Kerupuk Sarapan

Standar

“Buk, kerupuknya masih ada?” tanyaku santai kepada Ibu sambil membuka stoples kerupuk. Sarapan nasi dan sayur sudah kuambil di piring makan.

“Coba lihat aja di stoples, mungkin habis,” jawab Ibu.

“O, iya. Habis, Buk. Ya udah, nggak apa-apa.”

Lalu kulihat Ibu menyiapkan wajan kemudian menyalakan kompor. Rupanya Ibu mau menggoreng kerupuk mentah.

“Buk, nggak usah nggorengin, buk! Gini aja nggak apa-apa.”

“Iyaa…” ujar Ibu sambil menggoreng kerupuk. Setelah kuhabiskan beberapa suap nasi, kerupuk yang masih hangat Ibu taruh di piring sarapanku.

Tepat ketika kerupuk menyentuh permukaan nasi di piringku, aku merasa seperti déjà vu. Hal-hal seperti itu sudah tak terhitung berapa kali terjadi. Aku tidak minta sesuatu kepada Ibu tetapi Ibu memberikan. Itu mirip juga dengan apa yang kucermati pada hari-hari terakhir sebelum sarapan pada pagi itu bahwa ada hal-hal yang hangat, menyenangkan, menggairahkan, mencerahkan, yang aku tidak memintanya tapi Tuhan memberikannya padaku.

“Lho, tapi, kan Ibu bukan Tuhan?” pikirku sambil mengunyah sarapan. “Iya, memang Ibu bukan Tuhan. Tapi, kok, sama ya polanya?” pikirku masih penasaran.

Aku lalu mencoba meraba hal-hal yang terkait dengan ibu, sesuatu yang bersifat ibu. Tentu hal tersebut tidak mungkin terjadi bila pada Ibu tidak terdapat kasih sayang pada anaknya, itu sifat dasar ibu. Anak bisa saja tinggal jauh dari ibu bahkan lupa dengan ibunya, tetapi ibu tetap mengiringi si anak melalui doanya.

Sebelum sarapan kuhabiskan betul aku menemukan bahwa setiap hari ada bacaan yang kubaca rutin: ummul kitab, ibunya Al Qur’an. Surat pertama dalam mushaf Al Qur’an, Al Fatihah. Ya, ketika shalat orang boleh tidak membaca surat pendek atau ayat Al Qur’an lainnya asalkan ia membaca Al Fatihah. Shalat masih sah asalkan Al Fatihah dibaca pada setiap rakaatnya. See? “Ibu” adalah sesuatu yang tidak bisa ditinggalkan.

Ada apa dengan ibunya kitab, Al Fatihah? Nah, sifat rahman-rahim Tuhan disebut dua kali dalam Al Fatihah. Tentu bukan tanpa maksud sifat itu berulang disebut dalam Al Fatihah. Aku melihat bahwa ternyata memang sifat dasar itulah yang kurasakan dari Ibu dan aku mengamati bagaimana para ibu menyikapi anak-anaknya. Rupanya Tuhan menitipkan sifat kasih sayang-Nya kepada sosok ibu. Dan sifat dasar itulah yang menyebabkan Tuhan bisa memberikan banyak hal kepada manusia tanpa dimintanya terlebih dahulu. Aku sempat terdiam menyadari hal ini.

Orang akan kehilangan hidupnya ketika ia menjauh lahir batin dari ibunya, apalagi bila menjauh dari Mahaibu. Bukankah dapat disebut perjalanan ketika kita menyadari dari mana kita berangkat? Tujuan perjalanan boleh jadi sempat tidak terbaca, tidak tahu arah, tapi kesadaran tentang berangkat dari mana harus digenggam terlebih dahulu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s