Matematika Intuitif

Standar

“Apakah kamu tega pada anakmu kelak dengan memasukkannya ke sekolah formal?” gumamnya pagi itu pada dirinya sendiri. Cerita teman-temannya tentang tingkah anaknya masing-masing dan kegiatan sekolahnya menyiratkan kebenaran bahwa setiap anak terlahir istimewa.

Matematika melambangkan kesucian. Kamu marah, jatuh cinta, sedih, atau sedang bahagia setinggi langit, tiga dikali lima tetaplah lima belas, sepuluh ditambah satu selalu sebelas. Pun begitu dengan anak. Keunikan pada setiap anak perlambang kesucian penciptaannya.

Kalau anakmu suka menggoreskan warna, kenapa harus dipaksakan berkutat dengan angka? Kalau dengan intuisinya ia bisa menemukan rumusnya sendiri atas soal perhitungan, apa pantas disalahkan dengan menjejalkan rumus-rumus sekolah sebagai kebenaran tunggal? Salahkah anakmu jika ia mendapat nilai yang dianggap buruk oleh standar sekolah? Anakmu yang bodoh atau kamu yang tidak memahami betul tingkahnya sejak awal?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s