Romansweet

Standar

Romantis. Sweet. Itu istilah atau ungkapan yang tidak jarang kudengar dari beberapa teman kantor. Aku juga sering membaca, mencuri dengar, menyimak cerita, tentang sesuatu yang pada akhirnya disebut sebagai romantis atau sweet.

Bagaimana romantis itu? Kapan itu disebut sweet? Sebenarnya secara pribadi aku tidak memiliki penilaian pasti bagaimana itu romantis, bagaimana itu sweet; romantis itu ketika begini, sweet itu ketika begitu. Menurutku penilaian tentang romantis atau sweet tidak datang dari si pelaku romansweet (sebutlah begitu), tapi dari pihak/individu di luar si pelaku romansweet.

Efek Samping

Maka aku lebih melihat romansweet itu sebagai efek samping. Romansweet bukan tujuan. Tujuan utama adalah mengemas komunikasi dengan baik, benar dan indah kepada seseorang/pihak dalam bentuk tindakan, kata, bahasa tubuh, atau segala bentuk kemasan komunikasi lainnya.

Jika itu berupa rangkaian kata, maka rangkaian kata itu adalah pengantar atau kemasan sesuatu yang ingin dikomunikasikan. Jika itu berupa tindakan, maka itulah sebentuk komunikasi yang diantarkan melalui tindakan. Bahwa pada akhirnya kata atau tindakan itu dianggap romantis, sweet, itu hanyalah efek samping. Karena cara berkomunikasi kepada setiap orang yang kita kenali tentu berbeda-beda.

Jangan terlena pada kata, tapi renungkanlah pesan yang disampaikan oleh kata. Kata-kata hanya pengantar hal yang ingin dikomunikasikan. Toh, kata-kata juga belum tentu memiliki presisi yang tepat tentang pesan yang ingin dikomunikasikan. Karena ternyata bahasa tidak sanggup menjelaskan kehidupan.

Secangkir Teh, Cokelat, Puisi, Sentuhan, Foto

Sepertinya, kok, aku banyak tidak sepakat dengan romansweet menurut kebanyakan orang, ya? Nggak gitu juga sebenarnya. Oke, coba kita ambil contoh. Seorang suami membuatkan secangkir teh hangat untuk istrinya yang baru saja pulang ke rumah saat sore hari setelah seharian berkutat dengan birokrasi jaminan perawatan rumah sakit bagi anak mereka. Sambil sang istri menyeruput teh hangat, sang suami memijiti pundak istrinya. Is that sweet? Terserah anggapanmu. Tapi, menurutku memang begitulah seharusnya suami memperlakukan istrinya.

Ada lagi tentang anggapan yang kurang lebih begini bunyinya: udah nggak jamannya lagi romantis dengan cokelat, puisi, bunga, dan lain sejenisnya. Lho, jadi bagi mereka cokelat, puisi, dan bunga itu romantis? Aku curiga, jangan-jangan itu karena kemampuan bersastra mereka tidak terasah sehingga mudah melihat puisi itu rangkaian kata-kata remeh. Aku mengambil jarak, jangan-jangan itu karena mereka memberi cokelat atau bunga sebab ikut-ikutan supaya disebut romantis.

Tadi sudah kusebutkan tentang kewaspadaan terhadap kata-kata. Maka, puisi yang baik untuk diberikan kepada seseorang adalah pandangan jujur kita terhadap orang tersebut. Bahwa merangkai kata-kata yang enak dan pas itu ibarat kita mengenakan kemeja dengan baju dikancing, bukan kemeja dengan dikalungkan di leher. Ngerti maksudnya analogi kemeja tersebut, kan? Pun begitu dengan benda atau hal lain sebagai wujud pemberian untuk seseorang. Itu bukan urusan meromantis-romantiskan sejak masih dalam niat, tapi tentang kejujuran yang ingin diungkapkan dengan kemasan seperti itu.

Satu contoh lagi, aku pernah disebut sweet oleh seorang teman perempuan karena menjadikan foto bayi keponakanku sebagai gambar latar layar smartphone-ku. Oh, jadi yang begitu itu sweet, ya? Om yang sweet, gitu? Bagiku memasang foto bayi keponakanku menjadi latar layar smartphone adalah salah satu caraku untuk selalu mengingatkan diriku sendiri bagaimana aku harus jatuh cinta, tentang bagaimana aku harus menjaga diri, cara pandang, sikap jika aku jatuh cinta. Karena aku benar-benar kagum pada kehalusan dan kedalaman peristiwa penciptaan manusiaI don’t think about “sweet”.

Ya, bagiku romantis atau sweet bukan tujuan. Itu hanya efek samping dari bagaimana seseorang/pihak memperlakukan sesuatu/seseorang/pihak lainnya dengan baik, benar, dan indah.

Pendaki gunung makan malam dengan diterangi cahaya lampu headlamp. Headlamp light dinner. Menurutku itu romantis. *foto: instagram @parapejalan.

Pendaki gunung makan malam bersama dengan diterangi cahaya senter kepala. Headlamp light dinner. Nah, itu baru romantis.
*foto: instagram @parapejalan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s