Cicak, Mantan, dan Maroon 5

Standar

Kemarin lusa setelah bangun tidur aku beranjak ke bagian belakang rumah. Perhatianku tercuri pada suara gaduh di atasku. Rupanya ada perseteruan dua makhluk di langit-langit rumah. Cicak dan kecoa. Kepala kecoa telah masuk sepenuhnya ke dalam mulut cicak yang berusaha menelannya. Kecoa meronta-ronta, ingin melepaskan diri dari cicak.

Aku melihatnya sebentar lalu membiarkannya. Kuanggap itu hal biasa karena meski cicak tubuhnya kalah besar dari kecoa aku pernah melihat cicak menelan capung yang juga lebih besar dari ukuran cicak yang menelannya. Tapi apa yang terjadi kemudian? Ternyata kecoa itu jatuh! Kecoa itu jatuh di lantai dan lari seketika dengan agak terpincang-pincang.

“Lho, lepas?” pikirku saat itu. Padahal tadi kulihat kepala kecoa telah masuk sepenuhnya ke dalam mulut cicak. Menurutku tubuh kecoa seharusnya bisa tertelan, namun akhirnya lepas juga. Cicak tempo hari kulihat bisa menelan capung, cicak yang sekarang gagal menelan kecoa.

Dulu, sih, pernah juga aku menemukan cicak yang mendapatkan sepadan dengan apa diusahakannya seperti yang pernah kutulis di sini. Tapi… Ya, ampun… Bahkan cicak saja tidak selalu bisa mendapatkan apa yang telah dia usahakan dengan keras. Berarti konsep tentang “belum rejekinya” atau “bukan jodohnya” atau ungkapan sebangsa itu, bukan hanya milik manusia yang punya akal dan rasa. Itu hukum alam!

Sang Mantan

Akhir-akhir ini di sosmed beredar kabar tentang seorang gadis yang datang ke pernikahan mantan pacarnya yang kabarnya dulu mereka pernah berpacaran selama tujuh tahun. Tujuh tahun, bayangkan tujuh tahun… Bahkan kedekatan selama itu tidak menjamin keduanya bersama dalam ikatan yang resmi. Meski ada juga, sih, seorang rekanku yang mengaku kalau dulu sebelum menikah ia dan istrinya berpacaran sembilan tahun lamanya. Dan kini mereka tengah menanti kehadiran anak pertama mereka.

Aku tidak heran dengan kabar seperti tidak bersatunya dua orang yang sebelumnya telah tujuh tahun berpacaran. Di lingkaran keluargaku pernah ada saudaraku, perempuan, sejak SMA hingga lulus kuliah berpacaran dengan teman lelakinya namun bukan lelaki itu yang menjadi suaminya saat ini. Saat ini saudara perempuanku tersebut telah memiliki tiga anak yang lucu-lucu dengan suami yang seingatku dulu dikenalnya kurang dari setahun sebelum mereka menikah.

Peta

Kecoa yang lepas dari kuasa cicak mengantarkanku pada pemahaman bahwa hukum alam yang demikian itu telah ditampung oleh bacaan yang kubaca setiap hari. Bacaan tersebut mengandung permohonan agar selalu ditunjukkan jalan yang lurus, jauh dari ketersesatan. Nah, maka urusannya adalah menapaki jalan, melakukan usaha terbaik seperti yang cicak-cicak tadi lakukan. Masalah mangsanya dapat tertelan atau tidak, masalah yang kita usahakan seperti apa hasilnya, itu bukan urusan si pelaku usaha. Ada Yang Maha Kuasa mengusahakan hasilnya.

Jadi, urusan manusia yang dibekali akal dan rasa adalah berjalan, melakukan usaha terbaik, mengkhayalkan hasil. Berjalan, mengikuti peta dengan memperhatikan keindahan di sekitar jalan. Tujuan dari mengikuti peta dapat dipahami dengan menjalaninya.

Peta? Ah, aku jadi ingat bagian lagu yang sering dimainkan rekan kerjaku di komputernya.

so i’m following the map that leads to you

the map that leads to you

ain’t nothin’ i can do

the map that leads to you

following following following to you

the map that leads to you

ain’t nothin’ i can do

the map that leads to you

following following following

(Maroon 5 – Maps)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s