Bulan Sabit Pagi

Standar

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Aku sedang dalam perjalanan malam Jogja-Jakarta ketika mendapatkan kabar bahwa menurut dokter kandungan ibunya bayi ini harus dilahirkan melalui operasi caesar. Posisi bayi sampai saat mendekati HPL melintang di dalam rahim ibunya. Bayi ini kini berusia dua minggu. Mungkin ia bosan diajak ngobrol terus dari luar kandung rahim ibunya, maka ia minta keluar lebih cepat seminggu dari HPL-nya.

Aku menantikan betul kelahirannya. Ketika mengetahui ia akan lahir lebih cepat dari HPL aku agak deg-degan juga. Apalagi mengingat posisinya di dalam kandungan dan gerakan aktifnya. Yang bisa kulakukan yaitu mencoba berkomunikasi dengannya dalam bahasa ruh. “Dik, tenang ya, dik. Bantuin ibumu ya, dik,” batinku dalam simpuh setelah sholat subuh. Pukul 5 pagi ia keluar dari kandung rahim ibunya. Bayi laki-laki. Operasi caesar berjalan lancar.

Saat melihatnya dibawa keluar dari ruangan bedah kulihat

kulitnya putih bersih. Matanya terbuka sambil badannya menggeliat-geliat. “Oh, pantas ibumu sering bilang kalau kamu di dalam kandungan banyak gerak. Lha geliatmu kayak gini, kok,” pikirku saat melihatnya pertama kali. Tak lama aku bisa memandanginya saat itu karena perawat segera membawanya ke ruang bayi untuk dibersihkan.

Untuk beberapa saat, entah karena prosedur rumah sakit atau memang kondisinya mengharuskan demikian, ia tidak diposisikan berada di dekat ibunya. Si bayi di ruangan bayi dan ibunya di salah satu bangsal di lantai dua. Pun aku harus bersiap berangkat kerja pagi itu meski sebenarnya ingin juga segera bersentuhan dengan si bayi.

Bayi ini mengagumkanku bahkan sejak ia masih dalam kandungan. Malam setelah kelahirannya aku hadir di maiyah Mocopat Syafaat (MS) di Bantul. Ya, tanggal kelahirannya sama dengan tanggal MS berlangsung setiap bulan. Sama juga dengan tanggal kelahiranku. Aku rela meninggalkan MS malam itu ketika mendapat kiriman di WhatsApp foto bayi ini sudah berada di samping ibunya. Maka memutuskan saat itu juga pergi ke rumah sakit. Pilihanku biasanya adalah berangkat ke MS sampai selesai menjelang subuh atau tidak berangkat sama sekali. Syukurnya, belakangan aku sudah mendapatkan rekaman #MSFeb 2015.

Rupanya cerita malam itu bukan tentang bertemu atau tidak bertemunya aku dengan si bayi. Ketika perjalanan dari Kasihan, Bantul, ke rumah sakit di Umbulharjo, Kota Yogyakarta, ban belakang motorku bocor di dekat Plengkung Gading. Jam 12 malam saat itu, mana ada tambal ban buka? Tempat-tempat yang kutaksir akan menemukan tambal ban toh tutup semua ternyata. Akhirnya kutemukan tambal ban di sekitaran Pakualaman, tepatnya di dekat pertigaan Bintaran.

Konsep rejeki berbicara di situ. Juru tambal ban terbangun dari tidurnya saat kedatanganku, disusul dua pengendara motor lainnya yang saat itu juga membutuhkan jasa bapak penambal ban. Motorku memang Tuhan bikin bocor dua lubang sebagai rejeki untuk bapak penambal ban dan untukku yang ngantuk berat setelah satu jam menunggui proses tambal ban. Kalau ban motorku tidak bocor kemungkinan aku akan lupa waktu jika bertemu dengan bayi itu dan paginya akan kecapekan saat berangkat kerja. Juga bapak penambal ban itu kemungkinan masih tetap tertidur pada jam kedatanganku membutuhkan jasanya. Kuputuskan dini hari itu batal ke rumah sakit dan bergegas tidur di rumah.

Pada hari kedua kelahirannya, sepulang kerja, akhirnya aku bertemu dengannya. Kucium kening dan pipinya lalu menggendongnya. Ia tidak menangis dalam gendonganku. Pada hari berikutnya, saat kugendong untuk kedua kalinya, aku mendapatkan tanda sayang darinya: dia eek sangat banyak hingga mengotori baju dan celanaku. Ah, nggak apa-apa, dik. Toh, kata orangtua-orangtua yang datang menengoknya, kalau bayi sampai buang air di gendongan penggendongnya itu berarti bayi tersebut nyaman dengan penggendongnya. Kini aku mulai terbiasa membersihkannya lalu mengganti popoknya setelah buang air.

Lucunya, hampir setiap keluarga atau tamu yang melihatku menggendongnya menganggap aku lebih luwes menggendong si bayi daripada ayahnya sendiri. Dan ayahnya pun mengakui itu. Setiap kugendong bayi ini kuajak bicara. Dan kurang lengkap rasanya bila tidak sambil kulirihkan tembang “Duh Gusti”-nya gamelan KiaiKanjeng.

Salah satu hal yang berkesan bagiku adalah perjalanan menuju rumah sakit untuk menyambut kelahirannya. Pada sebagian besar jalan yang aku dan ibuku lewati menuju rumah sakit, tampak di langit di hadapan kami bulan sabit yang masih tampak jelas, berlatar bintang-bintang yang terangnya belum terkalahkan oleh semburat matahari pagi. Mungkin kelak jika ba’da subuh aku masih melihat bulan sabit maka yang teringat adalah kelahirannya.

Ayahnya mendoakan ia menjadi orang yang memiliki kelembutan, maka dipilihlah nama Luthfie baginya. Ya, memang juga harus dengan kelembutanlah orang-orang di lingkungan anak bayi tersebut menemani langkah hidupnya menuju pemenuhan janji yang ia persaksikan sebelum terlahir.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s