Gelombang Kopi

Standar

Bandoeng

Hampir ngantuk. Bikin kopi, ah, pikirku. Aku beranjak dari komputer sekalian membuang bungkus vitamin C lalu akan ke dapur membuat kopi. Setelah membuang sampah tidak tahu kenapa ingin balik lagi ke komputer lalu duduk di kursi.

“Tsani,” panggil seorang teman di belakangku sebelum berujar, “aku, tuh, kemarin mau bilang sama kamu, tapi lupa kalau kemarin kamu lagi ke Bandung. Mau ngasih ini.” Sebungkus kopi dari mudik dengan suaminya di Bandung beberapa hari lalu ia sodorkan padaku. Karena ia pikir di ruangan redaksi yang suka ngopi cuma aku.

Ketika bungkus Kopi Bandoeng ini kungenggam aku membayangkan bahwa pasti lain ceritanya jika tadi seusai membuang sampah aku tidak kembali sejenak menghadap komputer. Mungkin Kopi Bandoeng ini akan sampai kepadaku dalam keadaan aku baru saja menyeduh kopi ‘Jelas Lebih Enak’.

Ketika akan membuat kopi tadinya aku sama sekali tidak terpikir akan menyeduh Kopi Bandoeng ini. Tapi ternyata ada skenario bahwa aku kembali duduk di kursi dan diberi kopi oleh seorang teman di belakangku. Dan gelombangnya sejak awal tetap satu: urusan kopi.

Pada suatu status di Facebook pernah aku menyebut kalau enaknya ngopi itu ibarat minuman surga. Mungkin demikian juga dengan surga. Orang hanya perlu mengikuti gelombang yang berkaitan dengan surga tanpa berpikir bahwa pasti ia akan mendapatkan surga. Dengan kesediaan mengikuti gelombang tersebut, eh, tahu-tahu dihadiahi surga betulan.

Jadi, gimana rasa Kopi Bandoeng ini? Enak!🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s