Melihat Hidayah Bekerja

Standar

Lagu. Suatu malam aku ke Indomaret dekat rumah dan sudah biasa kalau di sana terdengar lagu atau siaran radio dari speaker di sudut-sudut ruangan. Malam itu aku dengar satu lagu yang mengingatkanku pada obrolan empat tahun lalu dengan seorang rekan kerja, mbak-mbak perawat, waktu aku masih bekerja di lingkup rumah sakit. Obrolan kami jadi nyambung gara-gara sama-sama suka nulis. Aku waktu itu sudah menerbitkan satu buku, sedang dia sudah mengirimkan naskah ke salah satu penerbit ternama di Jogja namun belum ada kejelasan diterbitkan.

Lagu yang kudengar di Indomaret malam itulah yang dulu sayup terdengar di ruang apotek rumah sakit tempat kami ngobrol. Di tengah obrolan kami dia menyela, “Aku suka, nih, lagu ini. Bagus temanya,” sambil ia melanjutkan catatan tugasnya. Kupikir waktu itu lagu apa pun urusannya adalah asal enak didengar, sebagai komoditas jualan musisi dan label rekaman.

Di Indomaret malam itu rasanya beda dengan empat tahun lalu mendengarnya. Rasanya jadi paham perkataan Nita, nama mbak perawat itu, dan… iya, kupikir bagus juga tema yang dimuat liriknya. Akhirnya lagu jadi terasa enak didengar. Keluar dari Indomaret kepikiran, “Kok aku baru nyadar ya?” dan sampai pada pertanyaan: apa seperti ini cara hidayah datang? Dia adalah hal yang sudah ada sejak lama, tapi baru pada titik momentum tertentu kita baru menyadari kebenarannya.

Sepulangnya di rumah kubuka Tasawuf Modern -nya Buya Hamka. Dan pada pembahasan tentang hidayah Buya Hamka menyebut hidayah terdiri atas tiga perkara: Pertama, mengerti mana jalan yang baik dan mana jalan yang jahat; Kedua, kemajuan yang ditempuh seorang hamba Allah lantaran pertambahan ilmu dan pengalamannya; Ketiga, itulah cahaya yang gemilang di alam nabi-nabi dan waliullah.

Hmm… Kalau merujuk Buya Hamka kemungkinan besar posisiku pada perkara kedua. Maka Nita lebih dulu memiliki pemahaman cara pandang dalam tema lagu malam itu di Indomaret. Kurasa malam itu aku melihat gambaran bagaimana hidayah bekerja.