Lagu-lagu Menunggu

Standar

Aku duduk di dekat jendela lantai dua menghadap keluar. Langit sore setelah hujan tampak di jendela besar itu. Benar, jendela sebenarnya menampilkan kekayaan mahalebih dari “jendela” yang tampak di layar monitor komputer.

“Kalau dia kayak kamu gitu bisa sambil lirih menyanyikan ‘deras hujan turun mengingatkanku pada dirimu…‘,” ujar seorang teman kerja di belakangku sambil tertawa. Ia bercerita tentang seorang teman kerja kami yang lain. Aku juga tertawa setelah membayangkannya. Lalu pelan-pelan aku melirih lanjutan lirik lagu yang temanku sebutkan tadi. Sekejap kemudian aku merasakan sesuatu: gelombang itu bekerja lagi!

“Iya, ya? Kenapa, ya, orang kok sampai terpikirkan mau menunggu seperti itu? Kalau dilogikakan kok… nggak masuk akal memang. Tapi kok mau, ya?” ujarku sambil meraba sebersit pikiran yang terlintas beberapa hari sebelumnya. Entah, secara tidak sengaja di mana-mana aku mendengar lagu-lagu dengan muatan lirik menunggu hadirnya sosok yang dirindukan.

Secara industri boleh jadi muatan lirik lagu dibuat sedramatis mungkin agar pasar suka dengan lagu-lagu si artis. Tapi, dalam kenyataannya menurutku bukan tidak mungkin juga orang benar-benar mau menunggu hingga waktu yang sangat tidak dapat ditentukan untuk bertemu atau bersatu dengan yang dirindukannya. Urusan seperti ini menurutku ranahnya bukan di akal.

Permaafan dan Penerimaan

Nah, lalu apa hal yang paling membahagiakan si penunggu? Kutebak saja, yaitu kehadiran sosok atau sesuatu yang sangat dirindukan. Saat hadirnya sosok yang dirindukan si penunggu tidak lagi peduli dengan hari kemarin sosok tersebut. Hadirnya sosok yang dirindukan sedemikian lama dan hari-hari depan yang akan dijalani bersama jauh lebih dipedulikan. Si penunggu akan sangat memaafkan perbuatan hari kemarin sosok tersebut dan menerima hadirnya kini sepenuhnya baginya.

Permaafan total? Penerimaan sepenuhnya? Padahal sebelumnya ia dibuat menunggu lama, sesak, bahkan mungkin marah. Tapi, si penunggu tetap juga punya keyakinan bahwa suatu saat yang ditunggunya akan datang. Ah, lagi-lagi tidak masuk akal. Atau mungkin aku yang terlalu menganggapnya harus masuk akal sementara hal-hal tidak masuk akal memang benar-benar ada?

Aku jadi teringat konsep permintaan maaf total. Taubat. Ya, bukan tidak mungkin Tuhan sesak dan marah melihat manusia yang menjauh dari-Nya. Tapi, Tuhan tetap mau kok menunggu manusia minta maaf kepada-Nya. Ia yakin manusia bisa mendekat kepada-Nya karena telah membekali manusia kemampuan untuk itu. Pastinya Ia begitu senang bila manusia tersebut kembali berdekatan dengan-Nya.

Bahkan setelah itu, manusia belum meminta pun sudah Tuhan berikan. Bukan berarti juga meminta itu tidak penting, tapi itu lebih sebagai ungkapan cinta dari si penunggu terhadap sosok yang ia tunggu kehadirannya. Mungkin itulah sebab dari sesuatu bisa datang dari arah yang tidak pernah manusia menyangka. Sesuatu yang… jangan melulu pakai akal menyikapinya.

aku menunggu dengan sabar
di atas sini, melayang-layang
tergoyang angin, menantikan tubuh itu
(Payung Teduh – Resah)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s