Masih Mau Jadi Macan?

Standar

Haauummm!

“Hmm… Macan Asia…” ucapku pelan sambil membayangkan ungkapan yang terdengar agung itu.

Haaauumm! Tiba-tiba macan dalam bingkai itu melompat hendak menerkamku. Aku panik.

Belum selesai kuredam panikku kudengar macan itu berseru, “Masih mau jadi macan?!”

“I… Iya…” jawabku ketakutan. Kembali macan itu hendak menerkamku.

“Masih mau jadi macan, heh?!”

“A… Aku… Yang sering aku dengar semua bisa jadi macan,” aku jawab sambil bergerak menjauhinya.

“Hrrrmmm….. Hrrrrhhh…” macan itu menggeram, “apa masih penting bagimu menjadi macan, hah?!”

“Baiklah… Baiklah… Bukan Macan Asia, jadi Banteng Dunia saja!” kataku sambil bergerak menjauh. Aku memilih menjauh dan tak lagi menoleh pada si macan.

“Sejak kecil dirinya dikenalkan sebagai Garuda tapi besarnya ingin jadi macan, jadi banteng??! Makhluk berakal macam apa yang tidak mengenali dirinya sendiri?!” seru si macan. Aku makin menjauh.

“Lalu harus bagaimana lagi?” batinku bertanya-tanya.

“Kenali dirimu benar-benar! Pahami tanah yang kau pijak!” teriak si macan itu seolah mendengar tanyaku dalam hati. Suaranya memantul-mantul di dinding ruangan. Mendengar kata-kata si macan tiba-tiba aku merasa kerdil.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s