Tidur Terhormat

Standar

Aku sedang mencuci piring, gelas, sendok, dkk ketika terpikir hal ini. Pagi sebelumnya ada kabar salah satu tetangga yang meninggal. Itu adalah kabar kematian kesekian, kabar yang sejak akhir tahun lalu hingga saat ini tidak sempat lagi kuhitung. Kabar kematian orang-orang di lingkaran tetangga, kerabat, hingga saudara yang hampir setiap bulan bertemu.

Aku teringat pertanyaan yang umum ditanyakan orang yang sedang melayat, “Badhe disareaken teng pundhi?” – Akan dimakamkan di mana (si jenazah)?

Sare? Kok yang dipilih kata sare ya? Dalam bahasa Jawa sare berarti tidur. Makam dalam bahasa Jawa disebut pesarean. Lho, tak lagi bernyawa kok dilekatkan dengan sare?

Bukankah orang disebut tidur karena ada pandangan bahwa kelak nanti ada waktunya dia bangun? Maka menurutku istilah pesarean mengandung kesadaran bahwa orang meninggal dunia pada hakikatnya tidak benar-benar berhenti hidupnya. Ada dimensi di mana ia sepenuhnya terbangun.

Dengan demikian berarti pada istilah Jawa tersebut telah mengandung kesadaran hidup siklikal. Ini belum lagi bila dikaitkan dengan falsafah Jawa lainnya seperti urip mung mampir ngombe, bisa lebih dalam lagi pembahasannya. Dan dalam pandangan Islam kesadaran tersebut terkandung pada innalillahi wa inna ilaihi raji’un. Dan lagi-lagi, innalillahi wa inna ilaihi raji’un ini sifatnya aplikatif untuk banyak hal, tidak bisa disempitkan pada ungkapan yang terkait kematian orang.

Panggilan Terhormat

Siang setelah cuci piring aku diajak ibuku melayat di Masjid Gedhe Kauman, Yogyakarta. Menjelang siang ibu mendapat kabar ada kerabat yang meninggal dunia. Nah, lagi-lagi dengar kabar orang meninggal dunia.

LAYAT KAUMAN

“Dipanggil menghadap Allah,” begitu kata pemberi sambutan di upacara pelepasan jenazah. Biasanya, sih, orang akan melakukan persiapan-persiapan sebelum menghadapi sesuatu atau pihak yang dianggapnya penting, spesial, istimewa. Kadar keistimewaan menentukan kadar persiapan.

Si meninggal dipanggil menghadap Tuhan? Aku membayangkan seandainya yang dipanggil Tuhan itu adalah diriku. Kok Tuhan sampai mau-maunya memanggilku untuk menghadap? Padahal siapa, sih, aku? Kok terhormat sekali rasanya bila yang memanggil adalah Tuhan. Bagaimana bukan suatu kehormatan bila yang memanggil untuk menghadap adalah pihak yang amat penting, Mahapenting?

Bila hal yang pasti dalam hidup adalah mati, dan begitu misteriusnya pengetahuan kapan orang akan mati, maka kematian patut dianggap hal yang istimewa. Karena kepastian bahwa suatu saat orang akan menghadapi hal yang istimewa tersebut, maka sepatutnya ia tahu betul sejak kapan ia harus melakukan persiapan untuk memenuhi panggilan, untuk menghadap kepada Yang Mahapenting.

Sabrang #MaiyahYogya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s