Cinta Lanjut Usia

Standar

“Halo, kamu di mana sekarang, No?” tanya lelaki tua itu, “Oh, ya. Cuma mau bilang aja selamat jalan. Ya, sudah. Assalamu’alaikum,” pembicaraan selesai, telepon ditutup.

“Cuma gitu aja?” tanyaku dalam hati. Tadi itu pembicaraan antara kakekku dengan salah seorang anaknya yang akan pergi ke luar kota.

Sambil melanjutkan makan malam aku terngiang-ngiang kata-kata kakekku barusan. Usia lanjut dengan anak-anak yang sudah berpencar tidak menghalangi ekspresi cintanya sebagai orangtua. Terdengar sepele memang, cuma mau bilang selamat jalan. Tapi, itulah bentuk cinta kepada anaknya yang dapat ia lakukan. Anak yang kini tidak lagi digendongnya seperti dulu, tidak lagi digandeng tangannya saat jalan-jalan sore atau tidak dicucikan lagi bajunya yang kotor akibat bermain tanah. Di situlah titik penting kelancaran dan keselamatan kegiatan si anak. Doa, restu orangtua.

Ada kemungkinan si anak yang telah dewasa risih apabila sering dihubungi orangtuanya untuk kalimat-kalimat yang terdengar sepele. Tapi, si anak juga seharusnya maklum dengan kondisi orangtuanya yang… ya, begitulah yang namanya orangtua itu. Suatu saat ketika orangtua sudah tidak ada hal-hal sepele seperti yang kusebut di atas dapat menjadi pijakan-pijakan monumental untuk mengenangnya.

Siang ini salah seorang kawan di ruangan kerjaku harus pamit pulang lebih awal. Ia mendapat kabar bahwa baru saja ayahnya meninggal dunia.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s