Cinta Itu Sendiri #1

Standar

“mungkin kutemui cinta sejati saat aku hembuskan nafas terakhirku

mungkin cinta sejati memang tak ada dalam cerita kehidupan ini”

(Dewa, Arjuna)

Di sela kerjaan mendengar potongan lirik karya Dhani Ahmad Prasetyo tersebut aku teringat kisah Fir’aun yang mengakui Tuhan saat menghembuskan nafas terakhirnya menjelang ia ditelan air sungai yang menyatu kembali setelah terbelah.

Rasanya, kok, aku sering menjumpai topik kesejatian itu terkait dengan mati. Tapi, lupa dalam bentuk apa persisnya aku menjumpainya. Belakangan kusimak lagi potongan sajak yang masih senafas dengan hal itu:

“…

Sejak semula telah kuikrarkan

Cuma Engkau sajalah yang kudambakan

Dengan sangat kumohonkan tidur abadi

Agar kumasuki bangun yang sejati”

(Tidur Hanya Bisa Padamu, Emha Ainun Nadjib)

Kalau memang benar cinta membuat seseorang ingin berdekat-dekat dengan yang ia cintai, maka tidak mungkin lagi bukan cinta jika Tuhan menyebut setiap nyawa pasti kembali pada-Nya.

Mati itu cinta? Cinta itu mati? Itu cinta mati?

Pada suatu sudut pandang yang belum sempat kutuliskan aku menemukan bahwa Tuhan itu, ya, cinta itu sendiri.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s