Pentingnya Hubungan Manusia Dalam Perusahaan Rintisan

Standar

Bendera di Tiang Rapuh

Sajak di atas kutulis tak lama setelah perkenalan langsungku dengan suatu perusahaan rintisan ternama asal Kota Gudeg. Tentu karena alasan etika tidak kusebutkan namanya. Sebut saja Startup X. Belasan tahun situsnya menjadi rujukan di kategorinya.

Agak panjang sebenarnya yang ingin kutulis tentang ini, tapi mungkin baru sempat beberapa waktu nanti. Intinya, ada yang tak kalah penting dengan urusan yang selama ini sering kubaca seperti pendanaan perusahaan rintisan (mandiri atau venture capital), keunikan produk, atau desain; yaitu hubungan manusia dalam lingkungan kerja.

Pergantian karyawan di Startup X ini sangat cepat. Tidak ada karyawan yang bertahan sampai dua tahun, sejauh cerita yang kudapat dari para karyawan yang sampai saat ini masih bertahan. Penyebabnya, setelah dari yang kuperhatikan, adalah dari sikap owner-nya yang berhadapan langsung dengan para karyawan.

Tidak ada struktur organisasi dalam Startup X. Owner membawahi langsung para stafnya. Tidak ada kegiatan brainstorming duduk bersama dengan staf terkait untuk penerbitan konten situs. Tidak ada bahasa yang enak didengar atau persuasif dari si owner dalam pembicaraan offline maupun online. Tidak tercipta suasana diskusi dengan pikiran yang terbuka antara owner dan content writer. Maka yang ada adalah para staf yang memendam gerutu terhadap si owner. Owner selalu memaksakan kehendaknya kepada staf tanpa memperhatikan suasana yang terjadi di lapangan sebenenarnya.

Singkatnya, si owner menjadi jenis manusia yang disenangi karena ketidakberadaannya. Sekali lagi: manusia yang disenangi karena ketidakberadaannya. Suasana kantor (rumah dua tingkat, atas rumah bawah kantor) menjadi ceria dan hidup ketika si owner sedang pergi. Menurutku itu bukan suasana kerja yang sehat.

Kuakui rekam jejak perusahaan Startup X bagus secara eksternal, ibarat bendera di tiang tinggi yang kibarnya dapat dilihat dari segala arah. Konten situsnya pun sangat bermanfaat. Tapi, sebenarnya perusahaan itu tidak memiliki kekuatan secara internal yang solid. Solid di sini yang kumaksud adalah dedikasi para personelnya dalam pekerjaan. Maka Startup X ini kuibaratkan bendera berkibar di tiang yang rapuh. Semakin bendera itu kuat ditiup angin maka cepat atau lambat ia pasti jatuh.

Semakin hidup komunikasi internal, semakin baik perusahaan tersebut. Menurutku. Kerjasama internal dalam perusahaan menjadi kunci penting sebelum menghasilkan produk yang bermanfaat bagi publik. Penghargaan bukan dicari, tapi mengikuti rekam jejak perusahaan kita.

Tulisan di atas belum menampung sepenuhnya yang kumaksud tentang Startup X ini. Nanti kalau ada waktu akan kuceritakan lebih jelas. Ini pelajaran penting bagiku sebagai wawasan tentang perusahaan rintisan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s