Di Balik Tangis Bayi

Standar

Apa saja penyebab bayi menangis? Pada umumnya karena lapar, haus, buang air, atau gerah. Mudah kujumpai hal tersebut pada keponakan dua bulanku. Biasanya tangisnya reda setelah disusui ibunya, digantikan pakaiannya, atau digendong om-omnya yang ganteng.

image

Namun pada suatu sore, jauh sebelum keponakanku lahir bahkan kedua orangtuanya belum menikah, ada penyebab selain hal-hal yang kusebut tadi yang dapat menyebabkan bayi menangis. Sore itu

aku, adikku, dan ibuku sedang mengobrol di ruang tamu rumah ditemani kacang rebus dan teh. Beberapa saat lalu terdengar tangis bayi tetangga dari luar. Cukup lama tangis bayi tetanggaku itu terdengar dan kami tidak tahu pasti kenapa sebabnya.

Ibu mengungkap bahwa bayi dapat menangis jika diantara kedua orangtuanya sedang ada masalah. Bahkan, kata Ibu, perasaan seorang ibu hamil kepada suaminya dapat terwariskan ke anak yang akan terlahir nanti. “Makanya, orang menikah itu harus jelas dulu apa tujuannya,” ujar Ibu.

Pembicaraan sore itu menjadi file tersendiri bagiku berhari-hari kemudian.

Curhat Teman

Seorang teman lama menghubungiku untuk suatu keperluan. Lama kami tidak berjumpa dan urusan yang ia membutuhkan bantuanku sempat kami komunikasikan melalui layanan pesan instan. Singkat cerita kami memang perlu bertemu, pada suatu malam, lebih dari setahun lalu.

Sebut saja namanya Eska. Dia cantik, tinggi semampai, mandiri, dan fashionable. Usai membicarakan urusan yang perlu kami selesaikan, ia lalu membicarakan hal yang sempat ia samarkan dalam chatting di pesan instan. Rupanya ia memiliki masalah yang cukup pelik.

“Jangan dulu menikah kalau di antara kalian ada masalah yang belum selesai!” tegasku kepada Eska setelah ia panjang lebar bercerita tentang masalah antara ia dan pacar tujuh tahunnya. Ia sempat menyebut bahwa sebenarnya ada niatan mereka untuk segera menuju jenjang pernikahan.

“Gitu, ya, Tsan?” tanya Eska. Tampak sebersit keraguan dari pertanyaanya.

Sejenak ia akan melanjutkan kata-katanya tapi kusela, “Karena kalau setelah kalian menikah dan ada masalah yang belum diselesaikan atau belum disepakati di antara kalian, yang akan menjadi korban, ya, anakmu nanti,” ujarku. Kuterangkan maksudku kepada Eska bahwa jika sewaktu-waktu masalah yang belum selesai sebelum pernikahan tersebut muncul ketika Eska sedang mengandung, perasaan Eska kepada suaminya, semisal kecewa, marah, tidak suka, atau benci, akan terbawa oleh anak yang sedang dikandungnya sampai ia besar nanti.

Eska memahami apa yang kusampaikan. Dan di luar dugaanku ia mengungkapkan bahwa begitulah perasaan Eska kepada ayahnya. Memang Eska tampak biasa saja kepada ayahnya, sopan seperti anak ke ayah biasanya, tetapi di dalam hati Eska tidak merasa memiliki ikatan batin dengan ayahnya. Ada jarak pada hati Eska dengan ayahnya.

Eska membenarkan perkataanku. Ia mengaku bahwa itu sangat bertolak belakang dengan adiknya yang begitu intim kepada ayah dan ibunya. Eska bersaudara dua, ia anak pertama. Eska lalu bercerita bahwa dulu ketika ibunya sedang mengandungnya, ibunya sedang memiliki masalah dengan ayahnya. Namun ketika mengandung adiknya, ibu dan ayahnya sudah lebih berdamai.

Sambil menyimak curhat Eska, aku terdiam karena mengagumi penciptaan manusia. Malam itu aku menjumpai bahwa ternyata urusan penciptaan manusia bisa sehalus dan sedalam itu. Aku benar-benar kagum.

Nafas Hidup Suami

Secara pribadi aku berpendapat bahwa ayah Eska gagal menjalankan tugas sebagai ayah. Secara pribadi pula aku tidak mau kelak anakku mengalami hal seperti Eska, merasa batinnya berjarak dengan ayahnya. Aku mau kelak batin anakku erat dengan ayah dan ibunya.

Hal yang pernah Ibu ceritakan dan yang dialami Eska mengungkapkan pentingnya seorang suami menjaga perasaan istrinya. Dan terjaganya perasaan sang istri oleh suami menurutku bukan perkara satu-dua malam dapat terjadi. Itu adalah buah dari perilaku-perilaku, sikap, cara pandang yang dijalani sejak waktu-waktu sebelumnya. Sehingga anak, termasuk kondisi batinnya, adalah efek dari perpaduan laku hidup antara suami dan istri. Lagipula, bukankah ketenangan psikis seorang ibu menyebabkan lancarnya ASI untuk bayinya?

Suami-istri punya anak atau tidak adalah hak prerogatif Mahapencipta. Ketidaktahuan akan punya anak atau tidak apakah layak menghalangi sang suami menjaga perasaan sang istri? Maka dengan demikian tugas seorang suami adalah menjaga perasaan sang istri. Tentu idealnya adalah saling menjaga. Sehingga menjaga perasaan sudah menjadi kebiasaan sejak awal. Nafas hidup.

Faktor “X”

Penyebab perselisihan dapat terjadi minimal oleh dua orang atau pihak. Menurutku kedua pihak dapat berselisih paham ketika satu pihak berpegang pada nilai yang cenderung menjauhi Tuhan, sedangkan pihak lainnya berpegang pada nilai yang lebih dekat dengan Tuhan. Orang-orang yang bersatu karena nilai kedua yang kusebut tadi kurasa akan sangat kecil potensi perselisihannya, jika pun ada tentu sangat mudah berdamainya. Hal sebaliknya akan terjadi pada orang-orang di lingkup nilai pertama.

Aku memang belum tahu persis masalah macam apa di antara suami-istri yang dapat menyebabkan munculnya kondisi anak seperti Eska karena memang aku belum berkeluarga. Tapi, ijinkan aku meraba bahwa masalah yang muncul antara suami-istri dapat berawal dari penyebab mereka memutuskan hidup bersama. Faktor apakah yang menyebabkan mereka menikah? Faktor keindahan rupakah? Faktor kekayaankah? Faktor status sosialkah? Ataukah jenis faktor lain yang bersifat tidak abadi, tidak esensial, sehingga faktor penyatu tersebut mudah hilang di kemudian hari lalu menimbulkan masalah?

Kalau memang faktor kedekatan dengan Yang Mahaabadi menjadi pertimbangan lelaki dan perempuan hidup bersama, aku menyangsikan akan lahir anak yang tidak erat batinnya dengan kedua orangtuanya. Karena jalan keluar masalah akan pasti ada tanpa harus melahirkan anak yang cacat hubungan batin dengan orangtuanya, sebagai wujud cinta-Nya kepada orang-orang yang bersatu karena-Nya.

Lalu cara berpikir macam apa yang dapat melahirkan faktor pertimbangan penyatu pasangan? Pembaca tulisan ini tentu tidak akan pura-pura tidak tahu jawabannya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s