Maktub (Cinta Itu Sendiri #2)

Standar

Maktub. It’s written. Sudah tertulis. Ungkapan itu tidak asing bagi penyimak kisah pemuda bernama Santiago dalam The Alchemist karya Paulo Coelho.

Telah ditulis oleh Penciptanya, cerita hidup Santiago, pada kisah tersebut. Tentu hal ini tidak berhenti pada kisah fiksi. Bukankah memang cerita hidup manusia telah dituliskan oleh Penciptanya?

Apakah sama cara menuliskan cerita antara penulis cerita fiksi dengan Penulis Cerita Hidup Manusia sesungguhnya? Jika sama liniernya antara Penulis Cerita Hidup Manusia dengan penulis cerita fiksi dalam menuliskan alur cerita, lantas apa gunanya hati dan akal yang Dia berikan pada manusia?

Hati dan akal adalah bekal individu manusia menyikapi pilihan yang terhampar dalam hidupnya. Setiap peristiwa mengandung percabangan pilihan, setiap pilihan memiliki percabangan konsekuensi yang memiliki cabang-cabang pilihan pula. Begitu seterusnya sehingga kalau dilihat dengan pandangan yang lebih luas maka tampak bahwa setiap individu memiliki jalinan kemungkinan cerita hidup seperti jaring-jaring yang tersusun rumit namun rapi.

Itu baru cerita hidup satu manusia. Sedangkan berapa manusia lagi yang Mahapencipta sudah dan akan ciptakan?

Maktub. Telah tertulis. Bukankah sesuatu yang sulit atau rumit dapat terselesaikan, dapat ditangani, sebab terdapat kecintaan dalam menjalaninya?

Maka, pantaskah kita menganggap Mahapencipta dan cinta adalah dua entitas yang berbeda? Tertutupkah kemungkinan bagi kita untuk menyadari bahwa Dialah cinta itu sendiri?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s