadnya, mendapatkan kiriman doa dari orang-orang yang mengingatnya. Jadi, betapa doa yang kita panjatkan kepada Tuhan itu sangat berarti bagi ruh si meninggal di alamnya sana.

Siang ini aku menyadari dan benar-benar mengagumi hal itu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s