Berguru

instagram.com/erteha_
Standar

Malam, malam ini. Buku ini. Menutup sebagian galauku akan pengembangan website.

Malam, sepuluh hari sebelum tanggal ulang tahun masehiku pada bulan terakhir 2013, aku mendengar puisi ini pertama kali dibacakan oleh penulisnya, Emha Ainun Nadjib. Puisi demi puisinya ia bacakan diiringi Gamelan Kiai Kanjeng. Merinding aku di akhir pertunjukan. Seperti ada daya magis yang muncul dari penataan cahaya, suara, dan gerak. Mungkin sejak itulah kesadaranku tentang seni pertunjukan iseng-iseng mulai tumbuh.

Salah satu yang berkesan kuat bagiku hari ini adalah puisi pertama yang Emha bacakan malam itu, “Tuhan, Aku Berguru Kepada-Mu”. Aku meraba, untuk tidak menyebut menemukan, bahwa konsep berpikir menjadikan Tuhan sebagai guru akan melesatkan manusia pada hal yang disebut pencapaian. Orang akan diperjalankan mengenal hingga menguasai suatu ilmu.

Bukankah ketika Muhammad dipeluk sayap Jibril di Gua Hira’ Jibril menyebutkan bahwa Tuhan, “Yang mengajarkan manusia apa yang tak diketahuinya”? Maka, siapakah sejatinya guru manusia yang mampu mengajarkan hingga memahamkan? Jawaban kembali pada diri masing-masing.

Beberapa tahun kemudian pohon ketidakinginan menghamba kepada gelar akademis tumbuh hampir subur di pekarangan pikiranku. Aku betah di bawah rindangnya. Meneduhkan dari teriknya kesempitan dan sengatan kebodohan. Menyejukkan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s