#Sumatera

Standar

Makin miris dengan asap yang mengepung Sumatera dan Kalimantan. Khususnya Sumatera, karena bagiku pernah tinggal di Sumatera adalah pengalaman penting.

Koran hari ini di meja depan rumah menampilkan headline dengan foto bandara Sultan Mahmud Badaruddin II (SMB II) di Sumatera Selatan tertutup kabut asap yang sangat menghalangi pandangan mata. Bahkan sudut pandang foto tersebut diambil dari mana juga tidak jelas kulihat. Itu gila.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Aku jadi mengingat lagi penugasan kerjaku di Prabumulih, Sumatera Selatan pada 2009 lalu. Pesawatku mendarat di bandara SMB II, Palembang dalam kondisi cuaca cerah. Lalu kulanjutkan dengan perjalanan darat sekitar 2-3 jam menuju Prabumulih.

Clue atau Kebetulan?

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Headline koran hari ini menampilkan foto Bandara SMB II pada hari Jum’at, 23 Oktober 2015, kemarin. Nah, kemarin Jum’at juga di kantor ada seorang teman gadis, namanya Dian, membuat makanan khas Palembang: pempek. Dian yang asli Palembang, tepatnya Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), menyanggupi permintaan beberapa teman pada suatu makan siang untuk membuat pempek di kantor. Beberapa teman termasuk aku membantunya membuat pempek hingga terhidang. Dan memang enak pempek bikinan Dian.

Ketika di dapur itu aku ingat hal-hal sewaktu tinggal di Sumatera Selatan. Antara lain tentang bahasa derah, makanan, dan bandaranya: SMB II. Apakah pada Jum’at kemarin itu ada hubungannya dengan pada akhirnya aku diperlihatkan pemandangan mengejutkan tentang bandara SMB II di koran Sabtu dan kabar terkini Sumatera? Apakah itu clue bagiku atau cuma kebetulan saja? Hmm…

Ya, sekali lagi: miris. Sumatera yang dulu berhasil membuatku seketika jatuh cinta pada bentang alamnya, udaranya, hijaunya, hidangannya, kini sedang diselimuti asap yang mengancam nyawa penduduknya.

Tentu Tuhan tidak akan diam saja kepada siapa pun yang terlibat pembakaran dan pembiaran budaya bakar-membakar lahan-hutan hingga merugikan kesehatan orang banyak. Tuhan tidak tuli akan suara hati yang mengadu dari nyawa-nyawa yang terusik hingga terancam karena hadirnya asap akibat perusakan alam.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s