Melambatkan Frekuensi #2

frekuensi
Standar

Itu pemandangan tadi sore di jalan yang kulewati sepulang kerja. Tepatnya jalan I Dewa Nyoman Oka, Kotabaru, Yogyakarta. Aku suka lewat sini karena jika sore sedang cerah maka aku mendapati pemandangan menawan matahari jelang sunset.

Sering aku terpikir untuk melintasi jalanan yang sering kulalui dengan kendaraan bermotor dengan berjalan kaki. Sederhananya, aku cuma ingin melihat dengan lebih lambat dan lebih dekat sesuatu yang biasanya kulihat dengan cepat. Kurasa memang harus disempatkan, misal jalan kaki dari rumahku di dekat Malioboro sampai kantor di timur Monumen Jogja Kembali.

Bukan tidak mungkin pada sesuatu yang biasa kita lihat dari frekuensi perputaran roda yang cepat terdapat hal atau pemandangan menarik. Minimal, kamu bisa bilang, “Oo… Ternyata unik juga bentuk bangunan rumah yang biasa kulewati ini,” atau “Lho, pohon besar ini ada buahnya ternyata. Biasanya aku numpang berteduh di bawah pohon ini setiap lampu merah traffic light menyala.”

Maka, melihat dalam frekuensi lambat dapat memberi semacam rekreasi bagi cara pandang kita. Ya, hidup terlalu indah untuk dilalui dengan frekuensi gerak yang terus-terusan tinggi.

Bukankah hidup ada perhentian? Tak harus kencang terus berlari. Kuhelakan napas panjang ‘tuk siap berlari kembali, begitu kata band Padi dalam salah satu liriknya. Dan bukan tidak mungkin keputusan-keputusan besar dan berani dalam hidup lahir dari kegiatan melambatkan frekuensi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s